in

Musim Kemarau Diprediksi Lebih Kering, Pemkot Semarang Bagikan Tips Jaga Kesehatan dan Siapkan Antisipasi Kekeringan

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026, Pemerintah Kota Semarang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak cuaca panas yang berpotensi memengaruhi kesehatan maupun ketersediaan air bersih.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kota Semarang, akan memasuki puncak musim kemarau dalam dua bulan ke depan. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibanding biasanya.

Sekretaris Daerah Kota Semarang, Handi Priyanto, mengingatkan masyarakat agar menjaga kondisi tubuh tetap prima di tengah suhu udara yang semakin menyengat, terutama saat beraktivitas pada siang hari.

Ia mengimbau masyarakat memperbanyak konsumsi air putih agar tubuh tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta rutin berolahraga untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Jika beraktivitas di luar ruangan, sebaiknya menggunakan topi atau pelindung kepala agar terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung. Gunakan pakaian yang ringan dan longgar, hindari pakaian berwarna gelap karena lebih mudah menyerap panas, serta gunakan sunscreen untuk melindungi kulit,” ujar Handi, Senin (6/7/2026).

Selain cuaca panas pada siang hari, Handi juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai fenomena bediding, yakni suhu udara yang turun cukup drastis pada malam hingga dini hari saat musim kemarau.

Menurutnya, perubahan suhu yang cukup ekstrem dapat memengaruhi kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit tertentu.

“Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan diimbau segera berkonsultasi dengan tenaga medis atau memanfaatkan fasilitas kesehatan yang telah disediakan Pemerintah Kota Semarang,” katanya.

Untuk menjaga kesehatan masyarakat, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat berbagai program promotif dan preventif. Di antaranya edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh puskesmas dan kader kesehatan, pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas maupun rumah sakit, serta peningkatan kewaspadaan dini terhadap potensi wabah penyakit.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga menjalankan program Piterpan (Pelayanan dan Edukasi Kesehatan Terpadu Kota Semarang) yang menyasar pelajar SMP dan SMA melalui kegiatan senam, edukasi kesehatan, skrining kesehatan, hingga pelatihan penanganan kegawatdaruratan dasar.

Program serupa juga dilaksanakan melalui kegiatan Lawang Sewu yang ditujukan bagi masyarakat umum sebagai upaya meningkatkan kesadaran hidup sehat.

Handi memastikan layanan kesehatan di Kota Semarang tetap siaga selama musim kemarau. Saat ini, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan melalui 40 puskesmas, dua rumah sakit daerah, yakni RSUD KRMT Wongsonegoro dan RSUD Mijen, serta 16 unit ambulans kegawatdaruratan yang beroperasi selama 24 jam.

“Kami terus memprioritaskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kota Semarang agar tetap optimal, terutama dalam menghadapi berbagai potensi dampak musim kemarau,” tegasnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang telah memetakan sedikitnya 20 wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dengan kategori sedang selama musim kemarau tahun ini.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengatakan daerah yang perlu mendapat perhatian antara lain berada di Kecamatan Tugu, Ngaliyan, Gunungpati, Mijen, Tembalang, Pedurungan, dan Genuk.

Wilayah tersebut meliputi Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Randugarut, Tugurejo, Podorejo, Wates, Gondoriyo, Ngadirgo, Wonolopo, Kandri, Sekaran, Kalisegoro, Jatirejo, Kedungpane, Bulusan, Rowosari, Meteseh, Tlogomulyo, Bangetayu, Karangroto, serta sejumlah wilayah lainnya yang berpotensi mengalami penurunan ketersediaan air bersih.

Mengantisipasi kondisi tersebut, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pemantauan wilayah rawan secara berkala, koordinasi intensif dengan BMKG, hingga penyaluran bantuan air bersih menggunakan mobil tangki apabila diperlukan.

Selain itu, BPBD juga menyiapkan logistik kebencanaan serta memperkuat koordinasi dengan PDAM, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila kekeringan meluas.

“Kami terus memantau perkembangan kondisi di lapangan. Apabila terjadi krisis air bersih, distribusi bantuan akan segera dilakukan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Endro.(HS)

Hadiri DAD Kolosal IMM, Kapolres Tekankan Sinergi Mahasiswa Jaga Kamtibmas

Lewat Teknologi ini, Tambak Udang Milik Pemprov Jateng Sukses Panen di Tengah Kawasan Industri