ADA dua hal yang tampaknya sulit dipisahkan dari Kota Semarang: banjir ketika hujan deras, dan topik baru di media sosial setiap kali matahari terbit. Bedanya, banjir masih menunggu awan datang. Kalau isu pemerintahan, bahkan cuaca cerah pun bisa panen bahan diskusi.
Setiap hari linimasa bekerja tanpa perlu disuruh. Pagi membahas pelayanan publik. Siang bergeser ke proyek pembangunan. Sore muncul video baru yang mengundang tanda tanya. Malam berganti rumor soal manuver orang dekat kekuasaan. Esok paginya, topik lama belum selesai, sudah hadir topik pengganti.
Algoritma media sosial pasti senang tinggal di Semarang. Ia nyaris tidak pernah kekurangan bahan bakar.
Menariknya, sebagian besar isu itu tidak lahir dari ruang kosong. Ada keluhan warga, ada pelayanan yang dianggap kurang memuaskan, ada pembangunan yang dipersoalkan dampaknya terhadap lingkungan, ada banjir yang terus menjadi langganan, ada rob yang masih mampir tanpa perlu undangan, sampai berbagai kebijakan yang kemudian diperdebatkan di ruang publik.
Begitu ramai perbincangannya, kadang media sosial terasa lebih sibuk daripada ruang rapat pemerintahan. Warga bergantian menjadi analis, editor, ahli tata kota, pengamat anggaran, hingga komentator politik. Bedanya, mereka bekerja tanpa honor, hanya bermodal kuota internet dan secangkir kopi untuk menjaga akal sehat.
Lucunya, setiap kali satu isu mulai mereda, muncul isu lain yang datang tepat waktu. Semarang seolah memiliki kalender sendiri. Har ini bisa diisi keluhan pelayanan. Besok bergeser ke pembangunan. Lusa muncul cerita baru. Hari berikutnya sudah ada episode lanjutan. Kalau dijadikan serial televisi, mungkin sudah mendapat kontrak lima musim sekaligus.
Yang menarik justru respons pemerintah. Kadang ada penjelasan. Kadang ada klarifikasi. Kadang ada bantahan. Namun tidak sedikit pula isu yang dibiarkan berputar sendiri sampai akhirnya membesar atau tenggelam karena digantikan isu berikutnya.
Strategi ini memang unik.
Barangkali ada keyakinan bahwa media sosial punya umur pendek. Hari ini ramai, besok lupa. Minggu depan sudah ada topik baru. Memang benar, internet gampang bosan. Masalahnya, internet juga punya ingatan. Apa yang pernah viral tidak benar-benar hilang. Ia hanya pindah folder.
Begitu muncul persoalan baru, warganet dengan sigap membuka kembali arsip lama. Komentar bertahun lalu ikut dipajang lagi. Foto lama kembali beredar. Video lama muncul lagi dengan judul baru. Internet memang tidak pernah benar-benar tidur.
Di sinilah persoalannya.
Kepercayaan publik bukan dibangun lewat unggahan yang rapi, konferensi pers yang penuh senyum, atau berita buatan staf humas. Kepercayaan lahir ketika warga melihat masalah selesai, pelayanan membaik, dan kritik dijawab dengan tindakan.
Sayangnya, yang sering terlihat justru perlombaan antara kecepatan warga mengunggah keluhan dengan kecepatan pemerintah menyusun narasi.
Padahal narasi punya batas umur.
Genangan air tidak akan surut hanya karena siaran pers ditulis dengan tata bahasa yang baik. Jalan berlubang juga tidak berubah mulus hanya karena kamera mengambil sudut terbaik. Sampah tetap menggunung walaupun foto pejabat sedang memegang sapu mendapat ribuan tanda suka.
Warga sekarang berbeda dengan sepuluh tahun lalu. Mereka memotret, merekam, membandingkan, lalu berdiskusi. Kesalahan kecil bisa langsung menjadi bahan obrolan satu kota. Sebaliknya, keberhasilan juga cepat mendapat apresiasi jika memang dirasakan.
Itulah sebabnya media sosial sebenarnya bukan musuh pemerintah. Ia hanyalah cermin dengan resolusi tinggi. Kadang cerminnya memang menyebalkan karena memperlihatkan jerawat yang ingin disembunyikan. Namun memecahkan cermin tidak akan membuat jerawat ikut hilang.
Yang juga menarik ialah peran legislatif. Beberapa isu akhirnya masuk ruang rapat, dibahas dalam forum resmi, bahkan menjadi bahan evaluasi. Artinya, percakapan warga di media sosial kadang berhasil menyeberang menjadi agenda politik.
Ini pertanda baik.
Demokrasi memang gaduh. Pemerintahan yang sehat memang perlu mendengar suara yang kadang terasa tidak nyaman. Kritik bukan selalu tanda kebencian. Sering kali justru menjadi bukti bahwa warga masih peduli.
Sebab lawan dari kritik bukan pujian.
Lawan dari kritik adalah ketidakpedulian.
Kalau suatu hari media sosial benar-benar sepi membahas Pemerintah Kota Semarang, justru saat itulah alarm perlu berbunyi. Bisa jadi warga sudah lelah berharap. Bisa jadi mereka memilih diam karena merasa suaranya tidak lagi berarti.
Untungnya, Semarang belum sampai di titik itu. Warganya masih cerewet. Masih suka mengomentari proyek, pelayanan, banjir, rob, hingga perilaku pejabat. Kadang berlebihan, kadang lucu, kadang menyebalkan, tetapi itulah denyut kota yang masih hidup.
Maka pemerintah sebenarnya mendapat kesempatan yang sangat murah. Semua masukan datang gratis. Tidak perlu menyewa konsultan mahal. Tidak perlu membuat survei berbiaya besar. Cukup buka media sosial beberapa menit setiap pagi, bahan evaluasi sudah tersedia lengkap beserta kolom komentarnya.
Memang, tidak semua komentar layak dipercaya. Ada yang emosional, ada yang keliru, ada pula yang sengaja memancing keributan. Namun menutup telinga terhadap seluruh kritik juga bukan jalan keluar.
Karena pada akhirnya, kepercayaan publik tidak hilang dalam satu malam. Ia berkurang sedikit demi sedikit, setiap kali persoalan lama datang kembali dengan wajah baru.
Dan ketika pemerintah mulai merasa semua kritik hanyalah suara bising yang akan hilang sendiri, di situlah garis antara percaya diri dan terlalu percaya diri mulai kabur.
Sebab dalam politik pemerintahan, kebal terhadap kritik memang bisa menjadi modal bertahan. Tetapi kalau sudah berhenti mau mendengar, modal itu berubah menjadi masalah.
Lagipula, kebal dan bebal itu beda tipis.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


