in

Bangun Sekolah Humanis, Kemendikdasmen Tekankan Pendekatan Tanpa Kekerasan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti. (Foto : kemendikdasmen.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menegaskan kembali komitmen untuk menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan memanusiakan anak.

Hal itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, saat mengikuti seminar Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar secara hibrida di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Seminar diselenggarakan dalam Rangka Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah.

Dalam seminar bertema “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dalam Rangka Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” ini, Mendikdasmen mengajak seluruh elemen pendidikan, bergerak bersama membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berempati.

Melalui seminar Hardiknas ini, Kemendikdasmen berharap lahir sebuah gerakan nasional yang tidak hanya menyentuh lingkungan sekolah, tetapi juga memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Dengan dukungan regulasi yang kuat, peningkatan kapasitas pendidik, serta keterlibatan aktif orang tua, pemerintah optimistis setiap anak Indonesia dapat tumbuh dan belajar di ruang yang aman, nyaman, dan benar-benar memanusiakan.

Abdul Mu’ti, seperti dirilis kemendikdasmen.go.id,  juga menegaskan bahwa membangun budaya sekolah aman dan nyaman bukan hanya tentang upaya menjalankan aturan administratif.

Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan gerakan bersama untuk menghadirkan pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi.

Selain aspek sosial dan emosional, budaya sekolah yang aman juga mencakup dimensi spiritual.

Setiap murid perlu merasa bebas menjalankan keyakinannya di lingkungan sekolah tanpa rasa takut ataupun diskriminasi.

Menurutnya, pendidikan karakter lahir dari cara sekolah membangun rasa hormat dan penghargaan terhadap setiap anak.

Murid perlu diberi ruang untuk tumbuh sesuai bakat dan minatnya, sementara sekolah hadir untuk mendampingi dan memfasilitasi proses tersebut dengan sebaik-baiknya.

Ia juga menekankan bahwa pendekatan dalam membangun disiplin di sekolah seharusnya tidak bertumpu pada hukuman semata.

Guru didorong untuk lebih memahami latar belakang perilaku murid, bukan hanya melihat apa yang tampak di permukaan.

Dalam pandangannya, sekolah yang aman dan nyaman adalah sekolah yang membuat murid merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya.

“Budaya sekolah yang aman dan nyaman bukan soal sanksi, tetapi bagaimana guru dan murid dapat saling mendengar dan saling menguatkan,” ujar Menteri Mu’ti dalam acara yang digelar secara hibrida di Jakarta, baru-baru ini,

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik, sekaligus memperkuat komitmen bersama lintas sektor.

Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada terciptanya ruang tumbuh yang sehat, aman, dan inklusif bagi setiap anak.

Ia berharap hasil diskusi dalam seminar ini dapat mendorong langkah nyata, baik dalam kebijakan maupun praktik di satuan pendidikan, sehingga seluruh murid di Indonesia dapat belajar dalam lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.

Sementara itu, CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurniawaty Ukkar, mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menghadirkan sekolah yang benar-benar berpihak pada anak.

Menurut Desi, perubahan budaya sekolah harus dimulai dari perubahan sikap orang dewasa di sekitar anak, baik guru maupun orang tua. Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan lingkungan belajar yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan dipercaya.

Seminar ini sekaligus memperkuat implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman beserta pedoman pelaksanaannya.

Tidak sekadar menjadi agenda seremonial, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk membicarakan masa depan pendidikan yang benar-benar berpihak pada anak.

Sekitar 100 peserta hadir secara langsung, terdiri atas perwakilan kementerian dan lembaga, dinas pendidikan wilayah Jabodetabek, mitra pembangunan, hingga komunitas pendidikan.

Sementara itu, lebih dari 5.000 peserta mengikuti seminar secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen dan Save the Children Indonesia.

Peserta daring mencakup kepala sekolah serta guru PAUD dan SD dari ratusan sekolah di berbagai daerah sasaran program Kreasi, mulai dari Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, hingga Maluku Utara. (HS-08)

 

 

Waka Komisi IV DPR RI Minta Kemenkau Tak Mainkan Langgam Sendiri dalam Penangangan Pascabanjir di Pulau Sumatra

Ofero Siapkan Empat Produk Baru Sepanjang 2026, dari E-Bike Petualang hingga Motor Listrik Ojol