HALO SEMARANG – Rangkaian Dies Natalis ke-45 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), terasa begitu istimewa karena menghadirkan tokoh anak muda, aktivis dan sebagai konten kreator di media sosial, Ferry Irwandi dalam acara bertajuk Seminar dan Interaktif Talkshow: The Art of Storytelling, Mengubah Gagasan Menjadi Dampak, Memberi Makna di Era Digital bertempat di Auditorium Pusat UPGRIS, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan seminar nasional ini disambut antusias mulai dari pelajar, mahasiswa, dosen hingga masyarakat. Hal ini, terlihat dengan membludaknya kehadiran peserta yang lebih dari perkiraan awal.
“Alhamdulillah acara seminar nasional dalam rangkaian Dies Natalis ke -45 UPGRIS ini menarik banyak audience untuk ikut bergabung. Dari target awalnya hanya 500 peserta, ternyata yang datang bertambah lagi hingga menjadi 665 orang,” ujar Rektor UPGRIS, Dr. Sapto Budoyo, usai membuka acara.
Dia berharap dari acara tersebut tidak hanya agenda tahunan semata yang diadakan kampus, namun juga dapat menginspirasi generasi muda dan civitas akademika UPGRIS sehingga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Dengan keterampilan bercerita, bisa menyampaikan gagasan yang baik memiliki nilai dan makna, karena dikemas dengan cara menarik, relevan dan sekaligus mencerahkan. Ini sesuai dengan tema UPGRIS Dies Natalis ke 45 ini untuk tetap berkarya dan ikut berkontribusi sehingga berdampak luas dan memberi makna bagi lembaga kita, dengan berpikir logis, kritis diharapkan bisa memberikan manfaat yang benar- benar dirasakan masyarakat, jadi narasi yang memang bisa dipahami semua kalangan,” katanya.
“Acara ini juga menjadi ruang belajar tapi ruang referensi, bagi civitas akademika, memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” lanjut dia.
Sementara, Ferry Irwandi saat memaparkan materinya, dengan sebuah ungkapan dari Steve Jobs, the most powerful man on this world is storyteller.
“Gitu ya. Artinya apa? Ngecap tuh apa ya bahasanya apa ya? Jago ngomong gitu ya. Kalau lu jago ngomong nih ya mau lu omongin benar atau enggak itu memperngaruhi orang lain. Itu inti komunikasi itu kan menciptakan realitas untuk orang lain,” beber Ferry.
Menurut Ferry, jika potensi manusia itu lebih kaya dari teknologi AI.
“Kalau AI itu kan pakem pakemnya sudah ada dan diulang-ulang. Nah, itulah kenapa kita perlu belajar storytelling. Agar gagasan kita lebih mudah sampai ke audience,” ujarnya.
Dia pun sharing meski terbatas beberapa kendala karena menderita dysleksis.
“Language itu sulit banget bagi saya, jadi kalau itu misalnya. Dan cara -cara otak saya berpikir itu lompat lompat,” katanya.
“Padahal karir saya dibangun videografi, color grading dan editing. Tapi saya bisa berbicara disini. Karena terus latihan, latihan dan latihan dan menikmati semua prosesnya. Enggak ada yang mustahil. Makanya kalau ada yang tertarik juga lakuin aja bisa sampai sekarang,” paparnya.
Dia juga memberikan tips dan semangat untuk terus berlatih. “Jadi latihan 10.000 kali latihan jatuh bangun harus tetap dilakukan. Jangan takut sama orang yang bisa punya 10.000 kali tendangan tapi takutlah sama orang yang melatih satu tendangan 10.000 kali,” pungkasnya. (HS-06)


