SORE belum benar-benar jatuh ketika pelataran Parkir Timur Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu, Kabupaten Kendal mulai sesak oleh lautan manusia. Ribuan warga berbaur, menyusuri lapak demi lapak yang berjejer rapat, Selasa (17/2/2026). Aroma jajanan tradisional bercampur dengan riuh tawa pengunjung—pertanda satu hal: Ramadan sudah di depan mata.
Inilah Thukudher, tradisi tahunan yang telah lama menjadi penanda datangnya bulan suci bagi warga Kaliwungu dan sekitarnya. Lebih dari sekadar pasar dadakan, Thukudher adalah ritual kolektif yang selalu dinanti, sebuah perayaan rasa, ingatan, dan kebersamaan.
Berlokasi strategis di dekat Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau Alun-alun Kaliwungu, Thukudher menjadi magnet tak hanya bagi warga lokal, tetapi juga pengunjung dari luar daerah. Nama Thukudher sendiri telah melekat kuat dalam ingatan masyarakat Kendal, begitu pasar jajan ini digelar, artinya hitungan hari menuju puasa semakin dekat.
Lapak-lapak pedagang menyuguhkan aneka jajanan tradisional yang kini mulai jarang ditemui. Ada sumpil, nasi berbentuk kerucut yang dibungkus daun bambu, sederhana namun kaya rasa. Ada pula ndog mimi, telur ikan mimi yang dimasak dengan parutan kelapa, kudapan khas yang hampir tak pernah absen dari Thukudher.
Tak berhenti di situ, pengunjung juga dimanjakan dengan getuk, gendar pecel, sate aneka rupa, hingga minuman segar seperti kolak dan minuman rakyat lainnya—menu-menu yang identik dengan suasana berbuka puasa.
Namun, bagi banyak orang, datang ke Thukudher bukan semata urusan perut. Ia adalah bagian dari tradisi yang tak tergantikan.
Mia, warga Kaliwungu, mengaku selalu menyempatkan diri hadir setiap tahun.
“Sudah rutin tiap tahun ke sini. Memang sengaja datang untuk beli makanan khas, terutama sumpil. Rasanya kurang afdal menyambut Ramadan kalau belum jajan di Thukudher,” ujarnya sambil tersenyum.
Menjelang waktu salat Maghrib, pengunjung masih terus berdatangan. Pasar Jajan Rakyat Thukudher ini memang digelar hingga sore, memberi kesempatan warga membawa pulang aneka hidangan untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Digelar oleh Yayasan Masjid Besar Al Muttaqin Kaliwungu, Thukudher tak hanya menjadi sarana syiar Ramadan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi kreatif warga sekitar. Di balik hiruk pikuk transaksi dan antrean pembeli, tersimpan makna yang lebih dalam: menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan menyambut Ramadan dengan rasa syukur.
Di Kaliwungu, Ramadan tak pernah datang tiba-tiba. Ia selalu diawali dengan Thukudher—pasar jajan yang menghidupkan kenangan, rasa, dan harapan.(HS)