HALO SEMARANG – Perayaan 80 tahun atau Dasawindu SMA Kolese De Britto pada 2028 menjadi momentum istimewa bagi komunitas pendidikan yang dikenal melahirkan banyak tokoh bangsa ini. Bagi De Britto, usia 80 tahun bukan sekadar perayaan, melainkan ajang refleksi perjalanan panjang sekaligus langkah penegasan arah masa depan sebagai lembaga pendidikan berlandaskan nilai-nilai Ignatian.
Tak hanya merayakan, Dasawindu juga menjadi saat untuk berbenah. Pembenahan dilakukan bukan hanya pada aspek pelayanan, tetapi juga pembaruan sarana dan prasarana agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Sejumlah renovasi fisik tengah dipersiapkan dan ditargetkan rampung tepat pada perayaan Dasawindu, 19 Agustus 2028.
Ketua Yayasan sekaligus Rektor De Britto, Romo Sugiyo Pitoyo SJ, mengatakan bahwa pihaknya ingin melibatkan para alumni dan berbagai pihak untuk turut serta dalam pembenahan tersebut.
“Yuk kita membangun, inilah hasil kecintaan kita terhadap De Britto,” ujar Romo Pit di ruang kerjanya.
Menariknya, Romo Pit bukan lulusan De Britto. Imam asal Bedono, Kabupaten Semarang, ini baru menjabat sebagai rektor sejak 2024, setelah 33 tahun menjalani tugas di Thailand, Filipina, dan Amerika Serikat.
“Saya percaya ruang itu membentuk orang. Karena itu, saya ingin sekolah ini menjadi ruang belajar yang nyaman dan aman bagi pendidikan,” tuturnya.
Sebagai salah satu SMA terbaik di Indonesia, De Britto menghidupi Spiritualitas Ignatian yang berakar pada empat semangat dasar: Ad Maiorem Dei Gloriam (Demi Kemuliaan Allah yang Semakin Besar), Man for and with Others (menjadi pejuang bagi sesama), Magis (semangat menjadi lebih), dan Finding God in All Things (menemukan Tuhan dalam segala hal). Nilai-nilai ini diperkaya dengan prinsip 1L + 5C: Leadership, Competence, Compassion, Conscience, Commitment, dan Consistency—nilai-nilai fundamental yang menjadi napas keseharian civitas akademika De Britto.
Dalam memimpin, Romo Pit menekankan pendekatan personal atau cura personalis, yakni perhatian terhadap pribadi demi pribadi. Melalui pendekatan ini, ia berupaya mengenal setiap guru, karyawan, dan siswa secara dekat.
Pembenahan sarana fisik yang akan dilakukan juga menyesuaikan dengan kebutuhan siswa masa kini.
“Anak-anak sekarang berpostur tinggi dan besar, tentu membutuhkan ruang yang lebih luas dan layak,” ungkapnya, didampingi Kepala Kantor Yayasan De Britto, FX Catur Supatmono.
Bagi Romo Pit, keistimewaan De Britto terletak pada spiritualitas yang hidup, bukan sekadar tradisi.
“Apapun yang dilakukan di sini selalu untuk memuliakan Tuhan. Semangatnya adalah pelayanan bagi siapa pun,” katanya.
“Untuk Tuhan, lakukan yang terbaik dan temukan Dia dalam setiap pengalaman, bahkan dalam kegagalan sekalipun. Finding God in All Things—itulah yang membuat De Britto istimewa.”
Romo Pit menegaskan, semangat memberi dan berbagi adalah warisan yang ingin ia tanamkan.
“Yang menikmati hasilnya nanti bukan saya, tapi anak cucu kita. Tak hanya De Britto, tapi juga Jogja, Indonesia, dan dunia. Ketika memberi, itu yang terbaik,” ucapnya penuh keyakinan.
Saat ini, SMA Kolese De Britto memiliki 914 siswa, dengan 57 guru awam, 5 Jesuit, dan 35 karyawan. Setiap tahun, rata-rata 650 calon siswa mendaftar, namun hanya sekitar 300 orang yang diterima. Angka itu menjadi bukti kuat bahwa De Britto tetap menjadi salah satu sekolah menengah paling diminati dan berpengaruh di Indonesia.(HS)