in

Saat Banjir Melanda Semarang, Ada Yang Rindu Mantan

Foto ilustrasi AI.

SEMARANG banjir lagi. Air genangan di jalanan di beberapa wilayah Kecamatan Genuk, Pedurungan, dan Gayamsari macam kolam renang umum tanpa penutup, dan warga sudah hafal ritual tahunan: sepatu basah, jalanan macet, dan keluhan di grup WhatsApp RT yang tak pernah selesai.

Tapi, di tengah guyuran air yang tak kunjung surut, ada bisik-bisik nostalgia di antara warga. Ada yang bilang, “Duh, Mbak Ita kalau masih di Balai Kota, pasti sudah turun ke lokasi, ngomel galak sambil ngatur pompa air.”

Ada pula yang merindukan Mas Hendi, yang konon bisa melobi pemerintah pusat sampai Bendungan Jatibarang muncul dari angan-angan. Ironis, bukan? Kota yang dulu dipimpin dua figur ini masih berkubang air, tapi kenangan akan mereka malah mengapung bak pelampung di tengah banjir.

Mari kita ke Mbak Ita dulu. Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang kini malah “berlibur” di balik jeruji karena terseret kasus korupsi, dulu dikenal sebagai wali kota yang tak kenal lelet. Kerjanya sat set, meski sempat dijuluki Wali Kota Nasi Goreng.

Banjir datang, Mbak Ita sudah di lokasi, lengkap dengan rompi oranye dan sepatu bot, memeriksa genangan di Trimulyo atau Genuksari sambil mengomeli anak buahnya dengan nada yang bikin semua orang buru-buru bergerak.

“Cepat, dong! Air ini nggak bisa disuruh pulang sendiri!” katanya, mungkin sambil melotot.

Data dari situs resmi Pemkot Semarang menyebutkan, pada Oktober 2025, Mbak Ita mendampingi Kepala BNPB Letjen Suharyanto meninjau lokasi banjir, memastikan bantuan pompa air dan peralatan kesehatan sampai ke warga.

Tapi, ya Tuhan, di balik dedikasinya yang cetar, KPK ternyata menemukan “masalah” lain Mbak Ita: diduga main-main dengan dana publik untuk proyek meja-kursi sekolah dan urusan lain yang bikin dompet negara menangis.

Warga Semarang, yang sekarang cuma bisa menatap genangan sambil menyeruput kopi, merindukan energi Mbak Ita. Bukan cuma karena cepat tanggap, tapi juga karena dia punya aura “ibu-ibu galak tapi sayang anak”. Gaya Mbak Ita yang turun langsung ke lokasi banjir, ngobrol sama warga, sambil pastikan pompa air dari BNPB nyala di Kelurahan Genuk.

Sekarang? Pompa air masih ada, tapi entah kenapa airnya kayak ogah pergi, seperti mantan yang masih nongkrong di depan rumah. Ironi yang lucu: dulu Mbak Ita dituduh “mengalirkan” dana ke kantong sendiri, sekarang warga malah berharap dia bisa “mengalirkan” air banjir ke laut.

Sementara itu, di sisi lain kenangan warga, ada Hendrar Prihadi, atau Mas Hendi, yang dulu memimpin Semarang dengan senyum ramah dan kemampuan lobi kelas dewa. Kalau Mbak Ita seperti ibu kos yang tegas, Mas Hendi adalah tetangga yang selalu tahu cara bikin semua orang akur.

Soal banjir, Mas Hendi punya jurus jitu: dia berhasil melobi pemerintah pusat untuk proyek pengendalian banjir, termasuk Bendungan Jatibarang yang kini jadi penyelamat (meski kadang masih kewalahan). Selama dua periode (2016-2021 dan 2021-2022), Hendi dan Mbak Ita—yang waktu itu wakilnya—membangun sistem tanggul dan drainase yang lumayan bikin Semarang tak terlalu “basah-basahan”.

Lucunya, meski Mas Hendi kini tak lagi menjabat, warga Semarang masih menyebut-nyebut namanya setiap kali banjir datang. “Kalau Mas Hendi masih di sini, pasti sudah telepon Pak Menteri, besoknya alat berat datang,” ujar seorang pedagang di Pasar Genuk, sambil menyapu air dari depan tokonya.

Memang, Hendi punya bakat diplomasi yang bikin proyek infrastruktur jalan mulus. Tapi, ya, banjir Semarang ini seperti drama sinetron: selalu balik lagi dengan plot yang sama, tak peduli siapa pemeran utamanya.

Sekarang, mari kita tarik napas dan lihat realitas. Banjir di Semarang bukan cuma soal air yang bandel, tapi juga soal sedimentasi parah di beberapa sungai dan beralihnya fungsi lahan di wilayah Semarang atas yang dulunya merupakan kawasan resapan. Infrastruktur pengendalian banjir yang telah dibangun memang membantu, tapi tak cukup kuat menahan guyuran hujan yang makin ganas.

Pompa air dan tanggul ada, tapi air tetap merajalela, seperti tamu tak diundang yang ngotot masuk pesta. Warga pun cuma bisa pasrah, sambil sesekali melirik foto lama Mbak Ita di lapangan atau gambar Mas Hendi yang terpasang di kaus tukang becak dengan tulisan “Semarang Hebat”.

Di tengah genangan yang tak kunjung surut, nostalgia ini jadi semacam pelarian. Mbak Ita, meski kini tersandung kasus, dulu adalah simbol aksi cepat. Hendi, dengan jaringan lobinya, adalah harapan akan solusi jangka panjang.

Keduanya punya kekurangan, satu terlalu “galak” dan akhirnya terjerat hukum, satu lagi mungkin terlalu sibuk bersalaman dengan pejabat pusat sampai lupa cek warganya kini.

Tapi, warga Semarang tak perlu terus teringat dua mantan: yang satu penuh semangat tapi bikin deg-degan, yang lain kalem tapi kadang terlalu “diplomatis”.

Maka, sambil menatap air yang masih menggenang di Jalan Kaligawe, warga Semarang cuma bisa tertawa getir. Banjir ini seperti cermin: menunjukkan bahwa kota ini butuh lebih dari sekadar kenangan manis tentang Mbak Ita atau Mas Hendi, tanpa harus membanding-bandingkan dengan pemimpin saat ini.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Bank Jateng Sosialisasikan KPR FLPP untuk ASN Pemkab Wonosobo

Menuju Usia 80 Tahun, SMA Kolese De Britto Bersiap Berbenah dan Menatap Masa Depan