DI sebuah lapangan sepak bola desa di Banjarnegara, Jawa Tengah, sorak sorai ratusan suporter meledak, setelah Rizky “Ozil” Yulian, mantan pemain PSIS itu mencetak gol ke gawang lawan. Bukan stadion megah dengan rumput sintetis dan jersey klub profesional, tapi laga itu berlangsung di lapangan yang tak rata, sesekali diselingi kerikil tajam, tempat di mana bola lebih sering memantul daripada menggelinding.
Di tengah hiruk-pikuk itu, juga muncul nama beken lain, Evan Dimas, mantan kapten Timnas Indonesia, Bayu Pradana, Wahyu “Hulk” Prasetyo, dan beberapa pemain bule seperti Ronald Fagundez, dan beberapa nama yang pernah beken lain di liga sepak bola Indonesia.
Kini, mereka kerap terlihat di turnamen-turnamen tarikan kampung (tarkam), kompetisi amatir antar-desa yang lebih mirip pesta rakyat daripada pertandingan resmi.
Bukan karena ingin mencetak banyak gol, tapi karena amplop tebal berisi “uang transport” yang konon mencapai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah per laga, plus saweran dari tuan rumah yang bisa bikin dompet pro terbuka lebar.
Fenomena ini bukan sekadar gosip emak-emak yang menduduki pos ronda, ini menjadi cermin ironis dari sepak bola Indonesia, di mana bintang-bintang profesional rela berguling di lumpur dan lapangan tak berbatas dengan penonton demi tambahan cuan yang kadang melebihi kontrak bulanan mereka. Risiko cedera? pikir nanti lah, yang penting uang jajan istri aman ketika gaji dari tim profesional terlambat beberapa hari.
Tarkam di Indonesia bukanlah barang baru. Kompetisi ini lahir dari tradisi gotong royong desa, di mana warga mengumpulkan iuran untuk hadiah utama, sepeda motor atau kerbau, tergantung kemurahan hati panitia. Belakangan, tarkam berevolusi menjadi magnet uang bagi para atlet pro. Meski hadiah turnamen tak seberapa, pemilik klub atau juragan-juragan kampung lebih berani menggelontorkan uang besar untuk gengsi desanya.
Di tengah gaji Liga 1 yang kerap terlambat karena manajemen yang gak beres, rata-rata Rp 50 juta – Rp 150 juta per bulan untuk pemain top, uang transport tarkam seolah menjadi oase.
Bayangkan, Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per pertandingan bagi pemain bintang, belum lagi bonus gol atau saweran spontan dari penonton yang terpesona melihat idola mereka berlaga di lapangan yang berdempetan dengan warung kopi.
Bagi pemain seperti Evan Dimas, yang baru saja mengumumkan pensiun dari level pro, ini bukan akhir karier, melainkan babak baru, dari jersey Timnas menjadi “raja tamu” di lapangan berpasir. Bahkan Seydou Diakite, anak legenda Timnas Mali memilih jadi ‘Raja’ Tarkam di Indonesia, dengan bayaran Rp 2 juta/bulan.
Transisi yang mulus dari liga profesional ke tarkam ini tak lepas dari kondisi ekonomi atlet kita. Di Jawa Tengah, pusatnya sepak bola rakyat, tim seperti PSIS, Persijap Jepara, dan Persis Solo sering kali bergantung pada sponsor lokal yang tak selalu tebal. Mengharapkan iklan dari money laundry bandar jud1, tak ada akses dan larangan sponsor di jersey.
Pemain pro di sini, meski bergengsi, kerap menghadapi keterlambatan gaji atau kontrak pendek. Masuklah tarkam sebagai penyelamat dompet. Ambil contoh Hari Nur Yulianto, mantan striker PSIS yang saat ini sudah hengkang ke PSPS. Kini, ia kerap ditemui berlaga di turnamen tarkam yang ramai seperti pasar malam. “Ini seperti pulang kampung,” katanya suatu kali, sambil tersenyum lebar setelah mencetak hattrick di Kendal.
Tapi di balik senyum itu, ada hal ironis, seorang bomber Liga 1 yang dulu digaji puluhan juta, kini rela menghindari tackle kasar dari petani tembakau demi Rp 2 juta yang bisa beli beras sebulan.
Bahkan Wahyu “Hulk” Prast, eks-PSIS yang kini memperkuat Dewa United, pernah ikut turnamen tarkam di Kabupaten Semarang, tapi sempat ribut karena wasit desa yang dianggap lebih memperhatikan paras penonton yang cantik daripada pada garis offside.
Fenomena ini tak hanya menyentuh pemain lokal. Bahkan wajah-wajah asing, yang biasanya jadi idola stadion, kini turut meramaikan pesta tarkam. Seydou Diakite, gelandang asal Mali menjadi “raja tarkam” dengan bayaran Rp 2-4 juta per laga. Anak legenda Timnas Mali ini tak segan terbang dari Jakarta ke desa-desa Jawa Tengah, seperti Karanganyar atau Banjarnegara, untuk menggiring bola di lapangan yang lebih mirip savana Afrika daripada Allianz Arena.
“Di sini, sepak bola murni, tanpa agen ribet,” ujarnya dalam wawancara santai, seolah lupa bahwa saweran penonton bisa bikin rekeningnya lebih tebal daripada kontrak Liga 2.
Pemain asing yang datang untuk “menaklukkan” liga kita, justru menaklukkan lapangan berlumpur demi cuan yang lebih cepat cair. Bahkan Cristian “El Loco” Gonzales, pemain naturalisasi yang pernah membela Timnas, juga padat jadwalnya seperti tur rockstar, dari stadion ke sawah, semuanya demi amplop hijau.
Tapi, di balik tawa dan bangga melihat bintang pro berlari menghindari banjir lumpur di lapangan, ada ironi yang lebih dalam. Tarkam, yang seharusnya jadi ajang rekreasi desa, kini jadi arena perebutan talenta.
Suporter tak jarang mengkritik keras pemain klub yang “kabur” ke tarkam, seolah itu pengkhianatan terhadap profesionalisme. Padahal, siapa yang bisa menyalahkan? Saat liga resmi masih bergulat dengan birokrasi dan keterlambatan gaji, tarkam menawarkan kesederhanaan: main, gol, duit—tanpa klausul rumit.(HS)