DI tengah hiruk-pikuk Pasar Sendangmulyo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang yang biasanya ramai, seorang bapak beranak dua menatap lapak daging ayam dengan ekspresi yang lebih miris daripada saat PSIS kalah akibat gol penalti dari tamunya.
“Rp 40 ribu per kilo? Ini ayam apa emas berbulu?” gumamnya sambil menggeleng-geleng, tapi terpaksa harus tetap beli karena ada pesanan untuk “Jumat Berkah”.
Itulah pemandangan akhir September 2025 ini, ketika ekonomi nasional yang katanya resilien malah terasa seperti mobil mogok di tanjakan Gombel. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan hanya 4,9 persen tahun ini, revisi ke bawah dari harapan 5 persen, sementara inflasi merayap naik gara-gara harga pangan yang bandel melonjak.
Di Semarang, kota yang biasanya bangga dengan UMKM-nya sebagai tulang punggung ekonomi Jawa Tengah, kini bisnis kecil-kecilan itu lesu darah, seperti penjual lumpia yang kehabisan isian karena biaya bahan baku melambung tinggi. Atau penjual ayam geprek yang harus menyiasati dagangannya dengan potongan sebesar sate lebih sedikit, agar tetap untung karena menaikkan harga pun tak ada nyali.
Tak perlu jadi ekonom untuk melihat bagaimana UMKM di Semarang sedang bergulat dengan angin kencang ini. Pertumbuhan ekonomi Jateng memang mencapai 5,12 persen di triwulan kedua 2025, tapi itu seperti medali perak yang disembunyikan di balik tumpukan tagihan.
Transaksi Semarang Great Sale (Semargres) 2025 mencapai Rp 597 miliar, katanya, tapi itu hanya pesta sesaat di halaman surat kabar, sementara di pasar-pasar tradisional, penjualan lesu karena konsumen mulai hitung-hitungan seperti akuntan paruh waktu.
Harga kebutuhan pokok yang naik seperti roket tanpa rem. Ambil contoh ayam potong, yang sejak Agustus 2025 melonjak hingga Rp 40 ribu per kilogram di Semarang, naik bertahap dari Rp 30 ribuan. Pedagang di Pasar Peterongan bilang, ini gara-gara pasokan dari peternak yang terganggu panas ekstrem dan biaya pakan impor yang mahal, tapi tetap saja, harga ini membuat rumah tangga biasa berpikir dua kali sebelum masak opor. Saran dari penulis, sementara masak sayur bayam dulu ditemani ikan asin dan sambel trasi.
Dan ini bukan cuma ayam; beras premium merayap ke Rp 16 ribu per kilo. Telur ayam pun ikut naik meski tak ada tangga, mencapai Rp 30 ribu/kg, sementara cabai rawit setan harganya sepedas rasanya, Rp 40 ribu/kg.
UMKM Semarang, yang jumlahnya puluhan ribu, dulu jadi penyangga ekonomi saat pandemi, tapi sekarang lesu karena daya beli masyarakat menurun.
Lihat saja bagaimana warung-warung kecil di kawasan Perumnas Banyumanik mulai tutup lebih awal, karena pelanggan lebih suka masak sendiri daripada beli lauk mahal. Pemerintah bilang ekonomi resilien di tengah dinamika global, tapi bagi warga Semarang, dinamika itu terasa seperti banjir rob yang datang tanpa undangan.
Akhirnya, saat matahari terbenam di Pantai Marina seolah mengingatkan: ekonomi lesu ini seperti cuaca panas yang menyiksa, tapi bisa dilewati dengan kreativitas.
Mari kita dukung UMKM lokal, tetap beli ayam goreng Ranisa di Sambiroto, Tembalang, dan sindir pemerintah dengan senyum. Siapa tahu besok harga turun, atau kita semua jadi vegetarian dadakan.(HS)