in

BMKG Sebut Lindu di Jatim sebagai Gempa Bawean Bukan Tuban

Sumber : twitter.com/DaryonoBMKG

 

HALO SEMARANG – Berbagai peristiwa gempa bumi yang terjadi di Indonesia, ternyata menyimpang beberapa fakta menarik. Hal itu pula yang terjadi pada gempa bumi di kedalaman 10 Km dengan episentrum 5.74 LS dan 112.32 BT, masuk Provinsi Jawa Timur.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono, ternyata tak sependapat dengan anggapan sejumlah pihak tersebut.

Melalui akun twitter.com/DaryonoBMKG, dia menyebut lokasi episentrum gempa lebih dekat dengan Pulau Bawean.

“Berdasarkan kedekatan dengan sumber gempa dan tingkat makroseismik/dampak gempa maka nomenklatur yang tepat adalah Gempa Bawean bukan Gempa Tuban,” demikian cuit Daryono.

Dia juga menduga, gempa Bawean M 5,9 dan M 6,5 pada 22 Maret 2024, dipicu oleh Sesar Muria Laut, dengan merujuk pada pendapat Peter Lunt (2019).

Sementara itu berdasarkan hasil monitoring Gempa Bawean oleh BMKG, Daryono menyebut hingga Sabtu siang pukul 12.00 WIB, tercatat sebanyak 167 kali gempa, dengan frekunsi kejadian yang semakin jarang. Jika kemarin dalam satu jam mencapai 19 kali gempa, kemudian turun menjadi 7 kali perjam, data terkini 1 jam hanya 3 gempa.

“Semoga kondisi segera stabil dan aman kembali,” kata dia.

Dalam bagian lain, dia menyebut jika pola ini stabil maka tipe Gempa Bawean, menurut Daryono, adalah Gempa Pembuka – Gempa Utama-Gempa Susulan.

Artinya gempa tersebut didahului oleh gempa-gempa yang lebih kecil, untuk kemudian terjadi gempa utama yang besar, dan kemudian disusul gempa-gempa yang lebih kecil.

Reaksi Cepat

Segera setelah gempa terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, menurunkan Tim Reaksi Cepat, untuk memantau langsung kondisi pasca gempa, khsusnya di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, seperti dirilis kominfo.jatimprov.go.id, mengatakan bahwa tim tersebut langsung berangkat ke Bawean, Jumat (22/3/2024) malam, bersama stakeholder terkait.

“Tim kami dari BPBD, Basarnas, maupun kementerian PU dan BMKG berangkat ke Bawean untuk melihat kondisi Bawean,” katanya.

BPBD Jatim, lanjut Gatot juga terus melakukan koordinasi dengan BPBD Kabupaten Kota terkait, untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sementara itu berdasarkan informasi dari BNPB, gempa Bawean tersebut telah menimbulkan banyak kerusakan, dan sedikitnya 143 keluarga terdampak di Jawa Timur.

 

Berdasarkan laporan yang dirangkum oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB hingga Sabtu (23/3) pukul 00.20 WIB, rincian warga terdampak, di Kabupaten Tuban 10 keluarga, Kabupaten Gresik 130 keluarga, Kabupaten Pamekasan satu keluarga dan Kota Surabaya dua keluarga.

Gempa juga mengakibatkan sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan. Di Kabupaten Tuban tercatat empat unit rumah rusak berat, empat unit rumah rusak sedang, dan dua unit rumah rusak ringan.

Selain itu terdapat satu balai desa rusak parah dan satu fasilitas ibadah rusak ringan, serta satu kandang milik warga roboh.

Selanjutnya pada Kabupaten Gresik terdapat 19 unit rumah rusak berat, 61 unit rumah rusak sedang dan 50 unit rumah alami rusak ringan.

Sejumlah fasilitas umum juga mengalami kerusakan, seperi dua fasliltas pendidikan rusak ringan, satu fasilitas pendidikan rusak sedang, dua masjid rusak berat, satu musala rusak sedang, satu masjid rusak ringan, satu kantor desa dan satu Gedung perkantoran rusak ringan, serta RSUD Umas Mas’ud Sangkapura alami kerusakan ringan.

Untuk wilayah Kabupaten Pamekasan tercatat satu unit rumah warga alami rusak ringan.

Sementara itu di Kota Surabaya terdapat dua unit rumah warga alami rusak ringan, RS Unair dan RSUD M Soewandhi alami kerusakan ringan.

Sementara itu RSUD Soetrasno di Kabupaten Rembang turut terdampak yang sebabkan pasien dievakuasi keluar gedung.

BPBD setempat hingga kini masihterus melakukakan penanganan darurat bencana, antara lain melakukan pendataan dan monitoring di sejumlah lokasi, kemudian mendirikan tenda pengungsian di halaman RS Unair Surabaya.

Selanjutnya mengirimkan personil menuju pusat gempa di Pulau Bawean dengan menggunakan kapal dengan membawa kendaraan roda dua, tenda pengungsi, terpal plastik, makanan siap saji guna melakukan penanganan lebih lanjut di wilayah tersebut.

Potensi Tsunami Rendah

Sementara itu Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Hendra Gunawan, di Bandung, menyebut potensi tsunami dari peristiwa tersebut sangat rendah.

Hendra Gunawan, seperti dirilis esdm.go.id, memang berpusat di laut. Namun demikian peristiwa itu tidak memicu terjadinya gelombang tsunami.

Menurut data Badan Geologi, potensi tinggi tsunami di garis pantai (tsunami height) pulau Bawean tergolong rendah yaitu kurang dari 1 m.

Menurut Hendra, tsunami tidak terjadi karena gempa tidak mengakibatkan deformasi dasar laut.

“Data Badan Geologi mencatat potensi tinggi tsunami di garis pantai (tsunami height) pulau Bawean tergolong rendah yaitu kurang dari 1 m,” jelas Hendra.

Mengenai kondisi geologi dan penyebab gempa bumi, Hendra menjelaskan, wilayah yang terletak dekat dengan lokasi pusat gempa bumi adalah Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Wilayah tersebut pada umumnya merupakan morfologi dataran hingga dataran bergelombang yang berbatasan dengan perbukitan hingga perbukitan terjal pada bagian tengahnya.

Menurut data Badan Geologi, pada peta geologi lembar Bawean dan Masalembo (Aziz dkk., 1993), Pulau Bawean tersusun oleh batuan berumur Tersier (terdiri – dari batupasir dan batugamping) dan dominan endapan Kuarter (terdiri – dari batuan rombakan gunung api muda dan endapan aluvial pantai). Sebagian batuan berumur Tersier tersebut telah mengalami pelapukan.

“Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, data mekanisme sumber dari BMKG, maka kejadian gempa bumi tersebut berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif di Laut Jawa. Berdasarkan pola struktur geologi Pulau Jawa (Pulunggono dan Martodjojo, 1994) diperkirakan terdapat sesar berarah relatif timur laut – barat daya yang merupakan Pola Meratus. Sesar pada Pola Meratus ini merupakan sesar tua (Pra Tersier hingga Tersier) dan diperkirakan mengalami reaktivasi,” jelas Hendra.

Selanjutny PVMBG menghimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.

“Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang kekuatannya lebih kecil. Kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan tsunami dan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) seperti retakan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi,” pungkas Hendra. (HS-08)

Pemerintah Berkomitmen Sampaikan Informasi Haji Secara Utuh

Polres Tegal Kota Sita Puluhan Kilo Bahan Baku Petasan