HALO SRAGEN – Sebuah nama desa di Sragen, ternyata sanggup membuat Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati penasaran.
Saat mengikuti Shalat Dhuhur keliling Safari Ramadan, Selasa (19/3/2024) lalu di Masjid Darussalam Dukuh Plawar, Desa Saren, Kecamatan Kalijambe, dia pun mengungkapkan rasa penasarannya,.
Yuni menuturkan, dirinya sempat berpikir bahwa nama saren, berkaitan dengan nama makanan zaman dulu yang terbuat dari darah.
“Kenapa ada nama desa dinamakan Saren. Saya tanyakan kepada Bapak Asisten II. Setahu saya saren itu adalah nama makanan zaman dahulu, yang digoreng untuk lauk, yang berasal dari darah. Tapi sekarang makanan itu. (di Sragen-Red) sudah tidak lazim lagi untuk dimakan.’’ Kata dia, seperti dirilis sragenkab.go.id.
Kemudian Bupati menawarkan kepada warga apakah ada yang mengetahui asal usul nama desa tersebut diberi nama Saren.
Dia pun menyampaikan janji akan memberikan hadiah, bagi warga yang bisa menjawab.
Salah seorang warga bernama Widodo, tampil memberikan keterangan di depan Bupati Yuni dan ratusan warga masyarakat.
Widodo mengatakan, menurut cerita dari para leluhurnya pada zaman dahulu, Desa Saren ini merupakan pusat pertempuran pribumi melawan Belanda.
“Menurut cerita simbah saya, Saren ini tempat perang pribumi melawan penjajahan Belanda. Banyaknya tentara Belanda dan tentara pribumi yang meninggal dan ceceran darah di mana-mana. Sehingga desa ini dinamakan desa Saren.” terangnya.
Dalam kesempatan terpisah, Widodo yang juga seorang guru olahraga SD Keden 3 itu, menambahkan jika di Desa Saren merupakan gudangnya pejuang muslim, salah satunya adalah seseorang yang bernama Kyai Shodiq (lurah pertama di Saren), yang sangat disegani oleh masyarakat Saren.
‘’Kyai Shodiq dan para pejuang pribumi berjuang dan bertempur melawan penjajahan Belanda. Banyak sekali pejuang kita yang meninggal dunia membela bangsa ini. Di sebelah timur kami ada blumbang (sekarang dukuh blumbang)kemudian ditutupi gedeg dan dedaunan yang dipakai sebagai perangkap untuk para penjajah sehingga mereka tercebur di dalam blumbang.” katanya.
Ia mengatakan usai pertempuran dengan Belanda, banyak sekali darah berceceran terutama di sepanjang jalan sehingga dinamakan saren atau getih (darah).
Dijelaskannya, nama Dukuh Plawar juga memiliki cerita unik, yang berasal dari kata flower yang artinya bunga.
Dikarenakan orang desa saat itu tidak bisa mengucapkan flower, akhirnya menjadi plawar yang maksudnya adalah bunga bangsa, yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Mendengar penjelasan itu, Bupati pun memenuhi janji dengan memberikan hadiah berupa sepeda gunung.
Dalam kesempatan itu, Kusdinar Untung Yuni juga menyinggung tentang masa jabatannya yang akan segera berakhir.
“Tahun ini Insha Allah, bulan Desember, Ibu sudah purna. Jadi hari ini adalah Safari Ramadhan Ibu yang terakhir. Saya mohon doa restunya, agar nanti di akhir masa jabatan saya selesai dengan baik. Selanjutnya saya berharap warga masyarakat dapat memilih Bupati yang dapat meneruskan Pembangunan Kabupaten Sragen.” kata dia.
Selain bersilaturahmi, Bupati juga membagikan sebanyak 627 paket sembako dari Baznas Sragen, untuk warga desa Saren.\
Bupati dan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Untung Wibowo Sukowati serta Anggota DPRD Kabupaten Sragen Wulan Purnama Sari juga mengunjugi warga desa Gedongan Kecamatan Plupuh di Masjid Ihya Ulumudin dan membagikan sembako sebanyak 776 paket sembako dari Baznas Sragen. (HS-08)