in

Hari Keenam Banjir Semarang, Sebanyak Ratusan Warga Masih Mengungsi

Relawan menyiapkan logistik berupa makanan cepat saji di dapur umum Kecamatan Genuk untuk warga terdampak banjir, baru-baru ini.

HALO SEMARANG – Hingga hari keenam, atau pada Senin (18/3), banjir di Kota Semarang masih ada sebanyak 163 warga yang mengungsi dan bertahan di empat titik tempat pengungsian tersebar di wilayah Kecamatan Genuk. Rumah mereka masih terendam banjir yang cukup tinggi sejak Rabu (13/3) lalu.

Ratusan warga tersebut harus segera dievakuasi dan sementara menempati tempat yang lebih aman dari lokasi banjir.

“Pengungsi masih bertahan karena terkena dampak banjir, yaitu berada di kampus Universitas Semarang (USM) dengan 18 orang, lalu Masjid KA Jami’ Baitul Manaan Trimulyo ada 100 orang, Rumah Kos RT 01 RW 01 Trimulyo ada 45 orang dan rumah samping Konveksi Sablon Trimulyo ada 17 orang. Total ada sebanyak 163 orang,” jelas Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto, Senin (18/3/2024).

Saat ini warga masih bertahan di titik pengungsian karena dampak dari genangan air yang masih cukup tinggi yakni sekitar 20-80 centimeter. Terutama warga yang berada di wilayah kecamatan Genuk, yang juga menjadi lokasi banjir yang terparah.

“Dan di wilayah Genuk ini juga masih dibuka dapur umum yang berlokasi di sisi jembatan Alastua, untuk memenuhi kebutuhan logistik bagi warga, seperti makanan cepat saji berupa nasi bungkus termasuk saat untuk buka puasa maupun makan sahur. Seperti di Kelurahan Trimulyo, Dong Biru, Genuksari, yang tersebar di wilayah Kecamatan Genuk,”katanya.

Selain pendistribusian logistik berupa makanan, kata Endro, untuk kebutuhan pengungsi juga diberikan bahan pangan berupa sembako, seperti beras, mie instan, sayur mayur, sarden dan lainnya.

“Serta kebutuhan mendesak lainnya di antaranya droping air bersih, obat -obatan, air mineral, pampers anak dan dewasa, pembalut dan MPASI,”imbuhnya.

Terkait kondisi stok kebutuhan logistik makanan cepat saji sendiri, menurutnya masih terbilang aman karena selalu dikirim dari posko Induk Balai Kota ke wilayah kecamatan yang masih membutuhkan logistik, seperti di Kecamatan Genuk dan Semarang Utara.

“Atau ke dapur-dapur umum di wilayah kelurahan maupun kecamatan yang terdampak dan sampai sekarang masih beroperasional,” ujarnya.

Dari data BPBD, sejumlah wilayah yang masih terendam banjir yaitu Kecamatan Pedurungan (Kelurahan Muktiharjo Kidul) ada 95 rumah, terdiri atas 100 kepala keluarga, dengan ketinggian air sekitar 5-20 centimeter. Kecamatan Semarang Utara (kelurahan Tanjungmas, Bandarharjo), ada sebanyak 210 rumah dan 221 kepala keluarga yang terdampak. Dengan ketinggian air sekitar 10-40 centimeter.

“Lalu, Kecamatan Genuk (di Genuksari, Gebangsari, Muktiharjo Lor,Terboyo Kulon, Trimulyo) ada 1230 rumah dengan 1.256 kepala keluarga. Ketinggian genangan air sekitar 20-80 centimeter. Kecamatan Gayamsari, (Kelurahan Kaligawe), ada sebanyak 300 rumah, 362 kepala keluarga. Dan Jalan Raya Kaligawe dengan ketinggian air sekitar 40 Centimeter. Kemudian, (di wilayah kelurahan Tambakrejo) ada sebanyak 310 rumah dengan 340 kepala keluarga. Ketinggian air sekitar 50 centimeter,” pungkasnya.

Sebelumnya, Anggota DPRD Kota Semarang, Gumilang Febriansyah turut prihatin atas bencana banjir yang berdampak kepada warga. Sehingga pihaknya meminta kepada Pemkot Semarang untuk menangani banjir dengan serius dan membantu warga terdampak.

“Seperti terkait kebutuhan logistik bagi warga, berupa makanan, minuman dan keperluan yang lainnya. Ini perlu pembuatan dapur umum dari hari pertama banjir sampai beberapa hari kedepan. Ini untuk mendistribusikan logistik,” katanya.

Dikatakan Febri, sapaan akrabnya, banjir yang terjadi di Kota Semarang tahun ini karena dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem, sehingga saluran air tidak mampu menampung curah hujan yang tinggi.

“Dampaknya terjadi banjir di mana mana dan merata,” lanjut dia. (HS-06)

Banjir di Demak Meluas, Griya Bhakti Praja Mangunjiwan Tergenang

KAI Tebar Diskon Tiket KA dan Flash Sale Lebaran 2024, Segini Total Kuotanya