HALO SEMARANG – Lembaga pendidikan saat ini menerapkan kurikulum merdeka dalam pembelajaran. Namun, belum seluruhnya Sumber Daya Manusia (SDM), yakni para guru memahami isi kurikulum merdeka.
Wakil Ketua PGRI Kota Semarang, Hari Waluyo mengatakan, perlu ada sosialisasi dan pendampingan tentang Kurikulum Merdeka. Sebab, belum seluruhnya paham mengenai kurikulum tersebut meski para guru sudah belajar dari Platform Merdeka Mengajar (PMM).
“Ada guru yang sudah paham. Ada yang masih abu-abu. Belajarnya dari PMM secara daring. Kalau dipraktekkan capaiannya sekitar 50 persen,” terang Hari, Rabu (7/6/2023).
Saat ini, lanjut Hari, baru kelas 1, 4, 7, dan 10 yang menerapkan kurikulum merdeka pada jenjang sekolah dasar dan menengah. Selanjutnya kelas-kelas lain tentu akan segera mengikuti. Maka perlu ada konsolidasi terutama bagi guru-guru yang saat ini belum mengajar menggunakan Kurikulum Merdeka.
“Tahun depan harus mulai diberi pendampingan. Gurunya, kepala sekolahnya harus didampingi,” jelasnya.
Hari menekankan, para guru harus memiliki kemauan untuk belajar. Hal itu mengingat semua jenis kurikulum dipakai muaranya ada pada para guru.
Menurutnya, belajar melalui platform online belum cukup untuk memberikan pemahaman. Dia pun mendorong mereka juga belajar ke sekolah penggerak agar saling berdiskusi bagaimana menciptakan pembelajaran yang baik menggunakan kurikulum merdeka.
“Guru harus dibuat paham dulu. Apa itu kurikulum merdeka, tujuan apa. Ada intrakulikuler dan kokulikuler. Ada P4. Guru dibuat paham dulu,” katanya.
Dinas Pendidikan, kata dia, juga perlu turun untuk memberikan pemahaman kepada para guru.
“Pada Kurikulum 2013, hampir semua kegiatan belajar mengajar masuk intrakulikuler. Namun, pada Kurikulum Merdeka, 80 persen intrakulikuler. Selebihnya kokulikuler berupa profil penguatan pelajar Pancasila,” pungkas Hari. (HS-06)