HALO SEMARANG – Rasa jijik dan ragu sempat terlihat dari sejumlah siswa SMP Negeri 21 Semarang saat berhadapan langsung dengan maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF). Namun, pengalaman baru itu justru menjadi bagian menarik dari kegiatan outing class di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang.
Sebanyak 282 siswa kelas VII mengikuti kegiatan edukasi lingkungan tersebut. Mereka tidak hanya menerima materi tentang pemilahan sampah organik dan anorganik, tetapi juga belajar mengolah sampah menjadi produk bermanfaat hingga mempraktikkan cara menanam pohon.
Sekretaris DLH Kota Semarang, Safrinal Sofaniadi, mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini sekaligus memberikan pemahaman praktis kepada siswa mengenai pengelolaan sampah.
“Kalau sampah organik, kami berikan pengenalan bisa dibuat pupuk kompos, pupuk ecoenzym, sampai pembuatan pupuk dari sampah organik menggunakan lubang biopori yang dimasukkan ke dalam tanah selama beberapa bulan hingga terurai,” katanya.
Para siswa juga diperkenalkan dengan maggot yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menguraikan limbah organik, termasuk sisa makanan. Pengolahan tersebut dinilai relevan untuk mengurangi sampah makanan yang tidak habis dikonsumsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Safrinal mengakui, sebagian siswa awalnya belum berani menyentuh maggot karena bentuknya menyerupai belatung atau ulat. Meski demikian, mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal langsung organisme tersebut dan memahami manfaatnya dalam pengelolaan sampah.
“Pas baru melihat langsung maggot, reaksinya bermacam-macam. Ada yang berani dan ada yang jijik memegang karena sekilas larva maggot memang bentuknya kayak belatung atau ulat hongkong. Padahal, maggot berasal dari Black Soldier Fly (BSF) dan bisa dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik,” imbuhnya.
Menurutnya, maggot dapat membantu mengurangi volume sampah organik karena mampu mengonsumsi sisa makanan dalam waktu relatif singkat. Edukasi tersebut diharapkan membuat siswa memahami bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna masih memiliki nilai manfaat jika dikelola dengan tepat.
Selain mengenal maggot, siswa diajak mempelajari pembuatan pupuk dan cairan ecoenzym berbahan sisa dapur. Bahan yang digunakan antara lain kulit buah dan sayuran yang dipotong kecil-kecil, kemudian dicampur dengan air dan molase atau gula merah untuk menjalani proses fermentasi.
Karena proses fermentasi membutuhkan waktu berbulan-bulan, DLH juga memperlihatkan contoh produk yang telah selesai dibuat agar siswa dapat mengetahui hasil akhirnya.
“Lalu, kita kasih contoh hasilnya kepada siswa yang sudah jadi melalui proses fermentasi. Karena kalau melihat sampai jadi pas praktiknya tidak mungkin, harus menunggu beberapa bulan lagi,” paparnya.
Melalui praktik tersebut, siswa diharapkan memahami bahwa pengurangan sampah dapat dimulai dari rumah dengan memilah sisa makanan dan memanfaatkan bahan organik sesuai metode pengolahan yang tepat.
DLH Kota Semarang juga menyerahkan lima bibit pohon asam kepada perwakilan SMPN 21 Semarang, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ariyanto. Bibit tersebut nantinya ditanam di lingkungan sekolah.
Safrinal menjelaskan, pohon asam dipilih karena telah menjadi salah satu identitas Kota Semarang. Penyerahan bibit itu sekaligus menjadi sarana praktik bagi siswa untuk menerapkan pengetahuan mengenai penanaman dan perawatan pohon.
Safrinal berharap, pengetahuan yang diperoleh siswa selama kegiatan tidak berhenti di lokasi outing class. Mereka diharapkan dapat menerapkannya di rumah maupun sekolah, kemudian membagikan pengalaman tersebut kepada keluarga dan teman sebaya.
Ia juga menyoroti kebiasaan memilah sampah di lingkungan sekolah yang masih perlu diperbaiki. Menurutnya, keberadaan tempat sampah dengan warna berbeda belum tentu efektif apabila penggunaannya tidak disertai pemahaman dan kebiasaan yang benar.
“Jadi, meski warna tong sebenarnya sudah dibedakan, yaitu hijau untuk sampah organik dan kuning untuk sampah anorganik, isinya masih bercampur antara sampah daun dan plastik, misalnya,” ungkapnya.
Karena itu, Safrinal menekankan bahwa menjaga kebersihan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari, termasuk membuang sampah sesuai jenisnya. Lingkungan sekolah yang bersih dan terawat dapat menciptakan suasana belajar yang nyaman sekaligus membantu mengurangi risiko penyakit.
Ia mengajak pihak sekolah dan masyarakat untuk terus berpartisipasi dalam menjaga lingkungan melalui edukasi maupun praktik langsung.
“Kalau bukan kita, siapa lagi generasi penerus yang akan peduli lingkungan. Untuk itu, kami mendorong pihak sekolah maupun masyarakat umum untuk terus bersama-sama menjaga lingkungan melalui edukasi maupun kegiatan outing class sekolah semacam ini,” pungkasnya.(HS)


