in

Wakil Ketua DPRD Jateng: Ancaman Krisis Pangan Perlu Disikapi Serius

Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Ancaman krisis pangan harus menjadi perhatian serius Pemprov Jateng. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi krisis pangan akibat perubahan iklim. Utamanya komitmen mengedepankan komitmen kebijakan terhadap lingkungan dan ketahanan pangan.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko menegaskan, perubahan iklim yang terjadi saat ini membawa dampak serius bagi perekonomian seluruh negara, tanpa terkecuali, termasuk dalam hal ketahanan pangan di wilayah Jawa Tengah. Maka pihaknya mengingatkan pentingnya manajemen stok untuk menjaga stabilitas harga pangan di Jawa Tengah. Manajemen stok tersebut, menurutnya tak hanya untuk menjaga stabilitas harga namun juga bisa meningkatkan kesejahteraan petani sebagai produsen.

“Manajemen stok ini penting, mengingat Jateng menjadi salah satu daerah lumbung pangan di Indonesia. Jangan semua dijual ke luar, harus ada manajemen stok yang baik agar kebutuhan masyarakat juga terpenuhi,” papar politisi Partai Gerindra ini.

Heri Londo, sapaan akrabnya juga mendorong Pemprov Jateng membuat strategi pertanian Jawa Tengah. Desain besar pertanian tersebut meliputi pola tanam, intervensi distribusi pupuk, upgrade pemetaan dan pendataan lahan pertanian, dan penerapan teknologi pertanian. Selain itu juga membatasi perizinan yang menyebabkan lahan pertanian berubah fungsi menjadi permukiman atau area industri.

“Masalah ketahanan pangan perlu menjadi perhatian di tengah ancaman krisis pangan dunia. Apalagi Jawa Tengah selama ini menjadi salah satu lumbung pangan nasional. Produksi padi Jawa Tengah menempati posisi nomor 2 setelah Jawa Timur dan bisa menopang kebutuhan provinsi lain. Maka butuh strategi untuk mengatur ketersediaan lahan pertanian yang cukup, serta manajemen stok yang terjaga,” paparnya.

Upaya lain yang perlu dilakukan adalah dengan mengelola pengairan agar sawah-sawah milik petani tak kekurangan air. Menurutnya, upaya tersebut sebenarnya sudah dilakukan melalui pembangunan waduk dan embung. Tujuannya agar air hujan tidak langsung terserap ke tanah, namun bisa ditampung dan disalurkan ke persawahan saat musim kemarau.

Stok Aman

Sementara pasokan pangan di Jawa Tengah tahun 2023 dipastikan aman. Pj Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana mengakui, fenomena El Nino memang dirasakan dampaknya di sektor pertanian. Salah satu indikatornya adalah terjadinya penurunan produksi padi.

“Jadi produksi padi di Jawa Tengah, kalau kita perbandingkan produksi pada Oktober sampai Desember 2022 dibanding 2023 ini, mengalami penurunan sebesar 123.335 ton,” kata Nana saat menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten (16/11/2023).

Meski produksi padi secara komulatif mengalami penurunan, kata Nana, tidak berarti seluruh daerah lumbung padi di Jawa Tengah juga mengalami penurunan produksi. Setidaknya ada delapan daerah di Jawa Tengah yang produksi padinya tetap stabil. Beberapa di antaranya Sragen, Sukoharjo, Pemalang, Banyumas dan Klaten.

“Itu beberapa daerah yang Alhamdulillah dalam situasi El Nino, tapi malah menghasilkan ataupun bisa melaksanakan panen yang lebih baik,” tuturnya.

Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memastikan pasokan pangan aman. Sejumlah upaya yang dilakukan adalah berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota, agar produksi padi tetap bisa mencukupi kebutuhan masyarakat.

Program yang dilaksanakan mulai dari melayani peminjaman pompa air, pengadaan alat mesin pertanian, bantuan benih, dan asuransi pertanian. “Kami pun terus melakukan koordinasi dengan BMKG. Kita berharap di bulan November ini sudah memasuki musim hujan, sehingga bisa mulai musim tanam,” kata Nana.

Sementara itu, Bupati Klaten, Sri Mulyani menambahkan, produksi padi dari Januari hingga Oktober 2023 mencapai 367.465 ton. Sedangkan produksi beras Januari sampai dengan Oktober 2023, sebanyak 204.558 ton.

“Adapun konsumsi beras ada 116.589 ton. Jadi mengalami surplus beras sebantak 87.969 ton,” ungkap Sri Mulyani.

Ditambahkan dia, Kabupaten Klaten masih memiliki potensi luas lahan 8.286 hektare dengan produksi 51.353 ton gabah kering atau setara 31.839 ton beras.(Advetorial-HS)

Bandara Ahmad Yani Semarang Sabet Juara Satu Lomba “LAMPAH KITA”

Wali Kota Semarang Minta Pembangunan RSUD KRMT Wongsonegoro On The Track