HALO SRAGEN – Awal musim hujan merupakan waktu yang tepat bagi warga Dk Bulakrejo, Desa Ngargosari, Kecamatan Sumberlawang untuk berburu ungkrung alias entung jati atau kepompong ulat jati.
Walaupun ekstrem dan antimainstream, kentung ini rupanya menjadi makanan kegemaran warga setempat.
Berburu kentung ini, juga sudah menjadi kegiatan rutin bagi warga, saat daun-daun jati mulai rontok.
Para pemburu biasanya membawa wadah plastik untuk mengumpulkan ungkrung yang sering tersembunyi di antara tumpukan daun.
Salah satu pencari kentung, yakni Wantini, warga Dukuh Bulakrejo, Desa Ngargosari mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ia mencari entung jati bersama warga lainnya.
Entung jati tersebut memang dikumpulkan untuk dikonsumsi oleh keluarganya. Namun, ada juga yang dijual dalam keadaan mentah, karena banyak orang yang mencarinya untuk dimasak sendiri.
Biasanya warga mulai berburu entung jati sejak pukul 08.00 WIB hingga siang hari. Pada awal musim hujan seperti sekarang, banyak warga yang aktif mencari entung jati.
“Musim seperti ini banyak yang cari. Kalau ada yang mau beli, baru dijual per gelas Rp15.000. Kadang ada yang mampir beli,” kata Wantini, Kamis (29/11/2024).
Makanan ekstrem yang cukup populer di berbagai penjuru negeri ini, biasanya diolah menjadi berbagai hidangan lezat, seperti tumis, balado, rica – rica hingga rempeyek.
Menurutnya olahan entung jati memiliki rasa yang enak, pedas, gurih, dan kaya protein.
“Ada sensasi kletus-kletus saat digigit dan kenyal,” ujarnya.
Melansir artikel Universitas Jambi karya Rizano Anders Rayel, ulat jati (Hyblaea puera) kaya akan protein, vitamin, mineral, lemak, dan karbohidrat.
Dengan kandungan nutrisi tersebut, ulat jati dapat menjadi alternatif sumber protein yang sangat baik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan jati. (HS-08)