in

Susun Kosa Isyarat Keislaman, Menag Harap Lahir Tokoh Hebat dari Kalangan Sahabat Tuli

Menag Nasaruddin Umar dalam Kick-Off Kosmin di Masjid Istiqlal, Jakarta. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Tahun baru 1 Muharam 1448 H menandai dimulai penyusunan kosa isyarat keislaman Indonesia (Kosmin) oleh Kementerian Agama.

Menag Nasaruddin Umar berharap Kosmin semakin memudahkan para muslim sahabat tuli, untuk mengakses pengetahuan keislaman sehingga bisa lahir tokoh hebat di masa mendatang.

Pesan ini disampaikan Menag saat membuka Kick-Off Penyusunan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (Kosmin) di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Hadir, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad bersama jajaran eselon II, Kepala BMBPSDM Muhammad Ali Ramdhani, dan Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta M Adib.

Di hadapan ratusan muslim sahabat tuli, Menag berpesan bahwa keterbatasan fisik sama sekali bukanlah sebuah dosa, hambatan, ataupun tanda kekurangan seorang hamba di mata Allah SWT.

Ketataan batin dan kesucian rohani jauh lebih monumental serta bernilai tinggi di hadapan Sang Pencipta ketimbang sekadar kesempurnaan rasio fisik manusia.

Menag minta seluruh penyandang disabilitas untuk tetap percaya diri dan selalu optimistis dalam menatap masa depan.

​”Jangan khawatir bagi anak-anakku semua yang secara fisik tidak sempurna. Tidak ada dosa dan tidak ada masalah bagi orang yang benar-benar bertakwa. Siapapun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, pasti akan mendapatkan surga yang dijanjikan Allah SWT. Anggaplah kekurangan fisik itu sebagai kekhususan dan tanda cinta Allah kepada kita, lalu syukuri karena di balik itu tersimpan hikmah yang sangat luar biasa,” kata Menag di Jakarta, baru-baru ini.

Penyusunan Kosa Isyarat Keagamaan semakin menegaskan komitmen Kementerian Agama, untuk terus mengupayakan dukungan aksesibilitas serta fasilitas keagamaan yang inklusif agar teman-teman disabilitas dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan bermartabat.

Sebelum itu, Kementerian Agama telah menuntaskan penyusunan Master Al-Qur’an Isyarat, lengkap beserta komponen tafsirnya.

Menag lalu merefleksikan catatan sejarah mengenai tokoh-tokoh besar dunia yang berhasil melahirkan karya monumental di tengah keterbatasan fisik. Salah satunya adalah sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum, seorang tuna netra yang memiliki suara emas. Rasulullah bahkan berulang kali memercayakan kepemimpinan kota Madinah serta tugas sebagai imam pengganti kepada Ibnu Ummi Maktum saat sedang bepergian ke luar kota.

Selain itu, Menag juga mencontohkan tokoh dunia seperti mantan Presiden AS Franklin Delano Roosevelt yang mengalami kelumpuhan, penulis Helen Keller yang mengalami tuli dan buta akibat penyakit sejak balita, hingga musisi legendaris Stevie Wonder yang buta sejak lahir.

Menag juga memaparkan aksi nyata dalam mengubah wajah Masjid Istiqlal menjadi tempat ibadah yang sepenuhnya ramah dan inklusif bagi kelompok difabel.

​”Di Masjid Istiqlal ini, kami memulai penataan sejak pintu pagar. Ada petunjuk tegel pemandu (guiding block) yang menuntun saudara tuna netra dari pintu masuk, menuju tempat wudu, hingga masuk ke ruang utama. Kami juga menyediakan 40 unit kursi roda steril khusus Istiqlal di lift untuk menggantikan kursi roda dari luar guna mengantisipasi najis. Bahkan, khutbah Jumat di sini sudah konsisten menggunakan bahasa isyarat,” jelas Menag.

Menag juga mengumumkan rencana terdekat Istiqlal untuk membangun satu unit lift khusus disabilitas baru di sektor selatan guna memperpendek jarak akses jemaah difabel, di samping area parkir khusus yang dijaga oleh petugas pelayanan difabel secara melekat.

Masjid Istiqlal juga dilengkapi dengan klinik 24 jam gratis, tempat ramah anak, hingga fasilitas penginapan gratis bagi masyarakat luar kota yang sedang mengurus administrasi kemanusiaan.

Terakhir, ​Menag berharap momentum 1 Muharram 1448 Hijriah ini menjadi titik balik bagi seluruh direktorat dan satuan kerja di bawah Kementerian Agama untuk melahirkan kebijakan yang afirmatif.

Negara harus hadir memberikan pelayanan terbaik dan inklusif bagi seluruh warga negara tanpa membeda-bedakan latar belakang fisiknya. (HS-08)

 

 

Agustina Wilujeng: Kerukunan Adalah Kekuatan Terbesar Semarang untuk Terus Maju

Penyusunan Kosa Isyarat Istilah Fikih dan Teologi Islam, Dirjen Bimas Islam : Istilah Cukup Banyak Tapi Belum Standar