in

Tingkatkan Pelayanan kepada Pasien saat Masuk hingga Perawatan, RSUD Dr Soewondo Gelar In House Training

HALO KENDAL – Rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan diharuskan mampu memenuhi kebutuhan pasien dengan pelayanan kesehatan yang komprehensif, sejak awal masuk rumah sakit hingga perawatan.

Hal tersebut disampaikan dokter Ridzki H, dalam kegiatan in house training (IHT). Kali ini terkait Pengelolaan Nyeri, Penerapan Early Warning Score (EWS) System Triase, serta Kriteria Masuk dan Keluar ICU, di Ruang Aula HD, RSUD Dr Soewondo Kendal, Sabtu (10/9/2022).

Acara yang akan berlangsung selama sepekan lebih, Sabtu – Senin (10-19/9/2022) tersebut diikuti oleh tenaga kesehatan, baik dokter maupun perawat yang bertugas di RSUD Dr Soewondo Kendal.

Disebutkan, kegiatan in house training digelar dalam rangka memenuhi kebutuhan pasien dalam pelayanan. Sehingga peran keperawatan atau tenaga kesehatan yang menjadi inti dalam pelayanan dan interaksi dengan pasien harus ditingkatkan.

“Salah satu peran perawat yaitu melakukan pemantauan kondisi pasien secara berkala. EWS merupakan perangkat untuk membantu petugas kesehatan mampu mengidentifikasi penurunan kondisi pasien sedini mungkin dan bila perlu mencari bantuan yang lebih kompeten,” ujar dokter Ridzki.

Pemantauan kondisi pasien secara dini dapat mencegah terjadinya perburukan kondisi pasien melalui penanganan triase. Dirinya mengibaratkan, ada tiga jenis pemantauan Triase, yakni merah untuk yang gawat, kuning untuk yang agak gawat dan hijau tidak gawat.

Dijelaskan oleh dokter Ridzki, ketika pasien yang datang ke rumah sakit dan mengalami perburukan kondisi maka dibutuhkan deteksi dini, cepat waktu respon, dan kompetensi respon yang tepat untuk menentukan hasil yang diharapkan.

“Kemudian triase ini akan dilanjutkan ke EWS, atau dimasukkan ke ruangan. Kalau pasien-pasien ada kondisi kriteria merah, jurusannya bukan di ruangan biasa, tapi ke ICU. Tapi untuk yang kuning maupun hijau bisa masuk ke ruangan biasa. Kemudian dilanjutkan pengelolaannya di ruangan biasa, hanya teknisnya soal penempatannya saja,” jelasnya.

Dirinya menyebut, untuk pasien yang kuning, ruangan ditempatkan dekat dengan ruang perawat. Supaya pengawasannya lebih ketat dikelola lanjutan. Jadi ibaratnya, EWS itu melanjutkan penanganan dari depan menuju perawatan.

Sehingga menurutnya, mulai dari UGD, kemudian ke ruangan biasa harus ada pengawasan dan penanganan kepada pasien.

“Jangan sampai yang hijau jadi kuning, atau yang kuning jadi merah, tanpa pengawasan. Dengan harapan, kalau ada pengawasan, ya hijau tetep hijau, atau kuning jadi hijau. Jadi biar ada kesinambungan di dalam pengawasan. Karena jika sejak awal pasien sudah merah, pasti jurusannya ke ICU,” ungkap dokter Ridzki.

Sementara terkait materi kriteria keluar dan masuk ICU, menurutnya, ICU adalah padat modal, padat tenaga. Dengan arti, pasien yang masuk ICU adalah yang benar-benar membutuhkan.

“Karena pelayanan di ICU itu harus teliti, obat-obatannya juga beda, pelayanannya juga beda. Ada mesin bantu nafas dan sebagainya. Jadi hanya pasien-pasien tertentu yang berhak masuk ke ICU. Contohnya untuk penderita jantung, habis stroke dan penderita lain, yang membutuhkan pelayanan yang intensif,” ujarnya.

Sebagai penutup dokter Ridzki menegaskan, harus ada kolaborasi antara dokter dan perawat yang baik. Karena kerjasama sangat dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien.

“Jadi tidak pernah ada kerja sendiri, baik dokter dan perawat, semua berkolaborasi. Semua bekerja berdasarkan team work. Harapannya tim ini tetap solid, demi pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya. (HS-06)

Pengurus IDI Kendal 2022-2025 Dilantik, Ini Harapan Bupati Kendal

Mahasiswa Keluhkan Kenaikan Harga BBM, Bupati Kebumen Sebut Pemerintah Sudah Siapkan Beragam Bantuan