in

Tingkatkan Kekebalan Kelompok, Dinkes Kota Pekalongan Genjot Imunisasi Kejar

Pelaksanaan program imunisasi kejar di Kota Pekalongan. (Foto : pekalongankota.go.id)

 

HALO PEKALONGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan terus mengintensifkan pelaksanaan program imunisasi kejar, guna meningkatkan cakupan imunisasi anak, yang hingga saat ini baru mencapai 76,9 persen.

Program ini ditargetkan mampu mengejar ketertinggalan imunisasi dan mencapai angka ideal guna membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Programmer Imunisasi Dinkes Kota Pekalongan, Samsiyah Ratnawati, mewakili Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Puji Winarti, Selasa (14/2026) menjelaskan bahwa imunisasi kejar merupakan upaya pemberian imunisasi kepada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal.

“Imunisasi kejar adalah imunisasi yang diberikan kepada anak yang belum lengkap mendapatkan imunisasi yang seharusnya diberikan, sehingga kita mengejar ketertinggalan tersebut,” kata dia, seperti dirilis pekalongankota.go.id.

Ia mengungkapkan pentingnya imunisasi dalam membentuk kekebalan kelompok. Apabila cakupan imunisasi tidak tinggi dan merata, maka risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi akan meningkat.

“Jika cakupan tidak tinggi dan merata, maka kekebalan kelompok tidak akan terbentuk, sehingga potensi kejadian yang tidak diinginkan bisa terjadi,” ungkapnya.

Program imunisasi kejar mencakup seluruh jenis antigen, antara lain BCG, DPT, HB-Hib (yang melindungi dari difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, dan meningitis), polio, campak, rubella, rotavirus, hingga pneumokokus.

Untuk tahun 2025, jumlah sasaran imunisasi kejar di Kota Pekalongan tercatat sebanyak 3.535 anak.

Dinkes menargetkan cakupan imunisasi dapat meningkat hingga 97 persen, sesuai target.

Dalam upaya mencapai target tersebut, pihaknya mengerahkan seluruh tenaga kesehatan untuk melakukan pendataan dan validasi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Koordinasi juga dilakukan bersama kader kesehatan di tingkat masyarakat.

“Pendataan kami lakukan secara aktif, petugas turun langsung untuk memvalidasi anak-anak yang belum lengkap imunisasinya,” imbuhnya.

Pelaksanaan imunisasi kejar dilakukan sepanjang tahun di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, posyandu, rumah sakit, serta praktik bidan swasta.

Seluruh laporan pelaksanaan akan terintegrasi dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa masyarakat juga tidak perlu khawatir terkait biaya. Layanan imunisasi dapat diakses secara gratis di puskesmas dan posyandu.

Sementara bagi masyarakat tanpa jaminan kesehatan, hanya dikenakan biaya pendaftaran.

Selain pelaksanaan teknis, ia membeberkan bahwa pihaknya juga menghadapi tantangan dalam memberikan edukasi kepada orang tua yang masih ragu atau menolak imunisasi.

Upaya advokasi terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.

Dinkes mengimbau kepada seluruh orang tua untuk memahami pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan penyakit serius yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.

“Imunisasi adalah upaya mencegah penyakit. Akan sangat merugikan jika penyakit yang sebenarnya bisa dicegah justru tidak dicegah,” bebernya.

Ia mengatakan bahwa efek samping seperti demam setelah imunisasi merupakan hal yang wajar sebagai bagian dari proses pembentukan kekebalan tubuh.

Orang tua diminta tidak khawatir karena kondisi tersebut dapat ditangani dengan kompres, pemberian obat, atau berkonsultasi ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.

Dinkes kembali menegaskan bahwa meskipun imunisasi diberikan terlambat, manfaatnya tetap ada dan tetap mampu memberikan perlindungan bagi anak.

“Meskipun terlambat, imunisasi tetap berguna. Mari lengkapi imunisasi anak sebagai bentuk tanggung jawab kita bersama dalam menjaga kesehatan masyarakat,” kata dia. (HS-08)

 

 

Pemkab Tegal Lepas 1.472 Calon Haji, Bupati Berharap Semua Kembali dalam Kondisi Lengkap

Perangi Rokok Ilegal, Wali Kota Pekalongan Ajak TP PKK Edukasi Masyarakat