HALO SEMARANG – Bencana hidrometeorologi basah kembali menelan korban dan kerusakan bangunan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor melaporkan tanah longsor mengakibatkan empat warganya meninggal dunia dan tiga lainnya masih dalam pencarian. Peristiwa ini berlangsung setelah hujan lebat pada struktur tanah labil terjadi pada Rabu (12/10/2022), pukul 12.30 WIB.
BPBD Kota Bogor telah melaporkan bahwa empat warga meninggal dunia tertimpa longsoran telah berhasil dievakuasi. Sedangkan tiga lainnya masih dilakukan pencarian oleh tim gabungan. Insiden ini terjadi di Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Tim gabungan berasal dari BPBD Kota Bogor, TNI, Polri, Basarnas, relawan dan warga setempat.
Sementara itu, banjir juga menerjang beberapa wilayah di kota ini. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan lima kecamatan di Kota Bogor terdampak banjir dan tanah longsor. Sebanyak 35 KK atau 76 jiwa terdampak bencana ini. Saat ini teridentifikasi 1 KK atau tiga jiwa mengungsi ke tempat yang aman.
Bencana juga menyebabkan kerusakan antara lain rumah rusak berat satu unit dan rusak ringan dua unit. Tercatat terdampak meliputi fasilitas pendidikan satu unit dan rumah 18 unit. Sebanyak enam unit rumah lainnya terancam akibat struktur tanah labil.
Pusdalops BNPB menyebutkan sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor yaitu Kelurahan Kedung Halang, Tanah Baru dan Tegal Gundil di Kecamatan Bogor Utara.
Selanjutnya Kelurahan Gunung Batu, Pasir Jaya, Margajaya, Cilendek Barat dan Menteng di Kecamatan Bogor Barat.
Lalu Kelurahan Genteng, Pamoyanan, Pakuan, Sempur, Muara Sari dan Cikaret di Kecamatan Bogor Selatan.
Serta Kelurahan Cibogor, Sempur, Kebon Kalapa, Pangaran, Ciwaringin, Bogor Tengah dan Tegal Lega di Kecamatan Bogor Tengah.
Sedangkan satu kelurahan, yaitu Kebon Pedes di Kecamatan Tanah Sereal.
Mengantisipasi potensi bahaya hidrometeorologi basah di musim hujan, Pemerintah Kota Bogor telah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat banjir. Status tersebut terhitung mulai tanggal 10 September hingga 31 Desember 2022, melalui Surat Keputusan Walikota Bogor Nomor 360/Kep.290-BPBD/2022.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mendukung penanganan darurat dengan memberikan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 250 juta. Di samping itu, BNPB mendorong bantuan logistik kebutuhan dasar senilai Rp 100 juta. Bantuan ini diberikan kepada Walikota Bogor untuk penanganan banjir dan longsor di wilayahnya.
Menyikapi dampak bencana hidrometeorologi, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Berdasarkan prakiraan cuaca dua hari ke depan (14-15 Oktober 2022) di sebagian besar wilayah Kota Bogor masih berpeluang hujan dengan intensitas sedang. Warga diimbau untuk mengantisipasi dampak bahaya hidrometeorologi basah, seperti banjir dan longsor.
Berbagai langkah kesiapsiagaan dapat dilakukan, baik warga maupun komunitas, seperti mewaspadai hujan lebat dengan durasi lama, masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai atau dataran rendah segera dapat melakukan evakuasi sementara ke tempat yang lebih aman sebelum banjir terjadi. Warga dapat melakukan evakuasi dini untuk keselamatan diri dan keluarga.
Sementara Kepala BNPB, Letnan Jenderal Suharyanto memberikan arahan kesiapsiagaan untuk menghadapi bahaya hidrometeorologi dampak cuaca ekstrem. Pemerintah daerah diminta untuk segera melakukan apel kesiapsiagaan untuk mengecek kesiapan alat, perangkat, dan personel dalam menghadapi cuaca ekstrem.
“Berikutnya, apabila diperlukan daerah diminta untuk menerbitkan status tanggap darurat untuk mempermudah koordinasi dan pemberian bantuan apabila terjadi bencana,” jelasnya, Jumat (14/10/2022).
Kepala BNPB juga meminta warga yang berada di lereng bukit agar secara rutin mengecek kondisi tanah di sekitarnya. (HS-06)