HALO SEMARANG – Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay, menilai penurunan tarif dagang Amerika Serikat terhadap produk tekstil Indonesia, menjadi 19 persen harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis, untuk memperluas ekspor dan meningkatkan daya saing industri tekstil nasional.
Ia mengatakan ada kabar bahwa produk tekstil Amerika akan masuk ke pasar Indonesia.
Menurut dia, hal itu tidak akan mengubah posisi tekstil lokal, yang akan tetap akan diminati konsumen.
Hal itu karena produk Amerika tersebut pasti akan lebih mahal, karena biaya tenaga kerja dan produksi yang tinggi.
“Kalau dikatakan produk Amerika datang ke Indonesia, saya kira tidak apa-apa, datang saja. Tapi percaya dengan saya, barang impor itu pasti akan mahal harganya, karena labor cost di Amerika itu jauh lebih tinggi dari kita,” kata Saleh, belum lama ini seperti dirilis dpr.go.id.
Menurut dia, yang justru perlu diwaspadai dan mendapat perhatian serius, adalah produk-produk tekstil dari Tiongkok, yang masuk ke pasar Indonesia dalam jumlah besar dan harga yang sangat murah.
Dalam konteks ini, dia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar, melainkan harus menjadi pemain aktif di pasar global.
“Free trade era tidak bisa kita hindari. Karena itu kita juga harus meningkatkan produksi, kualitas bagus, dan kita ekspor ke sana. Jangan mereka saja yang jual ke sini, kita juga harus bisa jual ke sana,” kata Politisi Fraksi PAN ini.
Saleh menambahkan bahwa penurunan tarif AS ini, sejalan dengan terbukanya peluang pasar lain, termasuk Uni Eropa, menyusul kebijakan visa multi-entry bagi warga Indonesia.
Ia berharap pemerintah segera merumuskan kebijakan afirmatif untuk mendorong industri tekstil nasional agar mampu bersaing secara global.
“Ini bukan cuma soal tarif, tapi juga bagaimana pemerintah hadir dengan kebijakan yang mendukung agar produk kita benar-benar bisa menembus pasar internasional,” kata dia. (HS-08)