HALO SEMARANG – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, meminta masyarakat mewaspadai gerakan kelompok Khilafatul Muslimin, karena tokoh-tokoh kelompok ini berkaitan dengan sejumlah kelompok teroris.
Peringatan kewaspadaan itu, disampaikan antara lain Kepala BNPT, Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar MH.
Dia mengatakan dari hasil profiling dan pelacakan rekam jejak organisasi yang ada sejak tahun 1997 tersebut, diketahui bahwa sejumlah tokoh organisasi tersebut terkait dengan sejumlah kelompok teroris, seperti Negara Islam Indonesia (NII) dan Jamaah Islamiyah (JI).
“Kita tahu sel-sel mereka di negeri ini ada. Mereka yang selama ini, katakanlah bagian dari kegiatan kampanye khilafah itu. Apakah terkait JI, atau Ansharut Daulah, dan NII,” kata dia, seperti dirilis bnpt.go.id.
Boy Rafli Amar memandang, kemunculan Khilafatul Muslimin ini, terjadi lantaran mereka memanfaatkan ruang kebebasan berekspresi, yang lumrah dalam iklim demokrasi. Namun jika ini dibiarkan, maka bisa menyesatkan masyarakat.
“Kita melihat bahwa ada sekelompok entitas ini di alam demokrasi, tetapi memanfaatkan ruang kebebasan berekspresi. Ini bisa berpotensi menjadi sebuah perbuatan yang bisa melanggar hukum,” kata dia.
Karena itu Boy mengingatkan kepada seluruh elemen masyarakat, untuk mewaspadai dan memahami karakter ideologi khilafah. Ideologi khilafah ini, bersifat transnasional alias global, namun juga memiliki sel-sel jaringan di dalam negeri.
“Di sini kita harus ingatkan, perlu kewaspadaan dan juga perlu tidak membiarkan begitu saja, karena pasti ada tujuan yang tersembunyi, ada agenda terselubung di balik gerakan-gerakan,” katanya.
Dia menambahkan bahwa BNPT akan terus melakukan upaya terencana, untuk mengantisipasi berbagai ancaman ideologi anti-NKRI, dan juga potensi tindakan teror. Strategi kontra propaganda dan kontra narasi, terus digalakkan lewat kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Jadi kolaborasi dengan multipihak ini sangat penting, apakah di kalangan dunia pendidikan, generasi muda, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, kita harus bergerak bersama sama. Karena yang harus kita bangun bersama, adalah kesadaran kolektif kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan melakukan penguatan wawasan kebangsaan, dan moderasi beragama,” kata dia.
Guna mencegah gerakan penyebaran ideologi khilafah ini, Boy menilai pendekatan melalui penegakan hukum semata tidak cukup. Semua pihak perlu membangun dan memperkuat kesadaran kolektif, sebagai mekanisme kewaspadaan mendasar yang tertanam di alam bawah sadar semua individu.
Salah satu ihwal yang perlu ditekankan, ialah kesadaran bahwa Bangsa Indonesia memiliki empat konsensus dasar, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.
Kesadaran kolektif ini perlu terus ditumbuhkan dan diperkuat, melalui edukasi tiada henti.
“Dengan kita membangun edukasi, semangat kesadaran kolektif inilah yang perlu kita kuatkan. Karena melakukan tindakan-tindakan hukum (terhadap ideologi khilafah), dengan dasar hukum yang ada, saya melihat hukum kita sudah baik. Tinggal bagaimana kita diimbangi dengan tingkat kesadaran warga negara kita,” tutur jenderal bintang tiga ini.
Peringatan Serius
Sebelumnya, Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Kombes Pol Aswin Siregar, juga menyampaikan peringatan serius, untuk masyarakat setelah konvoi kelompok Khilafatul Muslimin.
Seperti diketahui, kelompok tersebut baru-baru ini mencuri perhatian dan viral di media sosial, setelah mereka berkonvoi menggunakan sepeda motor, di wilayah Jakarta Timur, dengan membawa atribut khilafah.
“Bagi masyarakat atau siapa pun yang bergabung dalam kelompok itu bahwa kelompok tersebut memiliki sejarah panjang keterkaitan dengan berbagai teror dan radikal,” jelas Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus) 88, seperti dirilis tribratanews.polri.go.id.
Secara histori, kelompok Khilafatul Muslimin punya keterkaitan dengan berbagai peristiwa teror di Indonesia.
Aswin Siregar menyebut, pimpinan Khilafatul Muslimin, Abdul Qodir Baraja sebelumnya pernah ditangkap Densus 88, karena peristiwa teror. Abdul Qodir Baraja juga pernah bergabung dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).
“Kalau kami lihat, dari pendiri kelompok ini atau gerakan ini, dekat sekali dengan kelompok-kelompok radikal, seperti NII,” kata Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus) 88.
Perwira menengah Polri itu menyatakan, konvoi atau kampanye yang dilakukan kelompok Khilafatul Muslimin (KM) juga sangat dekat dengan terorisme.
Densus 88 tengah menyelidiki peristiwa konvoi tersebut, bekerja sama dengan unit kepolisian terkait lainnya. Hal itu guna menelusuri kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi dan bagaimana menyikapi selanjutnya.
“Kami lihat nanti, apakah ini akan mengarah ke tindak pidana terorisme atau tidak, nanti berdasarkan bukti-bukti yang akan kami kumpulkan,” jelas Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus) 88.
Dia berharap dengan memahami sejarah kelompok dan orang-orang yang terlibat dalam gerakan Khilafatul Muslimin, masyarakat bisa lebih waspada.
Terlebih lagi, beberapa orang di kelompok Khilafatul Muslimin juga pernah ditangkap karena terlibat terorisme dan radikalisme.
“Kami betul-betul mengimbau kalau ada orang yang mengajak lagi seperti itu (konvoi), pikirkan masak-masak berkali-kali, ya. Apabila melakukan dengan bergabung dalam kegiatan itu, ya bisa menghadapi konsekuensi hukum,” kata Aswin Siregar. (HS-08)