in

Sekali Tebas, Petani Muda Batang Ini Bisa Dapat Rp 2 Juta

Ade Rika Puspita, petani muda warga Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, menunjukkan hasil panen pisang dari kebun milik orang tuanya. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Keberhasilannya mengembangkan pertanian pisang canvendis dan tanduk gebyar, membuat Ade Rika Puspita (25), petani muda warga Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, dapat untung lumayan.

“Awal mula saya tertarik menjadi petani, karena melihat kebun orang tua yang kosong begitu saja, tidak dimanfaatkan,” kata perempuan yang telah dua tahun menekuni usaha berkebun pisang ini, seperti dirilis batangkab.go.id.

Melihat kebun kosong tersebut, Ade kemudian berinisiatif menanam pisang, yang dinilainya mudah dalam perawatan.

Kini di lahan 2.000 meter persegi yang dia garap, sudah terdapat 400 pohon pisang cavendis dan tanduk gebyar.

“Saya memilih pisang sendiri karena perawatannya cukup mudah tinggal diberikan pupuk kandang, tanah di sekitar pohon pisang harus dibersihkan dari rumput pengganggu, dan penggemburan tanah supaya bonggol pisang berkembang,” terangnya.

Sistem panen di kebun Ade Rika ini juga bertahap. Jika sudah ada yang siap panen, langsung sudah ada yang menebas atau memborong.

Sekali menebas atau memborong pisang, Ade dapat memperoleh penghasilan Rp 2 juta dan dengan hasil itu dia bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Ade mengakui, tak banyak pemuda yang berminat menjadi petani. Padahal menjadi petani, memberikan banyak kemudahan.

Salah satunya adalah tak perlu memakai pakaian bagus layaknya pegawai kantoran, setiap kali hendak ke kebun.

Waktu kerjanya di kebun juga fleksibel. Dia tak harus tepat waktu untuk berangkat dan pulang ke kebun. Dengan begitu dia bisa melakukan kegiatan lain, selain menjadi petani.

Tetapi menjadi petani juga harus mempunyai rasa mencintai pekerjaannya.

“Semoga ke depan banyak bermunculan petani milenial yang inovatif dan mempunyai jiwa pertanian yang tinggi,” ujar dia.

Untuk diketahui pisang cavendish merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di dunia. Di Indonesia, pisang ini lebih dikenal dengan sebutan pisang ambon putih.

Pisang cavendish banyak dikembang biakan menggunakan metode kultur jaringan.

Adapun Keunggulan bibit pisang hasil kultur jaringan, dibandingkan dengan bibit dari anakan adalah bibit kultur jaringan, adalah terbebas dari penyakit seperti layu moko akibat Pseudomonas solanacearum dan layu panama akibat Fusarium oxysporum cubense.

Adapun pisang tanduk atau pisang agung, adalah salah satu kultivar pisang yang populer di Indonesia, sebagai bahan dasar pembuatan pisang goreng.

Di Pulau Jawa, pisang ini dikenal sebagai pisang byar, karena jantungnya yang langsung habis tanpa menyisakan bunga (mandul).

Di India, pisang ini biasa disebut pisang changalikodan nendran dan di Kolombia dinamai Dominico-Harton.

Pisang Tanduk atau pisang tangkoon dalam bahasa Karo, termasuk dalam kelompok plantain atau pisang olah, yaitu pisang yang tidak dapat dimakan langsung tetapi digunakan untuk membuat olahan makanan. (HS-08)

 

Kodim 0721/Blora – DPUPR Berkolaborasi Giatkan Penghijauan di Desa Geneng

Perebutkan 99 Lowongan, 214 Calon Perangkat Desa Asal Batang Ikuti Tes di Pekalongan