in

Saat Bukit Dikepras dan Laut Diurug, Cara Mudah Mengundang Bencana

Gambar ilustrasi AI.

PAGI di Kota Semarang selalu punya cerita sendiri. Dulu, saat matahari baru nongol dari timur, kabut tipis menyelimuti lereng-lereng hijau di Tembalang, membuat kota ini terasa seperti lukisan lama yang tenang.

Kini, suara deru alat berat menggantikan kicau burung, dan debu beterbangan seperti pesta yang tak direncanakan. Bukit-bukit di sana, yang seharusnya jadi penyangga alam, kini berubah wujud jadi fondasi perumahan elit dan urugan proyek jalan tol.

Bukan rahasia lagi, pengerukan tanah di wilayah Tembalang, Gunungpati, dan Ngaliyan sudah jadi rutinitas harian, seolah alam ini cuma lahan kosong menunggu sertifikat hak milik.

Di Brown Canyon, bekas tambang di Rowosari, Tembalang yang dulu jadi ikon alam, kini lebih mirip lubang raksasa yang menguap karena haus akan rumah-rumah bergaya Eropa. Ironisnya, warga yang tinggal di sekitarnya justru yang paling kena getahnya, air resapan hilang, sungai mengeras, dan banjir jadi tamu tetap setiap musim hujan.

Lihat saja apa yang terjadi di Tembalang. Bukit Mangunharjo dan Rowosari, yang dulu ditumbuhi pohon-pohon rindang, kini mulai jadi medan perang antara buldoser dan akar-akar tua.

Konflik lingkungan meledak di sana, erosi tanah yang bikin sungai tercemar dan longsor mengancam. Tak jauh beda di Gunungpati, di mana lereng-lereng curam mulai digali untuk proyek permukiman.

Alat berat datang bergelombang, meninggalkan bekas seperti gigitan raksasa pada tubuh bukit. Hasilnya, wilayah hijau di Semarang atas menyusut drastis, dari yang dulu luas seperti karpet hijau kini cuma sisa-sisa seperti kain lap usang.

Dan Ngaliyan? Kawasan itu malah jadi contoh sempurna bagaimana penebangan hutan kecil-kecilan berubah jadi domino bencana. Penebangan untuk akses jalan perumahan elite membuat tanah longgar, siap ambruk saat hujan deras turun.

Model pembangunan seperti ini, yang lebih mementingkan dinding bata daripada akar pohon, sudah jadi pola nasional. Tapi di Semarang, rasanya seperti pesta tanpa undangan untuk banjir.

Sementara itu, di sisi lain kota, penimbunan laut tak kalah heboh. Pantai utara Semarang, yang dulu jadi penyangga ombak, kini ditumpuk tanah urugan hasil “mengeperas” bukit demi lahan baru untuk perumahan elite dan jalan tol. Air tanah diekstrak seenaknya, membuat tanah kota ini amblas pelan-pelan seperti es krim di bawah matahari siang.

Warga pesisir mengeluh, tapi proyek tetap jalan, seolah laut ini cuma genangan air yang bisa dibeli.

Lihat saja dampaknya, banjir menahun di utara kota, di mana kali-kali yang dulu tenang kini meluap karena tak ada lagi bukit yang menahan air hujan. Ini bukan sekadar cerita lokal, ini pelajaran murah yang sering diabaikan, sampai alam balas dendam dengan tagihan mahal.

Nah, kalau Semarang masih di tahap “eksperimen”, Sumatera sudah dapat ujian akhir yang tragis. Baru-baru ini, banjir bandang dan longsor menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menelan hampir 900 nyawa per 6 Desember 2025.

Ratusan desa lenyap, tersapu air yang datang tiba-tiba, berubah jadi aliran sungai permanen. Apa pemicunya? Bukan cuma hujan deras, tapi juga penebangan hutan lebat untuk perumahan dan perkebunan yang membuat tanah tak lagi pegat.

Di Agam, Sumatera Barat, 171 jiwa raib dalam semalam, sementara di Sumatera Utara, 318 korban tersebar di 12 kabupaten. Ironinya, proyek-proyek itu dibangun atas nama kemajuan, tapi malah jadi batu sandungan bagi warga yang kehilangan rumah.

Warga Sumatera, yang dulu bergantung pada hutan sebagai pelindung, kini harus berenang di genangan air yang dulunya akar pohon. Dan pemerintah? Mereka sibuk hitung korban, sementara buldoser di tempat lain masih bernyanyi lagu pembangunan.

Di Kalimantan, peringatan banjir dan longsor musim hujan Desember ini datang bareng duka Sumatera, seolah alam bilang, “Hei, jangan anggap remeh tanah ini.”

Jadi, apa pelajarannya dari Semarang ke Sumatera dan Kalimantan? Manusia ini pintar banget bikin rumah dari “tanah curian”, tapi lupa kalau alam tak punya asuransi.

Di Semarang, bukit-bukit yang dikeruk itu sebenarnya penjaga banjir. Hilangkan mereka, berarti tips sederhana mengundang bencana.

Mungkin saatnya kita undang bukit-bukit itu ke rapat kota, beri mereka kursi VIP, dan tanya, “Mau tinggal atau pindah ke pulau buatan?” Atau lebih baik, tanam pohon di halaman belakang, biar anak cucu tak cuma warisi cerita longsor.

Kalau alam marah lagi, kita bisa bilang, “Maaf, kami pikir bukit itu cuma dekorasi.” Tapi siapa yang tertawa terakhir?

Pasti bukan kita.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)

Ahmad Luthfi Tegaskan Tidak Boleh Ada Penambangan di Kawasan Gunung Slamet

Sekjen Liga Muslim Dunia Sebut Indonesia Negara dengan Praktik Kerukunan Terbaik