PAGI ini, seperti biasa, alarm berdering pukul enam. Pardi, sopir truk muatan tanah galian asal Tembalang dengan semangat menyeruput kopi hitam panas, siap mengirim muatan ke wilayah Kaligawe. Tapi begitu roda mengaspal, semuanya berubah. Air setinggi betis menyambut di Jalan Kaligawe, bukan salam pagi yang hangat, melainkan genangan dingin yang licin.
“Lagi-lagi ini,” gumamnya sambil memutar setir, tapi truknya malah mandek.
Di sekitar, ratusan kendaraan lain ikut bergabung dalam pesta tak diundang: mobil, motor, bahkan angkot yang biasanya lincah kini terperangkap seperti ikan di akuarium bocor.
Kamis, 23 Oktober 2025, banjir datang lagi ke Kaligawe, seperti tamu tak diinginkan yang selalu muncul tepat waktu. Genangan air mencapai 30 sentimeter, cukup untuk merendam ban mobil dan membuat sopir truk memutuskan bermalam di jalan, bukan di losmen murah.
Jalur Pantura Semarang-Demak lumpuh total, 20 kilometer yang biasanya ditempuh sejam kini butuh 12 jam. Pardi dan sopir-sopir lain jadi saksi hidup: duduk di kabin, makan mi instan dingin, sambil mendengar radio yang masih nyanyi tentang cuaca cerah di daerah lain.
Dari simpang Genuk hingga depan RSI Sultan Agung Jalan Kaligawe, genangan air mengalir deras, membawa sampah dan mimpi buruk bagi warga Semarang.
Dampaknya? Oh, jangan ditanya. Macet tak cuma di pinggir kota, tapi merayap masuk ke pusat seperti virus yang tak kenal lelah. Exit tol Krapyak jadi arena gladiator: pengendara saling berebut lajur sempit, klakson berdering seperti orkestra gagal.
Exit tol Gayamsari dan Jalan Majapahit seakan jadi tempat antre ribuan roda empat yang terjebak. Dan Kaligawe sendiri, ya Tuhan, itu bukan jalan lagi, tapi sungai mini dengan arus lalu lintas yang berhenti di tengah.
Polisi lalu lintas dikerahkan 24 jam, tapi apa daya? Mereka pun basah kuyup, mengatur arus yang lebih mirip tarian chaos daripada pergerakan teratur. Warga Tugu, yang biasanya bisa nyampe kantor di tengah kota dalam 30 menit, kini harus tambah satu jam ekstra, cukup waktu untuk mendengarkan seluruh playlist lagu dangdut di ponsel.
Di X, alias Twitter dulu, keluhan mengalir deras seperti air banjir itu sendiri. “Macet parah dari barat ke kota, truk pada parkir di Jalan Arteri Yos Sudarso,” tulis seorang pengguna, disusul komentar lain: “Efek banjir Kaligawe sampe Semarang Barat, jan nyrimpeti wong kerjo.”
Banjir tahunan ini memang sudah jadi cerita lama, tapi tahun ini terasa lebih dramatis. Hujan deras semalam, tambah luapan sungai, dan jalan raya berubah jadi kolam renang gratis.
Sopir truk bercerita ke media, bilang mereka tidur di kabin karena tak bisa maju mundur. Sementara ibu-ibu di rumah, nunggu suami pulang, malah harus masak nasi untuk makan malam untuk suaminya yang entah kapan datang.
Pelantikan Pejabat
Tapi tunggu dulu, cerita tak lengkap tanpa babak ironisnya. Saat warga Semarang bergulat dengan air dan kemacetan, di Balai Kota Semarang yang kering kerontang, acara seremonial berlangsung mulus. Wali Kota melantik sembilan pejabat eselon II Pemkot Semarang.
Ya, tepat di hari yang sama, 23 Oktober 2025. Ruangan ber-AC dingin, pakaian rapi, dan mikrofon yang tak pernah mogok. Sembilan pejabat itu seolah siap menangani urusan kota yang katanya lebih baik lagi. Mereka berdiri tegak, sumpah jabatan dibaca lantang, sementara di luar sana, sumpah serapah warga banjir lebih keras dari petir.
Ironinya menggelitik, sementara sopir truk menghitung untung rugi karena muatan telat, buruh takut kena sanksi dari atasan akibat telat setelah terjebak banjir, pejabat baru ini hatinya sedang bahagia karena akan dapat tugas segar: mungkin mengurus drainase, atau lalu lintas, atau banjir tahunan yang sudah jadi legenda urban Semarang.
Tapi acara itu berjalan tanpa hambatan, tak ada genangan di karpet merah, tak ada macet di koridor gedung. Ibu Wali Kota Semarang menyampaikan pesan biasa: kerja keras, integritas, dan janji tak ada sogok-menyogok.
Bagus sekali, tapi di luar, warga bertanya-tanya: integritas itu termasuk bikin got tak mampet, nggak? Atau kerja keras berarti langsung turun ke lapangan, bantu dorong motor mogok? Sepertinya pejabat baru ini harus belajar berenang dulu sebelum naik pangkat.
Kalau banjir ini pesta rakyat, pelantikan itu pesta elite. Warga mandi hujan paksa, pejabat mandi pujian sukarela. Truk terjebak macet berjam-jam, sementara kursi jabatan baru langsung empuk.
Banjir ini memang rutin, tapi solusinya? Masih seperti janji politik: datang, bicara, lalu hilang ditelan awan.
Lalu lintas mulai mencair pelan-pelan menjelang malam, tapi luka hatinya tetap.
Buruh pabrik di sekitar Kaligawe dan Pelabuhan Tanjung Emas akan tetap naik motor melewati genangan, tetap klakson di tengah kemacetan, dan tetap tweet keluhan sambil tertawa getir.
Akhirnya, kalau Semarang ini kapal karam di lautan macet, setidaknya kita punya pelampung: humor.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)