HALO SEMARANG – Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Pagaran Honas di Hamente, wilayah Keuskupan Sibolga, yang rusak berat akibat diterjang banjir bandang pada November 2025 silam, kini mulai dibangun kembali.
Peletakkan batu pertama pembangunan gereja ini, dilakukan Plt Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, A M Adiyarto Sumardjono, baru-baru ini.
Hadir dalam acara itu, Uskup Sibolga Mgr Fransiskus, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Bunyamin OSC, Ketua Badan Pembina Yayasan Karina KWI Mgr Sudarso, dan Direktur Urusan Agama Katolik, Salman Habeahan.
Pembangunan gereja tersebut, didukung bantuan Kementerian Agama yang merupakan bagian dari total anggaran Rp28,9 miliar, untuk pemulihan fasilitas keagamaan terdampak banjir di wilayah Sumatra Utara dan Aceh.
“Bantuan itu tidak berhenti pada pembangunan fisik. Di balik setiap bangunan yang dipulihkan, ada kebutuhan umat untuk kembali beribadah, berkumpul, dan menjalani kehidupan dengan rasa aman,” ujar Plt Dirjen Bimas Katolik, baru-baru ini, seperti dirilis kemenag.go.id.
Dari Hamente, kunjungan Plt Dirjen berlanjut ke sejumlah gereja Katolik yang terdampak bencana, di wilayah Keuskupan Sibolga.
Beberapa di antaranya rusak berat dan membutuhkan relokasi untuk pembangunan kembali.
Di setiap lokasi, Plt Dirjen didampingi Direktur Urusan Agama Katolik, melihat langsung kondisi bangunan dan mendengarkan kebutuhan umat.
Pemulihan diarahkan agar tidak sekadar mengembalikan apa yang telah rusak, tetapi juga memastikan umat memiliki tempat ibadah yang lebih aman untuk digunakan dalam jangka panjang.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Seminari Menengah St. Petrus Keuskupan Sibolga.
Di lembaga pendidikan calon imam itu, perhatian diarahkan pada keberlanjutan proses pendidikan yang juga terdampak kondisi lingkungan dan bencana.
Kementerian Agama memberikan dukungan untuk renovasi ruang kelas serta penataan parit dan saluran air agar lingkungan seminari lebih aman dari ancaman banjir.
Dari gereja hingga seminari, pemulihan berjalan dengan satu tujuan: memastikan kehidupan umat tidak berhenti karena bencana.
Bangunan diperbaiki, lingkungan ditata, dan ruang pendidikan dipersiapkan kembali agar aktivitas masyarakat dapat berangsur normal. (HS-08)


