in

Roy Amazon, Dulu Calo Angkot di Terminal, Kini GM Hotel Dafam Semarang

SELALU tampil ramah dan supel saat bertemu tamu dan klien kuat melekat pada sosok pria dengan nama lengkap Muhammad Roy Amazon, yang saat ini menjabat sebagai General Manager (GM) Hotel Dafam Semarang sejak Desember 2022 lalu. Pria kelahiran Jakarta 1979 ini, mengaku punya keinginan yang kuat dalam pencapaian target yang ditetapkan saat berkarir di dunia perhotelan. Menurut Roy, panggilan akrabnya, dirinya punya sebuah motto hidup yang selalu dipegang teguh sebagai motivasi dalam bekerja, yaitu “I Sell The Box”. Karena kalau menjadi seorang Put the Box saja, kata Roy, itu tidak cukup untuk bisa memaksimalkan potensi untuk mencapai target, yakni mendapatkan revenue dan keuntungan di dunia perhotelan.

“Kreatifitas, improvisasi, dan selalu up to date, berani mengambil resiko dan disiplin menjadi sebuah kolaborasi yang sangat serasi dalam dunia hospitality ini,” terang Roy, Rabu (3/5/2023).

Meski baru menginjak enam bulan di Hotel Dafam Semarang, dirinya dikenal dengan pemimpin yang memiliki visi dan misi yang ingin selalu fokus pada kepuasan tamu (customer satisfaction), menyenangkan karyawan (employer satisfaction), dan pencapaian target maksimal sesuai diinginkan manajemen dan pihak pemilik (Owner).

Roy berharap, dengan pengalaman yang dimilikinya itu, dirinya merasa optimis bisa membawa hotel Dafam Semarang lebih kompetitif dan berdaya jual tinggi di Kota Semarang.

“Tentunya, kami punya staff yang berkualitas juga ramah, kualitas kebersihan dan kualitas produk adalah beberapa bagian penting dari operasional hotel yang selalu diperhatikan dengan sangat detail. Hal inilah menjadi cikal bakal agar memberikan kepuasan tamu saat menginap di hotel kami,” imbuhnya.

Selama berkecimpung di bidang perhotelan selama lebih dari 20 tahun menekuni profesinya, dirinya tidak hanya berkiprah di dalam negeri saja, namun Roy pernah sempat merasakan atmosfer dunia perhotelan di mancanegara.

“Banyak pengalaman yang bisa diambil selama bekerja di negara Timur Tengah, mulai dari disiplin, komitmen, fokus bekerja serta detail dengan pekerjaan. Diperlukan untuk peningkatan kualitas kerja, pembentukan mental dan pastinya bisa bekerja dengan staff dari berbagai negara di dunia sangat seru dan menyenangkan,” papar pria yang senang memotivasi dan penuh senyum ini.

Sebelum terjun ke dunia perhotelan, Roy sempat memiliki cita- cita menjadi seorang sutradara film. Namun, cita-citanya yang tidak pernah tercapai, dikarenakan terbentur dengan kurangnya biaya untuk kuliah di jurusan perfilman. Akhirnya Roy memutuskan untuk menerima kenyataan dan siap bergelut dengan kerasnya Ibu Kota Jakarta. Pada periode tahun 1996 sampai 2000, dia bahkan sempat melakoni menjadi calo angkot, bus angkutan umum, dan penjaga wartel di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur saat itu.

Pekerjaannya itu dilakukan di sela-sela waktu sekolahnya semasa menempuh pendidikan SMA dan kuliah agar bisa bertahan hidup dikerasnya kehidupan di ibukota.

“Alhamdulilah sehari waktu itu saya bisa dapat uang sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 45 ribu dan uangnya saya kumpulkan untuk makan sehari -hari dan biaya bergaul di Jakarta,” katanya.

Dan yang serunya lagi, kata Roy, karena setiap hari dia harus terus waspada dan siap untuk memperebutkan wilayah “kekuasaan” di Terminal Kampung Melayu dari kampung sebelah. “Bahkan kadang harus terlibat perkelahian dan kerap berurusan dengan kepolisian pada saat itu,” katanya.

Akhirnya, Roy, tidak ingin terus dalam kondisi seperti itu. Karena sering melihat preman-preman tua di Terminal Kampung Melayu hanya lalu lalang saja, dan meminta-minta rokok, kopi bahkan makanan ke sopir angkot, bus dan tidak dihargai lagi. Serta menjadi beban bagi keluarga dan masyarakat sekitar. “Mulai dari sana, saya memutuskan untuk keluar dari kehidupan di Terminal Kampung Melayu. Saya tidak ingin di saat saya tua masyarakat sekitar bahkan keluarga menganggap saya sebagai beban dan benalu buat mereka,” ujar Roy.

Oleh karena itu, Roy langsung banting stir dan segera mencari pekerjaan normal juga halal demi masa depannya.

Berawal karir di perhotelan, Roy dimulai sebagai tukang cuci piring pada tahun 2000 di salah satu restoran cepat saji di Plaza Indonesia Jakarta, dan sempat merasakan manisnya bekerja di dunia hiburan malam di Kota Jakarta. Selama periode tahun 2000-2005, Roy pun mencoba peruntungannya dengan melamar kerja di hotel-hotel yang ada di Jakarta, tetapi sayang karena tidak adanya pengalaman bekerja di hotel dan bukan lulusan sekolah perhotelan, akhirnya Roy selalu ditolak.

“Setelah lima tahun kemudian, pada 2005 saya mendapat kesempatan untuk pertama kalinya bekerja di luar negeri, bekerja di salah satu hotel bintang 5 di kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Dari pengalamannya itu, menurut saya, karyawan adalah aset yang harus dipertahankan. Pendekatan kepemimpinan yang saya pakai adalah gaya humanistik. Pendekatan humanis terhadap karyawan dan bawahan atau pendekatan langsung kepada karyawan adalah suatu cara yang paling ampuh dalam memimpin. Seperti memberikan motivasi dan melakukan kontrol terhadap kinerja mereka. Selain itu juga memberikan contoh bagaimana cara menerapkan etika yang baik dalam menyelesaikan pekerjaan mereka sehari-hari, sehingga dengan sendirinya kualitas pelayanan terhadap tamu akan semakin memuaskan tanpa harus diberikan perintah oleh atasannya,” jelas pria tiga anak itu.

Kesuksesan Roy tentunya tidak lepas dari peran istri, Syarifah Samsir, dan tiga orang puterinya, Kayla, Kyara dan Kirana Amazon. Sosok mereka inilah yang selalu setia mendampingi ayahnya bekerja dimanapun itu berada. (HS-06)

 

Fakultas Psikologi USM Lepas 151 Calon Wisudawan

Posko Terpadu Idul Fitri 1444 H Ditutup, Bandara Ahmad Yani Semarang Layani 137.071 Penumpang dan 1.152 Pesawat