in

Revitalisasi Tanjung Emas dan Dry Port Batang Dikebut Usai Lebaran 2026

Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar saat melakukan pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Senin, 16 Maret 2026.

HALO JAKARTA – Rencana revitalisasi Pelabuhan Tanjung Emas serta pembangunan dry port di Kabupaten Batang akan dibahas lebih mendalam usai Lebaran 2026. Proyek ini digadang-gadang menjadi kunci penguatan sistem logistik di Jawa Tengah yang tengah tumbuh pesat.

Hal tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, dengan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Taman Mini Indonesia Indah, Senin (16/3/2026).

“Pembahasannya mengenai penataan Pelabuhan Tanjung Emas dan rencana pembuatan dry port,” ujar Muchtasyar.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang ditopang pesatnya kawasan industri menuntut sistem logistik yang lebih kuat dan efisien. Salah satu solusi strategis adalah menghadirkan dry port yang terintegrasi dengan kawasan industri.

“Jawa Tengah memiliki banyak kawasan industri. Ini peluang yang harus kita jemput dengan menghadirkan dry port di sekitar industrial estate,” jelasnya.

Usai Lebaran, Pelindo berencana membentuk tim khusus untuk mempercepat realisasi proyek tersebut, sekaligus meningkatkan pengelolaan pelabuhan agar lebih optimal.

“Setelah Lebaran kita akan langsung bergerak cepat. Kita bentuk tim untuk mengembangkan dry port, dan pelabuhan juga kita tingkatkan pengelolaannya,” tegas Muchtasyar.

Gubernur Ahmad Luthfi menyambut positif rencana tersebut. Ia menilai penguatan infrastruktur logistik sangat mendesak, mengingat pergerakan kontainer dari Jawa Tengah masih didominasi melalui Jakarta dan Surabaya.

“Saat ini kontribusi pengiriman kontainer langsung dari Jawa Tengah baru sekitar 30 persen. Selebihnya masih bergantung ke Jakarta dan Surabaya,” ungkapnya.

Kondisi tersebut tak lepas dari keterbatasan kapasitas Pelabuhan Tanjung Emas yang dinilai belum mampu menampung kebutuhan logistik dari berbagai kawasan industri yang terus berkembang.

“Kalau pelabuhan tidak bisa menampung, maka alternatifnya kita harus siapkan dry port,” tambah Luthfi.

Salah satu lokasi yang diproyeksikan menjadi pusat dry port adalah kawasan industri di Batang, termasuk Kawasan Industri Terpadu Batang. Kawasan ini dinilai strategis karena terus berkembang sebagai magnet investasi baru di Jawa Tengah.

Selain itu, konsep pengembangan dry port juga telah dibahas bersama PT Kereta Api Indonesia, termasuk kemungkinan integrasi jaringan logistik berbasis kereta api. Ke depan, dry port di Batang juga direncanakan terhubung dengan titik serupa di Kabupaten Kendal.

Dengan sinergi tersebut, diharapkan distribusi logistik dari kawasan industri menuju pelabuhan menjadi lebih cepat, efisien, dan berdaya saing tinggi.

Revitalisasi pelabuhan dan pembangunan dry port ini pun diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan logistik ke luar daerah, sekaligus mendorong daya saing industri Jawa Tengah di tingkat nasional maupun global.(HS)

Mudik Gratis KA Diserbu Perantau, Warga Akui Bisa Hemat hingga Ratusan Ribu Rupiah

Modus THR ‘Cashback’ Terbongkar di Semarang, DPRD Terima 16 Aduan Pelanggaran