HALO SEMARANG – Anggota Komisi I DPR RI Iman Sukri mendesak pemerintah segera menerbitkan peringatan bepergian (travel warning) bagi Warga Negara Indonesia (WNI), yang hendak menuju Yaman dan wilayah konflik lainnya di Timur Tengah.
Desakan tersebut menyusul serangan terhadap kapal kargo MV Tihamah, oleh Houthi di kawasan Selat Bab el-Mandeb, Yaman, yang menyebabkan sejumlah WNI luka-luka.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi I DPR RI Iman Sukri, di Jakarta, Kamis (13/8/2026), menanggapi serangan kapal kargo MV Tihamah, oleh Houthi di kawasan Selat Bab el-Mandeb, Yaman.
“Kami meminta pemerintah segera mengeluarkan travel warning ke Yaman dan wilayah konflik lain di Timur Tengah bagi WNI mengingat situasi keamanan di wilayah tersebut semakin berisiko,” kata Iman, seperti dirilis dpr.go.id.
MV Tihamah diketahui diawaki 11 orang, terdiri atas delapan warga negara Pakistan dan tiga WNI.
Iman menilai meningkatnya risiko keamanan di perairan Timur Tengah yang membahayakan pelaut sipil harus menjadi perhatian serius pemerintah. Menurutnya, keselamatan WNI harus menjadi prioritas negara.
“Serangan terhadap kapal sipil menunjukkan risiko nyata bagi WNI, baik yang bekerja sebagai awak kapal maupun yang melakukan perjalanan ke kawasan tersebut,” ujarnya.
Politisi Fraksi PKB itu menjelaskan, penerbitan travel warning bukan sekadar pembatasan perjalanan, melainkan langkah perlindungan preventif agar masyarakat dapat mempertimbangkan risiko sebelum bepergian ke wilayah konflik.
“Apalagi saat ini situasi di Selat Hormuz maupun perairan di wilayah Timur Tengah kian memanas seiring konflik AS-Israel yang tak kunjung berakhir,” katanya.
Selain penerbitan peringatan bepergian, Iman meminta Kementerian Luar Negeri bergerak cepat memberikan perhatian penuh terhadap WNI, dalam insiden tersebut.
Pemerintah juga dinilai perlu memastikan seluruh hak dan kebutuhan korban terpenuhi.
Untuk diketahui, sebelumnya sejumlah media melaporkan tiga awak kapal termasuk satu WNI tewas imbas serangan ke MV Tihamah di Selat Bab Al Mandab pada awal pekan ini.
Namun kemudian Kementerian Luar Negeri Indonesia, memberi penjelasan bahwa WNI yang sempat dilaporkan tewas tersebut, masih dinyatakan hilang.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah menyampaikan pernyataan itu, saat konferensi pers di gedung Palapa, Kemlu, Jakarta, Kamis (13/9/2026).
“Untuk satu ABK lainnya masih belum ditemukan dan upaya pencarian serta penyisiran di wilayah laut masih terus dilakukan secara intensif oleh pihak-pihak terkait,” kata Heni.
Menurut Heni, status hilangnya WNI tersebut dikonfirmasi melalui note verbale (catatan verbal) dari Kementerian Luar Negeri Yaman.
Kemlu, lanjut Heni, akan terus melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan pelindungan para ABK termasuk mempersiapkan fasilitasi kepulangan ke tanah air setelah kondisi dan situasi memungkinkan. (HS-08)


