PERNAHKAN terpikir, kenapa negeri ini, yang dulu bikin orang Belanda, Portugis, dan negara Eropa lain rela berlayar ribuan mil hanya demi secuil cengkeh atau pala, sekarang lebih suka menggelar karpet merah buat pabrik-pabrik raksasa?
Ya, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) datang ke Nusantara pada abad XVI, bukan untuk liburan di pantai, tapi murni karena rempah-rempah yang bikin masakan Eropa tak lagi hambar.
Mereka bahkan mendirikan kongsi dagang raksasa itu untuk monopoli perdagangan, sampai-sampai bikin raja-raja lokal pusing tujuh keliling. Ironisnya, sekarang rempah itu masih jadi primadona dunia.
India misalnya, yang menjadi salah satu konsumen rempah terbesar di dunia. Tapi Indonesia malah sibuk undang investor asing buat bangun pabrik, sementara lahan pertanian banyak yang ngorok alias tidur pulas. Padahal, kalau digarap serius, rempah dan palawija bisa jadi mesin uang yang lebih hijau daripada pabrik berasap.
VOC begitu haus rempah sampai mereka kuasai Banda untuk pala dan Ambon untuk cengkeh, bikin harga rempah di Eropa melambung bak roket. Jan Pieterszoon Coen, si gubernur jenderal VOC yang terkenal galak, bahkan pindahin markas ke Batavia demi kendali perdagangan yang lebih ketat.
Hasilnya? Belanda kaya raya, sementara Nusantara jadi ladang eksploitasi. Cepat maju ke zaman sekarang, permintaan global buat rempah masih panas. Pasar herba dan rempah dunia diprediksi capai US$29,294 miliar pada 2025, dan loncat ke US$42,110 miliar di 2030.
Indonesia, sebagai produsen besar, ekspor rempahnya pada 2024 sudah tembus US$1,7 miliar untuk kopi, teh, dan rempah. Kapulaga saja, rempah khas kita, ekspornya lebih dari US$50 juta pada 2023.
Pemerintah bahkan targetin ekspor rempah US$2 miliar di 2024. Tapi, kenapa tak digenjot lebih kenceng? Malah, fokus ekonomi lebih ke industri pengolahan yang sumbang gede ke PDB, sementara pertanian cuma 11,31% pada 2024.
Lihat saja Jawa Tengah, provinsi yang tanahnya subur tapi banyak lahan tidur kayak lagi libur panjang.
Kodam IV/Diponegoro pernah garap 85,87 hektare lahan tidur buat tanam padi dan jagung, hasilnya lumayan. Di Moyudan, Sleman, 22 hektare lahan tidur dipanen raya padi. Bayangin kalau lahan-lahan itu ditanami rempah seperti jahe, kunyit, atau serai? Potensinya gede, karena Jateng punya iklim cocok dan tanah yang siap garap.
Tapi, alih-alih jadi pusat rempah dunia, kita lebih sibuk bangun pabrik. Investor asing datang, bikin pabrik sepatu atau elektronik, katanya buat ciptain lapangan kerja. Hasilnya? Lapangan kerja memang ada, tapi seringkali buruhnya capek karena ditekan dengan upah rendah, sementara petani rempah di desa masih bergulat dengan harga jatuh dan pupuk mahal.
Belum lagi masuknya secara diam-diam para pekerja asing yang membuat potensi pekerja lokal hanya sibuk buat lamaran pekerjaan.
Seperti Tambang Emas
Di era kolonial, rempah bikin VOC jadi perusahaan multinasional pertama di dunia, bahkan bagi saham buat investor. Sekarang, Indonesia ekspor rempah ke China sebagai tujuan utama, tapi volume masih naik-turun.
Pada Januari-November 2023, volume ekspor rempah capai 148,22 ribu ton, naik 29,77%. Tapi, kenapa tak maksimalkan? Mungkin karena pabrik kelihatan lebih modern, lebih “keren” di mata investor.
Jika digarap dengan serius, petani lokal seperti punya tambang emas di belakang rumah. Pertanian rempah bisa serap tenaga kerja lebih banyak, apalagi di desa-desa Jateng yang lahan tidurnya ribuan hektare.
Di Rembang, kelompok wanita tani ubah 1,2 hektare lahan tidur jadi kebun sayur. Kalau skalanya dibesarin buat rempah, bisa jadi devisa negara melonjak, tanpa asap pabrik yang bikin langit hitam.
Ekonomi Indonesia 2024 tumbuh 5,03%, dengan industri pengolahan jadi pilar utama. Pertanian tumbuh 3,2-3,4%, tapi ekspornya naik 5,32% di Januari 2024 saat sektor lain turun.
Industri agro tumbuh 5,20%, serap 9,37 juta tenaga kerja. Tapi, kenapa tak gabungkan? Garap pertanian rempah secara masif, lalu olah jadi produk ekspor.
Alih-alih, kita undang investor buat pabrik yang seringkali impor bahan baku. Kayak lagi punya resep masakan enak dari rempah sendiri, tapi malah pesan makanan cepat saji dari luar, instan pula.
Di Jateng, lahan tidur milik TNI dan Polri bisa diolah jadi tanah subur. Di Sukoharjo, 2 ribu meter lahan tidur jadi lumbung sayur. Potensi ini bisa bikin ekonomi desa hidup, kurangi urbanisasi ke kota buat kerja pabrik.
Akhirnya, kenapa Indonesia tak pilih jalur rempah? Mungkin karena pabrik kelihatan lebih megah, lebih mudah tarik foto selfie pejabat. Tapi, yuk pikir ulang. Garap lahan tidur di Jateng buat tanam rempah, ikuti jejak VOC tapi tanpa penjajahan.
Hasilnya, ekonomi naik, petani senang, dan dunia tetap kecanduan rempah kita.(Tulisan ini disempurnakan AI-HS)