HALO SEMARANG – Prevalensi kebutaan penduduk usia 50 tahun ke atas di Jateng, yang berada di angka 2,7 persen, berbanding tipis dengan rata-rata nasional, yang mencapai angka 3 persen.
Hal itu tercatat dalam laporan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB 2014-2016).
Menurut Presiden Direktur JEC Hospital and Clinic, Johan A Hutauruk, data tersebut menunjukkan bahwa masalah kebutaan masih banyak terjadi di masyarakat.
“Hal itu menjadi pekerjaan rumah bersama, karena kebutaan akan berdampak pada berbagai sektor termasuk perekonomian,” kata dia, Sabtu (29/1/2022), saat menghadiri peresmian RS Mata JEC Candi Semarang.
Dengan mengutip sejumlah survei ilmiah, Johan menerangkan, kebutaan berkontribusi terhadap resiko kerja serta mengalami depresi, khususnya person yang mengalami.
“Orang dengan kebutaan, tiga kali lebih berisiko kehilangan pekerjaan, serta mengalami depresi. Mereka juga tiga kali berisiko mengalami kecelakaan dalam kehidupan,” jelasnya.
Orang yang mengalami kebutaan dan kehilangan pekerjaan, perekonomian juga akan terganggu. Karena itu menurutnya, masalah kebutaan tersebut harus segera diatasi. Hal ini juga demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Yang terdampak bukan hanya kesehatan. Perekonomian juga akan terimbas, jika banyak orang mengalami kebutaan. Untuk itu semua pihak harus bekerja sama guna mengentaskan angka kebutaan di daerah hingga skala nasional,” tambahnya. (HS).