HALO SEMARANG – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, meminta warga yang tinggal di daerah lereng, untuk mewaspadai bahaya gerakan tanah atau longsor.
Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, Senin (31/1/2022) mengatakan pada musim hujan, umumnya tanah akan menjadi jenuh air dan bobotnya meningkat.
Pada daerah lereng, peningkatan bobot tanah ini akan meningkatkan risiko terjadinya gerakan tanah atau longsor. Terlebih jika di bawah lereng itu juga terjadi pengurangan daya dukung.
Sujarwanto memberikan contoh daerah lereng perbukitan di atas sungai. Pada musim hujan, berat tanah di kawasan itu tentu akan meningkat seiring peningkatan curah hujan.
Lereng menjadi tidak stabil dan kemungkinan terjadi longsor menjadi makin besar. Terlebih jika di bagian bawah lereng juga mengalami erosi, yang membuat daya dukungnya menjadi berkurang.
“Gangguan utamanya ada di dua faktor itu. Memang ada faktor di luar itu juga, misal terjadi gempa. Tapi yang kami waspadai di bulan depan (Februari) adalah karena air atau penambahan bobot dan gangguan daya tahan lereng oleh erosi itu,” jelas dia.
Lebih lanjut, dia juga menganjurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di setiap wilayah, agar bisa siaga, sekaligus berkoordinasi dengan TNI dan Polri.
BPBD perlu menyampaikan peringatan secara tertulis akan bahaya longsor, kepada masyarakat sekitar. Masyarakat juga perlu diajak untuk melakukan mitigasi dan melakukan antisipasi, yakni dengan memperkuat lereng di sekitar tempat tinggalnya.
Upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah, adalah memperkuat lereng dan menyempurnakan sistem drainase di daerah itu.
Dengan sistem drainase yang baik, air hujan tak banyak yang terserap oleh tanah, melainkan bisa dialirkan melalui saluran-saluran yang ada. Dengan demikian dapat mengurangi kemungkinan terjadinya longsor.
“Antisipasi di awal itu, mungkin potensi lereng bisa diperkuat. Misal dengan mengamati daerah yang berpotensi erosi atau mengurangi bobot masa air dengan membuat drainasi air yang baik,” pinta dia.
Dia menambahkan, pemetaan wilayah rawan longsor oleh Dinas ESDM, selama ini menggunakan metode deteksi kewilayahan, melalui peta dasar yang dibagi berdasarkan warna.
Pembagian warna tersebut, adalah merah untuk zona kerentanan tinggi, kuning untuk zona menengah, hijau untuk zona rendah, dan biru muda untuk zona sangat rendah. Pemetaan seperti itu sudah menjadi sistem baku.
Walaupun demikian, untuk daerah merah juga bukan berarti pasti terjadi longsor, demikian juga untuk daerah sedang atau rendah. (HS)