HALO SEMARANG – Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), membahas penguatan sinergi, kolaborasi, serta komunikasi strategis dalam memelihara kerukunan umat beragama di Indonesia.
Isu ini dibahas saat Kepala PKUB, Muhammad Adib Abdushomad, berkunjung ke kantor pusat KWI, Jakarta.
Kedatangan Kepala PKUB diterima Sekretaris Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAAK) KWI, Romo Aloysius Budi Purnomo, bersama Edi selaku perwakilan KWI.
Hadir juga, sejumlah pejabat fungsional PKUB, Ali Fakhrudin, Adimin Diens, dan Hery Susanto.
Adib Abdushomad memaparkan sejumlah program strategis PKUB, sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia, salah satunya early warning system (EWS) potensi konflik.
Menurutnya, EWS dirancang sebagai instrumen deteksi dini dan mitigasi konflik sosial, yang berdimensi keagamaan, di mana dinamika pelaporan yang kerap muncul berkaitan dengan persoalan pendirian rumah ibadah.
PKUB juga menawarkan KWI sebagai mitra kolaborator dalam pelaksanaan International Symposium for Peace, Integrity, and Responsive on Echo-Theology (Inspire).
“Di tengah penajaman program dan efisiensi anggaran, PKUB terus mendorong penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui pengembangan Early Warning System (EWS/Si-Rukun) dan International Symposium for Peace, Integrity, and Responsive on Echo-Theology,” ujar Adib di Jakarta, belum lama ini.
Romo Aloysius Budi Purnomo, menyambut baik inisiatif kolaborasi ini. Melalui semangat “Peradaban Kasih” yang dikembangkan oleh Komisi HAK di 38 keuskupan, KWI berkomitmen untuk berjalan bersama seluruh pihak tanpa diskriminasi dengan berpijak pada nilai-nilai Pancasila.
“Melalui semangat Peradaban Kasih yang dikembangkan oleh Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan di 38 keuskupan, KWI berkomitmen untuk berjalan bersama seluruh pihak tanpa diskriminasi, dengan berpijak pada nilai-nilai Pancasila,” ujar Romo Aloysius Budi Purnomo.
Pertemuan ini juga menyoroti pentingnya dialog kehidupan, mitigasi ego sektoral, tantangan polarisasi digital, hingga pelibatan generasi muda.
Dua pihak sepakat untuk menindaklanjuti peluang kerja sama dalam Inspire 2026, penguatan jaringan EWS, sinergi kepemudaan, hingga pengembangan ekoteologi lintas agama, demi merawat kedamaian dan kebersamaan umat beragama di Indonesia. (HS-08)


