in

Wamenag Tegaskan Keragaman Harus Dirawat dengan Harmoni dan Semangat Saling Membantu

Wamenag Muhammad Syafii didampingi Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menerima audiensi Panitia Tawur Agung Manca Wali Krama di Ruang Rapat Wamenag Kantor Kemenag RI. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Wakil Menteri Agama, Muhammad Syafii menegaskan bahwa keragaman merupakan keniscayaan yang diciptakan Tuhan. Keragaman tersebut harus dirawat dengan membangun kehidupan yang harmonis serta semangat saling membantu antarumat beragama.

Pesan ini disampaikan Wamenag saat menerima audiensi Panitia Tawur Agung Manca Wali Krama di Ruang Rapat Wakil Menteri Agama, Kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta, baru-baru ini.

“Keragaman adalah keniscayaan yang diciptakan oleh Yang Mahakuasa. Kita memang diciptakan berbeda-beda. Tugas kita adalah hidup bersama dan membangun harmoni,” ujar Wamenag, seperti dirilis kemenag.go.id.

Menurut Wamenag, tradisi saling mendukung dalam kegiatan keagamaan telah tumbuh kuat di tengah masyarakat Indonesia.

Umat beragama tidak hanya menghormati pelaksanaan ibadah agama lain, tetapi juga kerap terlibat dalam membantu kelancaran berbagai kegiatan keagamaan.

“Ketika umat Hindu menggelar kegiatan, saudara-saudara kita yang Muslim, Kristen, Buddha, dan umat agama lainnya ikut membantu. Begitu juga sebaliknya. Ini sudah menjadi tradisi baik bangsa Indonesia yang bersumber dari ajaran agama masing-masing,” tuturnya.

Wamenag menilai setiap agama mengajarkan umatnya untuk menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, dan menciptakan kehidupan yang damai.

Praktik gotong royong lintas agama yang berlangsung di Bali menjadi salah satu contoh nyata bagaimana nilai-nilai tersebut dijalankan dalam kehidupan masyarakat.

“Semua agama yang ada di Indonesia memiliki semangat yang sama dalam menyikapi perbedaan, yaitu membangun harmoni. Karena itu, saya senang sekali jika dapat hadir dan menjadi saksi kebersamaan tersebut,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Wamenag menyampaikan apresiasi atas undangan yang disampaikan Panitia Tawur Agung Manca Wali Krama kepada Menteri Agama.

Ia menjelaskan, kepastian kehadiran Menteri Agama maupun perwakilan Kementerian Agama akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu.

“Acara ini sangat besar karena dilaksanakan setiap sepuluh tahun. Tentu menjadi kegiatan penting. Jika Menteri Agama dapat hadir langsung, beliau yang akan datang. Namun, jika beliau berhalangan dan saya mendapat penugasan untuk mewakili, insyaallah saya siap hadir,” kata Wamenag.

Wamenag juga meminta agar jadwal kegiatan disampaikan sejak jauh hari sehingga dapat disesuaikan dengan agenda pimpinan Kementerian Agama.

Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam kegiatan keagamaan merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh umat beragama.

Wamenag Muhammad Syafii didampingi Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menerima audiensi Panitia Tawur Agung Manca Wali Krama di Ruang Rapat Wamenag Kantor Kemenag RI

Ketua Panitia Tawur Agung Manca Wali Krama, I Jero Saba, menjelaskan bahwa rangkaian upacara diselenggarakan di Pura Hulundanu Batur, Desa Songan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Keseluruhan rangkaian berlangsung mulai 12 Agustus hingga 6 Oktober 2026.

Rangkaian utama kegiatan meliputi Danu Kerthi pada 8 September 2026, Tawur Agung Manca Wali Krama pada 21 September 2026, serta Puncak Karya pada 26 September 2026.

Upacara keagamaan umat Hindu ini digelar setiap sepuluh tahun sekali dan diperkirakan dihadiri umat dalam jumlah besar.

Menurut I Jero Saba, upacara tersebut menjadi sarana memohon keselamatan, kesejahteraan, kesuburan, dan keharmonisan bagi masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi momentum penyucian alam, pelestarian Gunung dan Danau Batur, serta penguatan nilai Tri Hita Karana.

“Dalam perspektif masyarakat Bali, pemerintah memiliki peran penting untuk hadir dan menjadi saksi dalam pelaksanaan upacara ini. Karena itu, kami sangat mengharapkan kehadiran perwakilan Kementerian Agama,” ujar I Jero Saba yang turut didampingi Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija.

Ia menambahkan, pelaksanaan upacara melibatkan dukungan masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Keterlibatan lintas umat tersebut mencerminkan kuatnya kehidupan yang rukun dan harmonis di Bali.

“Masyarakat Bali sangat beragam, tetapi kami dapat hidup harmonis. Saudara-saudara Muslim juga banyak membantu pelaksanaan kegiatan ini. Kebersamaan seperti inilah yang terus kami jaga,” katanya.

Selain Menteri Agama, panitia juga mengundang Presiden Republik Indonesia, Menteri Kebudayaan, Menteri Pariwisata, Gubernur Bali, serta unsur pemerintah daerah, lembaga adat, organisasi keagamaan, dan masyarakat.

Kehadiran pemerintah diharapkan memperkuat dukungan terhadap kehidupan keagamaan, pelestarian budaya Hindu Bali, perlindungan lingkungan, serta pengembangan pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan. (HS-08)

 

Kemenag Tegaskan Kekerasan Bukan Solusi atas Konflik Tempat Ibadah

Gelar Festival Aspirasi di Temanggung, DPR Dorong Pemerintah Lindungi Produk Tembakau Dalam Negeri