TAK hanya berjuang melawan kemiskinan, Poniem, wanita paruh baya, warga Dukuh Kedung Bagong, Desa Cemeng, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, juga digerogoti penyakit kanker yang bersarang di mata dan lengannya.
Penderitaan Poniem seolah tak berhenti di situ. Bahkan penyakit yang ia derita juga diidap putri darah dagingnya, yang kini baru menginjak usia 12 tahun.
Bocah malang itu menderita kanker ganas yang kian hari kian membesar, menyelimuti sebagian wajah mungilnya. Senyum ceria khas anak-anak seolah terkubur oleh benjolan besar yang terus tumbuh, memaksanya menahan rasa sakit setiap detik.
Untuk menyambung hidup dan membeli sesuap nasi, Poniem yang harus berjuang sendiri, terpaksa bekerja sebagai pencari botol plastik bekas. Setiap hari, di bawah terik matahari atau guyuran hujan, ia menyeret langkah kakinya yang sakit demi mengais rupiah dari tumpukan sampah.
Pendapatannya dari pencari botol plastik bekas yang tak menentu, ternyata tidak mampu untuk biaya pengobatan. Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari pun mereka sering kekurangan.
Selain itu, berobat ke spesialis penyakit kanker di rumah sakit (RS) bukanlah hal mudah. Permasalahan biaya adalah hal utama menjadi hambatan. Begitu juga untuk ongkos bolak balik ke RS, Poniem mengaku mengalami kesulitan.
Warga sekitar dan masyarakat Sragen pun berharap, ada bantuan Presiden RI Prabowo Subianto, agar Poniem bersama putrinya bisa berobat sampai sembuh. Karena ini kanker ganas maka tentu harus dirawat secara khusus.
Tak sampai di situ, kemalangan keluarga ini kian lengkap, karena mereka tidak memiliki tempat berteduh milik sendiri. Saat ini, Poniem dan putrinya terpaksa harus hidup menumpang di rumah salah satu saudaranya.
Pihak Pemerintah Desa Cemeng pun tidak tinggal diam melihat penderitaan warganya tersebut. Kepala Desa Cemeng, Widayat mengungkapkan, pihak pemdes beserta warga sekitar telah berupaya memberikan bantuan pelayanan yang paling maksimal.
Berbagai pintu bantuan pun telah diketuk demi meringankan beban Poniem sekeluarga. Mulai dari bantuan sosial pemerintah hingga jaminan kesehatan.
“Kami dari Pemerintah Desa Cemeng bersama warga sudah berbuat seoptimal mungkin. Kami terus mengupayakan dan mencarikan bantuan, baik itu dari program pemerintah daerah maupun berkoordinasi dengan Baznas Sragen, agar keluarga Ibu Poniem ini mendapatkan penanganan yang layak,” ungkap Widayat dengan nada prihatin, Rabu (8/7/2026).
Kades Cemeng menyebut, bahwa jalur pengobatan sebenarnya sempat menemui titik terang pada tahun 2022 lalu, ketika sebuah Rumah Sakit TNI di Surabaya menawarkan operasi gratis untuk menyembuhkan kanker di wajah putri dari Poniem. Hanya saja, tawaran itu terpaksa ditolak dengan pelukan penuh air mata.
“Pasalnya, saat itu dokter menyatakan, jika tingkat keberhasilan operasi hanya 50:50, sebuah angka yang memicu trauma mendalam di benak sang ibu. Ketakutan itulah yang menjadi alasan Ibu Poniem, dan menyayat hati siapapun yang mendengarnya,” jelas Widayat.
Kades Cemeng juga menyabut, jauh sebelum ini, anak pertama Poniem juga mengalami nasib serupa. Di mana pasca menjalani operasi pengangkatan kanker yang berada di bagian dubur, anak pertamanya itu justru mengembuskan napas terakhir.
“Bayang-bayang kehilangan anak untuk kedua kalinya itulah, yang membuat Ibu Poniem tidak sanggup mengizinkan putrinya untuk naik ke meja operasi di Surabaya kala itu,” imbuh Widayat.
Meski demikian, ikhtiar medis tidak sepenuhnya terhenti. Hingga saat ini, putri dari Poniem tercatat sudah menjalani dua kali tindakan operasi di Rumah Sakit Moewardi Solo.
Pihak Pemerintah Desa Cemeng pun menunjukkan komitmennya dengan selalu menyediakan armada mobil layanan beserta seluruh biaya operasionalnya untuk perjalanan pulang pergi, demi memastikan Poniem dan putrinya bisa melakukan pemeriksaan rutin setiap bulan ke Solo tanpa perlu memikirkan biaya transportasi.
Persoalannya tidak itu saja, untuk kasus kanker ganas pasien memang harus menginap sampai ada kepastian tindakan dan pengawasan setelah operasi, agar keselamatan pasien bisa diawasi dengan optimal.
Sementara terkait kondisi hunian Poniem dan putrinya, saat ini sudah diusulkan masuk dalam program bedah rumah. Pihak pemerintah desa pun siap mengawal terus prosesnya.
“Insya-Allah tahun ini terealisasi untuk pembangunan rumah untuk keluarga Ibu Poniem,” jelas Widayat.
Salah seorang warga setempat, Wahyudi berharap, ada keajaiban mendesak dan uluran tangan lebih luas dari para dermawan untuk membantu kesembuhan serta kelayakan hidup Poniem dan putrinya tersebut.
“Kami para tetangga benar-benar prihatin melihat kondisi Bu Poniem dan putrinya. Setiap hari melihat mereka sakit-sakitan tapi masih harus cari botol bekas. Kami warga di sini selalu siap membantu semampu kami, dan kami sangat bersyukur Pak Lurah selalu siaga mengantar mereka berobat tiap bulan ke Solo. Semoga ada mukjizat untuk kesembuhan mereka,” ungkapnya.(HS)


