PROGRAM Mudik Gratis yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak hanya dimanfaatkan pekerja informal seperti buruh harian dan asisten rumah tangga. Para penyandang disabilitas juga ikut merasakan manfaat program tersebut, dengan pelayanan yang dinilai semakin ramah dan membantu.
Salah satunya dialami Agus, pemudik difabel tunanetra yang akan pulang menuju Terminal Tirtonadi di Surakarta. Ia mengaku senang bisa kembali mengikuti program mudik gratis setelah sempat terhenti beberapa tahun akibat pandemi.
“Senang sekali bisa ikut mudik lagi. Informasi yang saya dengar di radio ternyata benar, tidak bohong,” kata Agus saat bersiap berangkat dari halaman Museum Purna Bhakti Pertiwi TMII di Jakarta, Senin (16/3/2026).
Bagi Agus, program mudik gratis sangat membantu karena ia tidak perlu mengeluarkan biaya perjalanan. Uang yang dimiliki bisa dialihkan untuk kebutuhan lain selama Lebaran.
“Yang penting bisa buat makan, beli baju atau celana, itu sudah alhamdulillah. Mudik gratis ini sangat membantu karena tidak perlu keluar ongkos,” ujarnya.
Sehari-hari Agus bekerja serabutan di Jakarta membantu temannya, mulai dari mencuci sprei hingga pijat. Ia berharap program mudik gratis tetap dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang.
“Semoga tahun depan masih ada mudik gratis lagi,” harapnya.
Agus juga mengapresiasi pelayanan petugas yang dinilai ramah terhadap pemudik difabel. Sejak tiba di lokasi keberangkatan, ia mengaku mendapatkan bantuan hingga menuju bus yang akan membawanya pulang kampung.
“Tadi diantar sampai ke sini dan dilayani dengan baik. Pelayanannya bagus dan memuaskan,” ungkapnya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Sugiyanto (44), penyandang difabel lain yang akan mudik ke Kabupaten Boyolali. Menurutnya, antusiasme masyarakat mengikuti program mudik gratis tahun ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sebagian besar peserta mudik, kata dia, berasal dari kalangan pekerja nonformal seperti buruh harian, pekerja rumah tangga, pekerja proyek bangunan, hingga pengemudi ojek online.
Sugiyanto menilai pelayanan bagi kelompok difabel dan lansia terus mengalami perbaikan. Bahkan kini terdapat prioritas pendaftaran bagi mereka melalui Badan Penghubung Jawa Tengah di Jakarta.
“Teman-teman difabel dan lansia terlayani dengan baik. Bahkan ada prioritas pendaftaran,” katanya.
Meski demikian, ia menilai masih ada beberapa tantangan di lapangan, terutama bagi difabel netra maupun pengguna kursi roda. Namun secara umum fasilitas bus dinilai cukup nyaman dan relatif ramah difabel.
“Kalau difabel fisik relatif aman. Busnya juga nyaman,” ujarnya.
Program mudik gratis ini juga melibatkan berbagai paguyuban perantau Jawa Tengah di Jakarta. Humas Perkumpulan Masyarakat Batang, Mardiyono, menyebut antusiasme masyarakat setiap tahun sangat tinggi.
“Peminatnya luar biasa. Banyak pekerja informal seperti penjahit, buruh, pedagang, hingga ibu rumah tangga yang ikut,” katanya.
Namun, menurutnya, kuota bus yang tersedia sering kali belum mampu menampung seluruh peminat. Karena itu, ia berharap jumlah armada dapat ditambah pada tahun-tahun mendatang.
“Harapannya jumlah bus bisa ditambah karena antreannya masih panjang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Sugeng Afrianto dari Paguyuban Banjarnegara. Ia menilai kenaikan harga tiket angkutan umum menjadi salah satu faktor meningkatnya minat masyarakat mengikuti program mudik gratis.
“Sekarang harga tiket naik, jadi banyak pekerja seperti driver, ojek online, pedagang yang sangat terbantu dengan program ini,” katanya.
Para pemudik diberangkatkan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan program ini secara maksimal.
Program tersebut mengusung slogan “Jateng Mudik Gampang, Balik Tenang”, yang bertujuan membantu para perantau pulang kampung dengan aman, nyaman, dan tanpa biaya perjalanan.(HS)