in

Marak Kasus Perundungan di Kalangan Pelajar, Begini Tanggapan Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Maraknya kasus perundungan atau bullying di lingkungan pelajar mendapatkan sorotan dari banyak pihak. Selain kasus di Bandung dan Lampung Tengah, kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pelajar baru saja terjadi di Kabupaten Tapanuli Selatan. Untuk kasus yang juga mendapatkan sorotan dari Menko Polhukam, Mahfud MD tersebut, seorang pelajar terekam video menendang seorang nenek di pinggir jalan.

Di Jawa Tengah sendiri, kasus perundungan di kalangan pelajar juga terjadi di Sragen. Kasus yang terjadi pada Kamis (3/11/2022) itu menimpa salah satu siswi kelas X SMA Negeri 1 Sumberlawang Kabupaten Sragen. Lantaran tidak memakai jilbab, guru matematikanya menegur hingga memarahi siswi tersebut saat jam pelajaran berlangsung.

Menanggapi maraknya kasus yang tak terpuji tersebut, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Heri Pudyatmoko mengaku prihatin dan menyayangkan peristiwa yang terjadi di banyak daerah akhir-akhir ini itu. Ia pun meminta pihak-pihak yang terlibat di dalam kasus tersebut untuk dapat menyelesaikannya secara kekeluargaan.

“Perundungan itu tidak seharusnya dilakukan dengan motif apapun. Setiap pihak harus menghargai dan menghormati hak, pilihan, dan prinsip yang dimiliki masing-masing individu. Peran keluarga juga sangat penting dalam mendidik anak-anaknya. Tidak hanya dibebankan kepada pihak sekolah saja,” tegas politisi Partai Gerindra tersebut.

Lebih lanjut, untuk mengantisipasi agar peristiwa saemacam itu tidak terjadi lagi di lembaga pendidikan, Heri Pudyatmoko menilai bahwa pemahaman nasionalisme dan moderat sangat penting untuk ditanamkan kepada guru, siswa, dan seluruh civitas akademik. Termasuk juga di lingkungan keluarga siswa.

Pancasila

Dengan begitu, nantinya seseorang akan semakin menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan meskipun memiliki perbedaan. Semua saling terikat satu sama lain dalam satu rumah meskipun penghuninya multikultur.

“Pancasila harus menjadi dasar kehidupan bernegara. Sehingga tidak ada paksaan untuk menganut satu ideologi atau pemahaman tertentu saja. Biarlah semuanya tumbuh dan hidup sesuai dengan pemahaman masing-masing. Kekerasan bentuk apapun juga jangan sampai terjadi. Apalagi jika melibatkan anak di usai sekolah,” kata Heri.

Di samping itu, lanjut Heri, pemahaman moderat akan membuat seseorang lebih terbuka dengan pendapat dan pilihan orang lain. Dalam konteks serupa misalnya, guru yang moderat tidak akan memaksa peserta didiknya untuk sepaham dengan dirinya.

“Pemahaman nasionalisme dan juga pemahaman moderat menjadi dua hal penting untuk bisa ditanamkan di lingkungan pendidikan. Sehingga peristiwa perundungan terhadap siswi yang tidak memakai kerudung di sekolah tidak akan terjadi lagi jika semua pihak saling bertoleransi dan menghargai satu sama lain,” pungkas Heri.(Advetorial-HS)

Optimistis dengan Peluang Musim Depan

Pemkot Semarang Siap Kembangkan Potensi Sendang Wonodri