in

Kawasan Guci Tak Kunjung Dibenahi, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal Minta Jembatan Pancuran 13 Segera Dibangun

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Agus Solichin. (Foto : dprd-tegalkab.go.id)

 

HALO TEGAL – Kawasan pemandian air panas Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, yang tak kunjung dibenahi pascabencana banjir bandang, mendapat sorotan tajam dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal Agus Solichin.

Bahkan, pancuran 13 yang menjadi daya tarik wisatawan hanya dibiarkan terbengkalai.

Menurut Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal, Agus Solichin, pascabanjir yang merusak sejumlah fasilitas di wisata Guci, baru jembatan penghubung Desa Guci dengan Desa Rembul yang diperbaiki dengan menggunakan jembatan bailey.

Jembatan itu berdekatan dengan Jurug Jedor yang menjadi akses ekonomi, pendidikan dan wisata.

“Jembatan yang di Pancuran 13 belum dibangun. Jembatan baru sebatas jembatan darurat yang dibangun masyarakat dengan menggunakan bambu,” kata dia, seperti dirilis dprd-tegalkab.go.id beberapa waktu lalu.

Ia meminta jembatan di Pancuran 13 segera dibangun. Direncanakan, jembatan dibangun dengan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT).

Diharapkan, anggaran itu segera dibangun jembatan tersebut, mengingat jembatan Pancuran 13 dinilai akses penting untuk mobilitas wisatawan.

Selain itu, pihaknya juga mempertanyakan konsep pengembangan wisata Guci.

“Konsep Guci harus jelas, dengan tetap menjaga kelestarian alam, termasuk, penataan penginapan dan hotel yang mempertimbangkan faktor lingkungan,” tegas Wakil Ketua

Dijelaskan, sejauh ini penataan wilayah di objek wisata Guci belum terapkan.

Banyak hotel dan penginapan yang berdiri di lereng bukit dengan memangkas pohon-pohon.

Hal itu dinilai merusak alam dengan menghilangkan tempat resapan air. Banjir yang terjadi di Sungai Gung wilayah Guci disinyalir akibat banyak hutan yang gundul.

“Eksploitasi alam harus dihentikan, karena bencana tidak memandang siapapun. Semua bisa terkena imbasnya,” tegas Agus Solichin.

Lebih lanjut dikatakan, pengelolaan kawasan wisata Guci diminta lebih profesional.

Penggunaan elektronik tiket (e-tiketing) harus segera dilakukan untuk mengurangi kebocoran retribusi.

E-tiketing juga mempermudah wisatawan luar daerah untuk berkunjung ke Guci.

Ditambahkan, pengelola Guci sejak awal tahun telah menerapkan sistem pembayaran non tunai.

Namun, sejak terjadinya bencana, sistem tersebut belum diberlakukan kembali.

Diharapkan, sistem tersebut kembali diberlakukan untuk mengurangi kebocoran retribusi.

“Pengelolaan di Guci harus lebih profesional dan tetap menjaga kelestarian alam,” kata dia. (HS-08)

 

 

Bupati Kudus Tekankan Pentingnya Mengawal Keberlangsungan UMKM dan PKL

Akselerasi Pasar Eurasia, Kemenperin Pacu Kerja Sama Manufaktur Konkret dengan Belarus