HALO SEMARANG – Nilai Rupiah yang makin melemah hingga Rp16.200 per Dollar Amerika Serikat, mendapat sorotan tajam anggota Komisi XI DPR RI, Marinus Gea.
Dia mendorong agar Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dapat menerapkan belanja negara yang punya prioritas penting.
“Tindakan internal kita saat ini harus berhemat. Jadi hindari pembelanjaan (belanja negara) yang tidak penting,” kata dia, ketika kunjungan kerja reses Komisi XI di Surabaya, Jawa Timur, baru-baru ini.
Menurutnya, pemerintah harus jeli melihat pos anggaran yang perlu dihemat
Legislator Dapil Banten III ini, turut mengomentari soal upaya peningkatan daya beli masyarakat.
Menurutnya, pemerintah perlu turut serta mengendalikan daya beli, agar sinkron dengan strategi penghematan dan penstabilan nilai tukar Rupiah terhadap USD.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 6,25%.
Marinus menilai, upaya menaikkan suku bunga memang tidak mudah. Ia melihat langkah bank sentral itu merupakan upaya jangka pendek dan menengah dalam menghadapi lonjakan nilai tukar USD.
Selain langkah internal, Marinus turut mendorong pemerintah dapat berpartisipasi menggaungkan stabilitas global di forum internasional.
“Sebab faktanya, konflik regional seperti di Timur Tengah akhir-akhir ini, lalu Rusia-Ukraina yang terus berlanjut, memang mempengaruhi,” kata Politisi PDI-Perjuangan ini.
Ia mendorong pemerintah agar dapat menggunakan politik luar negeri, dalam mengampanyekan perdamaian, sebab kondisi saat ini sebaiknya tidak dibiarkan.
“Bukan hanya pemodal dan pengusaha yang terkena dampak. Kurs melemah ada kekhawatiran inflasi tinggi dan ekonomi mengalami pelemahan,” kata dia.
Untuk diketahui, nilai tukar Rupiah dalam beberapa hari ini sudah dalam taraf sangat mengkhawatirkan, karena terus melemah.
Bahkan hingga Rabu (1/5/2024) kemarin mencapai Rp 16.267 per Dollar Amerika Serikat.
Merespon tren anjloknya Rupiah ini, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan menilai kenaikan suku bunga (BI-Rate) Bank Indonesia (BI) merupakan langkah antisipasi yang baik.
“Saya lihat Indonesia masih cukup kuat, stabil, cadangan devisa cukup bagus dan juga BI sudah melakukan antisipasi kenaikan suku bunga kemarin,” ungkap Fathan ketika reses di Semarang, beberapa waktu lalu.
“Indonesia masih cukup kuat, stabil, cadangan devisa cukup bagus dan juga BI sudah melakukan antisipasi kenaikan suku bunga kemarin,” kata dia.
Diketahui Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG), pada 23-24 April 2024 lalu telah memutuskan untuk menaikkan BI-Rate, sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 7,00 persen.
Kenaikan suku bunga ini diupayakan dapat memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya risiko global serta sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025 sejalan dengan stance kebijakan moneter yang pro-stability.
“Saya kira memang ini harus diwaspadai karena kita enggak tahu sampai kapan terjadi perang antara Israel dan Iran. Tapi kita akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan DPR akan terus memantau sehingga kita mencapai tahap yang maksimal,” pungkas Politisi Fraksi PKB itu. (HS-08)