SUASANA Jumat pagi di Kampung Pesantren, Desa Krajankulon, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, tampak berbeda dari biasanya. Di depan sebuah musala, deretan jajanan tradisional tersaji rapi di atas meja panjang. Namun yang membuatnya unik, anak-anak tidak membayar dengan uang—melainkan dengan pecahan genteng atau kreweng.
Dengan wajah ceria, anak-anak itu bergantian “bertransaksi”. Satu kreweng ditukar dengan satu jenis jajanan. Tawa dan riuh suara mereka menghidupkan kegiatan Jumat Berkah yang digelar warga setempat, Jumat (10/4/2026).
Di meja sederhana itu, tersaji beragam makanan: nasi kluban, mi goreng, bubur opor tahu, kolak pisang, hingga agar-agar dan es ijo. Pilihannya beragam, membuat anak-anak bolak-balik mengambil kreweng untuk mencoba jajanan yang berbeda.
“Biar bisa coba macam-macam. Senang banget ada jualan seperti ini,” ujar Arif dan Firman, dua bocah yang tak henti tersenyum.
Kreweng yang digunakan bukan barang langka. Warga sengaja menyediakannya di sekitar lokasi, sehingga anak-anak bisa dengan mudah ikut merasakan pengalaman “berbelanja” yang tak biasa ini.
Di balik keseruan itu, tersimpan makna yang lebih dalam. Tokoh masyarakat setempat, KH Khafiddin Ahmadum, menyebut tradisi ini sebagai salah satu cara sederhana untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan.
“Ungkapan syukur itu bisa bermacam-macam. Lewat jual beli menggunakan kreweng ini, warga bisa bersilaturahmi, dan anak-anak pun senang karena mendapatkan jajanan dengan cara yang kreatif,” tuturnya.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari tasyakuran keluarga salah satu warga yang tengah menanti kelahiran anggota baru. Suud, kerabat yang punya hajat, menjelaskan bahwa tradisi ini sengaja dihadirkan untuk menggabungkan nilai budaya dengan semangat berbagi.
“Ini sekaligus Jumat Berkah dan tasyakuran keluarga. Kami ingin menanamkan kebiasaan berbagi sejak dini, dengan cara yang menarik bagi anak-anak. Cukup pakai kreweng, mereka sudah bisa menikmati jajanan yang praktis, bergizi, dan disukai,” jelasnya.
Lebih dari sekadar permainan, kreweng memiliki filosofi tersendiri dalam budaya Jawa. Pecahan genteng yang berasal dari tanah itu melambangkan bumi—simbol kemakmuran, kesuburan, dan harapan akan rezeki yang melimpah.
“Kreweng ini melambangkan tanah. Harapannya, seperti tanah yang memberi kehidupan, semoga yang punya hajat juga diberikan rezeki yang melimpah,” imbuh Suud.
Di tengah arus modernisasi, tradisi sederhana ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan, syukur, dan kearifan lokal masih hidup, diturunkan dengan cara yang menyenangkan, bahkan lewat pecahan genteng di tangan anak-anak.(HS)