HALO SEMARANG – Kesenian kuda lumping berkembang pesat di Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.
Hampir setiap dusun mempunyai kelompok seni kuda lumping, dengan berbagai nama masing-masing seperti reog, jatilan, kuda lumping dan sebagainya.
Hal inilah yang membuat Ketua DPRD Jateng, Bambang Kusriyanto berinisiatif untuk melestarikannya, sekaligus nguripi (menghidupi) kesenian yang berkembang di Kabupaten Semarang tersebut.
Seperti yang dilakukan di Dusun Topogunung, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, baru-baru ini, dengan menyelenggarakan Dialog Nguri-uri Budaya Khas Kabupaten Semarang dan Pergelaran Kesenian Kuda Lumping untuk masyarakat.
Pergelaran diawali penampilan grup kesenian Sri Ngesti Lestari dengan gending tembang Lir ilir dan lagu campursari Caping Gunung.
Acara dilanjutkan dengan pertunjukan kuda lumping dan diselingi dengan dialog yang menghadirkan anggota DPRD Kabupaten Semarang Hadi Wuriyanto, Kepala Dinas Pariwisata Slamet Widodo, Ketua Kelompok Seni Kuda Lumping Sri Lestari, Pawit dan diikuti secara virtual oleh Ketua DPRD Jateng Bambang Kusriyanto.
Dalam dialog tersebut, Hadi Wuriyanto menyampaikan apresiasi terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan DPRD yang turut melestarikan kesenian kuda lumping di Kabupaten Semarang.
Hal itu karena seni kuda lumping, merupakan peninggalan budaya leluhur yang berkembang di masyarakat turun-temurun sejak masa lampau.
“Apresiasi ini dalam arti bahwa kepedulian ini bagaimana nguri-uri budaya Jawa khususnya seni kuda lumping. Pemerintah Kabupaten Semarang juga sudah sangat peduli, di tahun ini saja ada bantuan hibah kesenian di 1.500 lokasi untuk sejumlah 3.617 kelompok kesenian di Kabupaten Semarang,” kata dia, seperti dirilis dprd.jatengprov.go.id.
Sementara itu Slamet Widodo, menyampaikan eksistensi seni kuda lumping, yang berbasis seni rakyat di Kabupaten Semarang cukup besar.
Hampir setiap dusun ada seni kuda lumping dengan nama yang berbeda beda. Ada yang menyebut reog, kuda lumping, jatilan dan sebagainya.
“Namun pada prinsipnya sebagai seni rakyat yang tumbuh dan berkembang di masyarakat tanpa basic yang ada di keraton. Sehingga perkembangan luarbiasa sesuai dengan keinginaan masing-masing. Tanpa ada pakem yang harus diikuti. Semua seni itu baik, seni kuda lumping dengan berbagai coraknya adalah kekayaan budaya kita,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Kelompok Seni Kuda Lumping Sri Lestari, Pawit menyampaikan kesenian kuda lumping itu menceritakan suasana ketika akan berangkat perang dengan menaiki kuda.
Kemudian dijadikan seni budaya dan terus berkembang mengikuti zaman.
“Anggota kelompok seni Sri Lestari ada 40 anggota. Kami merangkul generasi anak-anak diberi kesempatan untuk belajar dan ikut pentas. Dengan harapan tetap lestari kebudayaan kita,” jelasnya. (HS-08)