HALO REMBANG – Pemkab Rembang terus berupaya mengejar target menurunkan angka stunting, termasuk mencegah munculnya kasus stunting baru.
Wakil Bupati Rembang, Mochammad Hanies Cholil Barro’, mengungkapkan angka stunting di Kabupaten Rembang telah turun signifikan, dari 24,3 persen menjadi 19,5 persen, atau turun 4,8 persen.
Namun penurunan ini belum memenuhi target Pemkab Rembang yang berharap tidak ada kasus stunting baru di Kabupaten Rembang.
“Kita masih mengejar target zero kasus baru stunting. Ini memerlukan pemahaman yang mendalam dari masyarakat, kampanye yang luas dan masif, serta perhatian khusus pada asupan gizi, terutama bagi ibu hamil dan balita,” jelas Hanies, seperti dirilis rembangkab.go.id.
Penanganan stunting menjadi program strategis Pemerintah Pusat, selain mengatasi kemiskinan ekstrem. Berdasarkan tugas dan fungsi mereka, pendamping desa dan lokal desa harus berperan aktif dalam mengatasi masalah ini.
“Terus lakukan dan laksanakan dengan penuh tanggung jawab apa yang menjadi tugas dan fungsi pendamping desa,” kata dia.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Rembang menetapkan penanganan kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting, sebagai prioritas utama dalam penggunaan Dana Desa (DD) tahun 2024.
Total alokasi Dana Desa untuk Kabupaten Rembang tahun ini mencapai Rp. 243.424.874.000 yang bersumber dari APBN, dengan pencairan tahap pertama sudah mencapai 100 persen.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermades) Rembang, Slamet Haryanto, April 2024 silam mengemukakan, bahwa regulasi Pemerintah Pusat mengamanatkan alokasi Dana Desa untuk penanganan kemiskinan ekstrem maksimal 25 persen, sementara program ketahanan pangan setidaknya 20 persen dari total anggaran.
Dana Desa juga dialokasikan untuk program pencegahan dan penurunan stunting di tingkat desa, pengembangan BUMDes serta program pengembangan desa sesuai potensi dan karakteristiknya.
Setiap desa diberi kewenangan untuk menyusun program sendiri dalam pencegahan dan penurunan stunting, sehingga program-program yang dilaksanakan bisa lebih bervariasi.
Slamet Haryanto menjelaskan, program-program tersebut mencakup pemberian makanan tambahan, posyandu, deteksi dini, dan lain-lain yang akan didampingi oleh tenaga kesehatan.
“Untuk pelaksanaan kegiatan itu variasi masing-masing desa. Ada yang untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan), ada untuk posyandu, deteksi dini, dan banyak yang lain. Itu kegiatan yang ada di masing-masing desa, tentunya secara teknis didampingi tenaga kesehatan,” jelasnya. (HS-08)