in

Kebohongan Panen Like dan Fakta Kehabisan Pupuk

Gambar ilustrasi AI.

PERNAH lihat unggahan di media sosial yang bikin geleng-geleng kepala? Seorang pria biasa saja, yang sehari-hari sibuk main di arena judi dadu, tiba-tiba muncul sebagai pakar hukum ulung.

Dia berbicara soal undang-undang dengan percaya diri seolah lulusan Harvard, dan ribuan pengikutnya mengangguk setuju. Atau preman pasar yang tak pernah pegang sarung tinju, tapi videonya soal teknik bela diri viral, lengkap dengan klaim seolah juara Olimpiade.

Pengikutnya langsung percaya, bahkan minta tips lanjutan. Inilah pemandangan biasa di dunia maya, tempat opini bergantung pada emosi dan keyakinan pribadi, bukan fakta dingin yang bisa diverifikasi.

Fenomena ini bukan sekadar guyonan. Di media sosial, kebenaran sering kali kalah dengan cerita yang enak didengar, atau narasinya menyentuh ruang emosi. Sebuah video singkat guru yang menasihati murid bisa berubah jadi drama hiperbola.

Potongannya diedit, ditambah narasi dramatis, lalu disebar. Tiba-tiba, guru itu jadi monster kejam atau pahlawan suci, tergantung siapa yang memutar cerita.

Penjahat sungguhan pun bisa tampil beda. Dengan foto-foto amal palsu dan kata-kata bijak, dia berubah jadi idola. Siapa bilang topeng kebaikan harus mahal? Cukup unggah selfie sambil pegang anak yatim, dan bawa nasi kotak yang seolah sedekah, like mengalir deras.

Di sini, siapa bisa jadi siapa, asal pintar main algoritma.

Lihat saja bagaimana informasi salah menyebar. Psikolog menyebutnya sebagai Efek Kebenaran Ilusi, di mana kebohongan yang diulang-ulang akhirnya terasa benar.

Fenomena ini pertama kali diidentifikasi pada 1977 dalam studi oleh psikolog Lynn Hasher dan rekan-rekannya. Mereka menemukan bahwa orang cenderung percaya pernyataan palsu jika mendengarnya berkali-kali, meski awalnya tahu itu bohong.

Di media sosial, efek ini seperti bensin di api. Sebuah klaim konyol, seperti “minum metanol matikan virus”, diulang di grup-grup, lalu jadi panduan bagi jutaan orang karena videonya viral di media sosial.

Studi dari jurnal Cognitive Research menunjukkan bahwa pengulangan informasi meningkatkan persepsi kebenaran, bahkan untuk berita palsu.

Emosi menang, fakta kalah suara.

Lihat saja bagaimana ahli palsu bermunculan. Bandar judi dadu yang tadi disebut, mungkin besok jadi analis ekonomi.

Dia posting grafik ala kadarnya, tambah opini pribadi, dan pengikutnya langsung repost.

“Ini benar, kan? Udah ribuan like!” begitu logikanya.

Atau preman yang bikin tutorial bela diri. Videonya pendek, musik latar keren, tapi tekniknya salah total. Tapi karena diulang di story dan reel, followers percaya dia atlet kelas dunia.

Di dunia nyata, butuh gelar dan pengalaman; di media sosial, cukup kamera depan dan filter bagus.

Lebih parah lagi saat menyangkut isu serius. Penjahat yang pakai topeng kebaikan, misalnya. Ada kasus di mana koruptor tampil sebagai filantropis di akunnya.

Foto donasi, pidato motivasi, dan tiba-tiba dia pahlawan. Pengikut lupa cek fakta dari berita resmi, karena emosi sudah terpikat.

Tapi bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk. Ia menghubungkan orang, bagikan cerita, tapi sering kali distorsi kebenaran jadi harga yang dibayar.

Video guru tadi? Potongannya bisa bikin karir hancur atau naik daun, tergantung narasi. Hiperbola di sini lucu tapi menyedihkan: satu klip 15 detik menentukan reputasi seumur hidup.

Efek ini juga main di politik. Propaganda yang diulang jadi dogma. Studi dari Farnam Street bilang, itulah kenapa fake news efektif. Di media sosial, opini pribadi jadi fakta kolektif. Keyakinan emosional menang atas bukti. Hasilnya? Masyarakat terpecah, kebenaran jadi barang langka.

Akhirnya, apa solusinya? Mungkin kita perlu lebih skeptis, cek sumber sebelum share. Tapi di era ini, siapa punya waktu? Lebih mudah percaya yang enak di telinga dan dilihat mata.

Jadi, selamat datang di circus ini, di mana kebohongan jadi raja, dan fakta cuma badut pelengkap. Kalau terus begini, besok mungkin marketing judol jadi presiden, asal videonya viral.

Lucu, kan? Tapi bikin mikir juga.(Tulisan ini disempurnakan AI-HS)

Korban Terakhir Mahasiswa KKN yang Hanyut di Sungai Jolinggo Kendal Ditemukan

Bank Jateng Gencarkan Inklusi Keuangan di Pasar Tradisional, Program “Umplung” Permudah Pedagang Menabung!