in

Kapal Induk Hibah dari Italia Tiba di Indonesia, DPR Siapkan Anggaran Pemeliharaan

Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi, yang tiba di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta, belum lama ini. (Foto : utara.jakarta.go.id)

 

HALO SEMARANG – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengatakan Kementerian Pertahanan tengah menyiapkan anggaran untuk pemeliharaan, perbaikan, dan penyesuaian kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi, yang tiba di Dermaga 107, Tanjung Priok, Jakarta, belum lama ini.

Menurutnya, kapal induk hibah dari Italia tersebut belum siap dioperasikan dan masih membutuhkan sejumlah penyesuaian sesuai kebutuhan Indonesia.

“Sedang direncanakan oleh Kementerian Pertahanan. Anggaran pemeliharaan, anggaran perbaikan, kemudian revisi dan lain sebagainya. Sesuai dengan kebutuhan kita,” ujar TB Hasanuddin, baru-baru ini di Semarang.

Ia menjelaskan, Kapal Induk yang telah disesuaikan namanya menjadi KRI Gadjah Mada itu, rencananya dapat dimanfaatkan untuk mendukung penanganan bencana alam, pemadaman kebakaran, hingga rumah sakit lapangan.

Untuk mendukung fungsi tersebut, kapal juga perlu dilengkapi dengan helikopter, sarana pengangkut, dan perangkat pendukung lainnya.

“Kalau terjadi bencana alam, kita perlu rumah sakit lapangan. Sehingga itu juga harus dilengkapi dengan helikopter, pengangkut, dan lain sebagainya,” jelasnya, seperti dirilis dpr.go.id.

Ia mengatakan kelengkapan tersebut diperlukan untuk mendukung pemanfaatan kapal agar dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Sementara dari sisi sumber daya manusia (SDM), TB Hasanuddin menyebut TNI Angkatan Laut telah menyiapkan personel untuk mendukung pengoperasian kapal tersebut.

“Sumber daya manusianya selama ini sudah disiapkan oleh TNI Angkatan Laut,” kata Politisi Fraksi PDI Perjuangan itu.

Kapal ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, pada pukul 07.58 WIB setelah sebelumnya memasuki perairan Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.

Kapal tersebut dikawal KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 saat memasuki wilayah perairan Indonesia.

Sebelumnya, Komisi I DPR RI telah menyetujui penerimaan hibah satu unit kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Pemerintah Italia kepada Kementerian Pertahanan. Dalam persetujuan tersebut, Komisi I menekankan kesiapan doktrin, sumber daya manusia, keberlanjutan anggaran, serta transfer pengetahuan dan teknologi.

Untuk diketahui,

Setelah menempuh perjalanan panjang sejauh 6.870 mil laut selama 25 hari dari Italia, kapal induk ringan ITS Giuseppe Garibaldi resmi tiba dan bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9).

Kedatangan kapal perang legendaris milik Angkatan Laut Italia tersebut menjadi bagian dari proses hibah kepada Pemerintah Indonesia.

Penyambutan dilakukan oleh Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin bersama jajaran terkait. Kapal berjenis Through-deck Aviation Cruiser tersebut sebelumnya memasuki wilayah Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I.

Dalam pelayarannya dari Taranto, Italia, yang dimulai pada akhir Agustus 2026, ITS Giuseppe Garibaldi melintasi sejumlah jalur laut strategis, termasuk Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia.

Kapal juga sempat singgah di Mesir, Arab Saudi, dan Sri Lanka untuk kebutuhan logistik, pengisian bahan bakar (refuelling), serta layanan teknis.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, seperti dirilis media pemerintah, utara.jakarta.go.id mengatakan, kedatangan ITS Giuseppe Garibaldi merupakan momentum penting bagi TNI Angkatan Laut.

Saat ini kapal tersebut masih menggunakan bendera Italia dan direncanakan menjalani proses reflagging atau pergantian bendera menjadi Indonesia pada 24 September 2026.

“Alhamdulillah, kapalnya sudah datang dengan aman dan lancar. Selama perjalanan tidak ada kendala sama sekali dan kondisinya masih cukup baik. Nantinya kapal ini akan menjadi KRI Sriwijaya,” ujar Muhammad Ali.

Ia menjelaskan, dalam perjalanan menuju Indonesia, kapal tersebut mendapat pengawalan dari dua kapal fregat Angkatan Laut Italia hingga mendekati Kolombo, Sri Lanka.

Setelah melakukan stopover untuk pengisian bahan bakar, kapal melanjutkan perjalanan melewati Selat Malaka dengan pengawalan KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi hingga menuju Jakarta.

Dari sisi kemampuan, ITS Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter, lebar 33,4 meter, dan draft 6,7 meter. Kapal menggunakan sistem propulsi Combined Gas Turbine and Gas Turbine (COGAG) yang ditenagai empat turbin gas General Electric/Avio LM2500 dengan kekuatan sekitar 81.000 tenaga kuda.

Kapal tersebut mampu mencapai kecepatan maksimal 30 knot dan memiliki jarak jelajah hingga 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis 20 knot.

Dengan kapasitas flight deck-nya, kapal dapat mengangkut hingga sekitar 10–18 helikopter, tergantung ukuran dan konfigurasi, serta mendukung pengoperasian drone dan membawa hingga sekitar 830 personel gabungan.

Menurut Kasal, pemanfaatan kapal nantinya akan difokuskan terutama untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya dalam penanganan bencana alam dan bantuan kemanusiaan.

Kemampuan membawa sejumlah helikopter dinilai menjadi salah satu keunggulan utama untuk menjangkau wilayah terdampak yang sulit diakses melalui jalur darat. “Negara kita ini banyak bencana alam, jadi kita sangat membutuhkan kapal atau platform yang bisa membawa banyak helikopter. Dengan helikopter, logistik bisa didrop dengan cepat ke seluruh area, termasuk daerah-daerah terpencil,” jelasnya.

Meski diprioritaskan untuk OMSP, kapal tersebut tetap dapat digunakan dalam kepentingan operasi militer untuk perang.

Sebelum dioperasikan secara penuh, sejumlah penyesuaian akan dilakukan agar kapal sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Laut dan kondisi perairan Indonesia.

“Sebenarnya kapal ini sudah siap berlayar saat ini, tanpa retrofit pun. Namun, kebutuhan Angkatan Laut Italia tentu berbeda dengan kebutuhan kita. Jadi akan kita sesuaikan dengan kepentingan Angkatan Laut Indonesia, termasuk dengan situasi di laut tropis,” katanya.

Muhammad Ali menambahkan, sekitar 100 personel tambahan nantinya akan bergabung untuk memperkuat unsur awak kapal.

“Mereka akan menjalani proses pembelajaran dan pelatihan dalam mengoperasikan kapal tersebut, mengingat pengawakan kapal induk menjadi pengalaman baru bagi TNI Angkatan Laut,” tambahnya.

Untuk tahap awal, kapal direncanakan masuk dalam satuan kapal bantu. Penempatan satuan secara lebih definitif akan ditentukan kemudian sesuai kebutuhan organisasi dan operasional TNI Angkatan Laut.

Kehadiran ITS Giuseppe Garibaldi yang selanjutnya diproyeksikan menjadi KRI Sriwijaya menandai langkah baru dalam penguatan kemampuan TNI Angkatan Laut.

Dengan kemampuan membawa helikopter dan personel dalam jumlah besar, kapal ini diproyeksikan menjadi salah satu platform pendukung dalam respons bencana, bantuan kemanusiaan, sekaligus memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi tantangan keamanan dan dinamika di wilayah maritim. (HS-08)

 

 

Mestinya Bebas, 5.000 Orang Overstay di Lapas, Legislator Singgung Perlindungan HAM

Jakarta Tuan Rumah MTQ Nasional 2027, Bertepatan HUT ke-500 Ibu Kota