in

Jateng Jadi Primadona Investasi, Kemudahan Perizinan hingga Biaya Hidup Jadi Sorotan

Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi Saribua Siahaan saat bertemu Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi di Semarang, Selasa, 18 Agustus 2026.

HALO SEMARANG – Jawa Tengah dinilai menjadi salah satu daerah yang paling menarik bagi investor, terutama untuk sektor manufaktur dan industri padat karya. Dukungan pemerintah daerah, infrastruktur, kemudahan perizinan, kondisi wilayah yang kondusif, hingga biaya hidup yang kompetitif menjadi sejumlah faktor yang membuat Jawa Tengah semakin dilirik.

Hal itu disampaikan Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Saribua Siahaan, saat bertemu Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Semarang, Selasa (18/8/2026).

Pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penilaian lapangan yang dilakukan Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Jawa Tengah.

Saribua mengatakan, Jawa Tengah memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya relatif mudah ditawarkan kepada calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Jawa Tengah ini primadona. Selain infrastrukturnya bagus, sistem pemerintahan daerah dan perizinannya juga bagus. Living cost-nya kompetitif sehingga menjadi daya tarik investor untuk memilih Jawa Tengah sebagai tujuan investasi,” ujarnya.

Menurut Saribua, persoalan lahan dan perizinan menjadi dua indikator penting yang biasanya dipertimbangkan investor sebelum menentukan lokasi penanaman modal.

Karena itu, kemudahan perizinan yang didukung kolaborasi antara Pemprov Jawa Tengah melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi menjadi salah satu keunggulan yang perlu terus dipertahankan.

“Pengalaman saya sendiri ketika menawarkan potensi investasi, investor yang memilih Jawa Tengah itu tidak hanya satu atau dua. Yang jelas, Jawa Tengah itu primadona yang dilirik banyak investor,” katanya.

Ia menilai karakteristik Jawa Tengah juga sesuai dengan kebutuhan investasi sektor manufaktur yang membutuhkan banyak tenaga kerja.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemerintah provinsi terus berupaya menciptakan iklim investasi yang sehat sekaligus menjaga kondusivitas wilayah.

Menurutnya, kepastian keamanan, kemudahan perizinan, regulasi, pembangunan infrastruktur, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan investor.

“Menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif memang menjadi tanggung jawab kita semua. Investasi ini penting untuk perkembangan wilayah, mereduksi angka kemiskinan dan pengangguran,” ujar Luthfi.

Upaya tersebut tercermin dari realisasi investasi Jawa Tengah yang terus menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah tercatat sekitar Rp110 triliun.

Sementara itu, hingga semester I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp59,94 triliun. Angka tersebut terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun, penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp22,62 triliun, serta usaha mikro dan kecil (UMK) Rp11,40 triliun.

Realisasi investasi tersebut juga telah menyerap sekitar 213 ribu tenaga kerja.

Menurut Luthfi, investasi memiliki posisi strategis karena pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).

“Dalam membangun wilayah, kita tidak bisa mengandalkan APBD saja, maka investasi menjadi salah satu sumber daya. Untuk itu kami terus tawarkan potensi investasi di Jawa Tengah kepada banyak calon investor,” katanya.

Luthfi menambahkan, peningkatan investasi diharapkan berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan serta pengangguran.

Pada semester I 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,80 persen. Sementara angka kemiskinan per Maret 2026 turun dari 9,48 persen menjadi 9,21 persen.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah per Februari 2026 juga tercatat 4,24 persen, turun dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di angka 4,33 persen.

“Investasi bukan sekadar mengejar angka realisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana investasi tersebut memberikan dampak terhadap perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan pada akhirnya ikut menekan kemiskinan serta pengangguran,” ujar Luthfi.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, Pemprov Jateng kini terus memperkuat promosi investasi sekaligus memastikan kesiapan kawasan industri, infrastruktur, tenaga kerja, dan pelayanan perizinan agar investor yang masuk tidak hanya tertarik menanamkan modal, tetapi juga dapat berkembang dalam jangka panjang.(HS)

DPRD Kendal Bahas Raperda Tempat Hiburan, MES Dorong Zonasi Religi hingga Konservasi

Infrastruktur Digenjot, Jateng Perkuat Konektivitas dan Penggerak Ekonomi