in

Inilah Alasan Operasional Bandara Harus Berhenti sewaktu Abu Vulkanik Menyebar

Ilustrasi Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Foto : hubud.kemenhub.go.id)

 

HALO SEMARANG – Erupsi menerus Gunung Api Anak Krakatau yang telah berlangsung sejak 5 September lalu, berdampak pada transportasi penerbangan, akibat sebaran abu vulkanik ke lima provinsi.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Akibatnya, Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) dan bandara lainnya ditutup karena abu vulkanik ini.

“Berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu,” ujar Lana dalam konferensi pers secara daring, Minggu (6/9).

Lalu mengapa operasional penerbangan harus berhenti ?

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, seperti dirilis bmkg.go.id secara singkat mengatakan bahwa abu vulkanik tersebut dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Sementara itu Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, melalui laman resmi hubud.kemenhub.go.id, menyebutkan abu vulkanik, bukan hanya dapat mengganggu mesin pesawat, melainkan juga dapat merusak komponen.

Abu vulkanik yang terdiri atas partikel kecil, seperti batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan ukuran sangat halus itu masuk ke mesin pesawat, dapat menyebabkan penurunan performa, bahkan menimbulkan kerusakan serius.

Tak hanya pada mesin, abu vulkanik juga dapat merusak sistem elektronik, menyebabkan korsleting dan gangguan pada sistem navigasi, komunikasi, serta instrumen penerbangan.

Abu vulkanik juga menyebabkan jarak pandang pilot berkurang, hingga membahayakan saat take off, landing, maupun di udara.

Tak cukup sampai di situ, penumpukan abu vulkanik pada permukaan sayap, juga dapat mengganggu kinerja bagian itu.

Hal itu bukan hanya mengganggu aliran udara (aerodinamika), melainkan juga . memengaruhi stabilitas dan kendali pesawat.

Bisa dibayangkan jika mesin rusak, sistem elektronik korslet, jarak pandang berkurang, dan kinerja sayap terganggu saat “burung besi” yang beratnya bisa lebih dari 500 ton itu mengudara ?

Adapun ciri-ciri abu-abu vulkanik adalah berwarna abu-abu hingga kehitaman, terdiri atas partikel sangat halus berukuran kurang dari  2 mm, dapat berada di ketinggian ribuan hingga puluhan ribu kaki di atmosfer, mudah terbawa angin dan menyebar luas.

Ke Barat

Sementara itu, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa BMKG telah menerbitkan sebanyak 39 dokumen Significant Meteorological Information (Sigmet) sejak erupsi pertama terjadi pada 4 September 2026.

Sigmet terbaru (7 September 2026 pukul 06.30–09.30 WIB) mencatat sebaran abu vulkanik teramati pada ketinggian hingga 15.000 kaki (4,57 km), bergerak ke arah barat dengan kecepatan 15 knot dan intensitas yang konsisten.

“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ujar Andri.

Berdasarkan hasil monitoring, pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian hingga 15.000 kaki (4,57 km), abu vulkanik meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu, serta perairan sekitarnya dan Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut. Sementara pada lapisan dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki (15,24 km), abu vulkanik teramati lebih jauh di Samudra Hindia sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten—serta menjauhi wilayah Indonesia.

Sebaran abu vulkanik di udara berdampak langsung dan mengganggu keselamatan penerbangan. Hasil pengujian paper test pada pukul 07.00 WIB mengonfirmasi indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara.

Merespons kondisi tersebut, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia) menerbitkan Notice to Airmen (Notam) hingga pukul 08.30 WIB yang menginstruksikan otoritas untuk menutup sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.

Kebijakan penutupan operasional sementara ini memengaruhi delapan bandara di wilayah Sumatra dan Jawa, yaitu Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang), Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta), Bandara Radin Inten II (Lampung), dan Bandara Husein Sastranegara (Bandung). Selain itu, otoritas juga menghentikan sementara aktivitas penerbangan di Bandara Budiarto (Curug), Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan), Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (Pesisir Barat, Lampung), serta Bandara Atungbusu (Sumatra Selatan).

“Hasil paper test tersebut menjadi verifikasi lapangan yang melengkapi hasil pemantauan sebaran abu vulkanik melalui citra satelit dan informasi meteorologi penerbangan, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai wilayah yang terdampak,” ujarnya.

Di sisi lain, BMKG memastikan jalur penyeberangan Selat Sunda berada dalam kondisi aman. BMKG mengoperasikan HF Radar Array berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung dengan mengaktifkan mode pemantauan tsunami (tsunami mode). Data HF Radar per 7 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas terjadinya tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah (di bawah 50 persen). (HS-08)

 

 

Abu Vulknaik Tersebar, BMKG : Penutupan Bandara Demi Keselamatan Penerbangan