in

Giant Sea Wall di Pantura Lindungi 50 Juta Penduduk Pantura Jawa

 

HALO SEMARANG  – Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa, dapat menjadi jawaban, atas fenomena kenaikan permukaan laut dan hilangnya  tanah.

Tembok raksasa ini, sekaligus menjadi jawaban atas kualitas hidup sebagian rakyat Indonesia yang masih mengenaskan.

Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, saat menyampaikan keynote speech, dalam Seminar Nasional: Strategi Perlindungan Kawasan Pulau Jawa, Melalui Pembangunan Tanggul Pantai Dan Tanggul Laut (Giant Sea Wall), Rabu (10/1/2024).

Lebih lanjut, Menhan Prabowo juga berterima kasih atas seluruh kajian pembangunan Giant Sea Wall, yang terus berlanjut.

Dia juga menyampaikan telah menugaskan Universitas Pertahanan, untuk melakukan kajian lebih lanjut, atas berbagai hal yang bisa dilakukan, terkait gagasan besar pembangunan Giant Sea Wall.

“Saya ingin ini menjadi pembicaraan, topik diskusi kalangan akademisi, kalangan pengusaha, kalangan teknokrat, engineers-engineers Indonesia, mengajak melakukan pendalaman terhadap masalah ini,” kata Prabowo, seperti dirilis ekon.go.id.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada Menko Perekonomian, beserta seluruh jajaran serta kementerian / lembaga lainnya, yang telah terlibat dalam penyelenggaraan seminar nasional tersebut.

Sementara itu, mengacu pada capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada Q3-2023 lalu, secara spasial seluruh wilayah Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang positif dan mampu menunjukkan resiliensi.

Pulau Jawa menjadi salah satu kontributor terbesar dalam PDB Nasional tersebut dengan share mencapai sebesar 57,12%.

Angka tersebut sekaligus memperlihatkan Pulau Jawa sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi secara spasial.

Di samping keunggulan tersebut, Pulau Jawa juga masih harus menghadapi sejumlah tantangan daya dukung dan daya tampung seperti ancaman erosi, abrasi, banjir, penurunan permukaan tanah (land subsidence) di sepanjang daerah Pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa yang terpantau bervariasi antara 1-25 cm/tahun, serta kenaikan permukaan air laut sebesar 1-15 cm/tahun di beberapa lokasi.

“Studi JICA pertumbuhan di kawasan Pantura 20% dari GDP Indonesia dengan kegiatan industri, perikanan, transportasi, dan pariwisata. Jumlah penduduk di Pantura itu 50 juta, jadi yang terdampak 50 juta orang. Nah, tentu tidak hanya membahayakan kelangsungan ekonomi dan infrastruktur tetapi juga kelangsungan hidup masyarakat,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, saat menyampaikan opening speech.

Beragam ancaman yang mengintai kawasan Pantura Jawa tentu akan mempengaruhi keberlangsungan aktivitas ekonomi dan meningkatkan potensi bencana bagi jutaan penduduk yang berdiam di daerah tersebut.

Selain itu, fenomena degradasi di Pantura Jawa yang tidak tertangani diperkirakan juga akan mengancam keberadaan dari 70 Kawasan Industri, 5 Kawasan Ekonomi Khusus, 28 Kawasan Peruntukan Industri, 5 Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri, serta berbagai infrastruktur logistik nasional seperti bandara, jalur kereta api, hingga pelabuhan.

“Dengan seminar ini mudah-mudahan bisa di kick-off supaya ini skalanya bisa kita perbesar dan lebih masif lagi dan ini program yang sifatnya transformatif,” kata Menko Airlangga.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut di antaranya yakni Anggota DPR RI, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agraria dan Tata Ruang Hadi Tjahjanto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI Jonni Mahroza, Peneliti BRIN Dwi Sarah, Witteveen Bos Indonesia Victor Coenen, Tim Asistensi Menko Perekonomian Raden Pardede, Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Pj Gubernur Banten Al Muktabar, sejumlah pejabat Eselon I serta Eselon II Kementerian/Lembaga, beserta kepala daerah di sepanjang pantura Pulau Jawa. (HS-08)

Kemenag Minta Pengawas Madrasah di Era Modern Tidak Hanya Memantau dan Mengawasi

Prakiraan Cuaca Semarang dan Sekitarnya, Kamis (11/1/2024)