Kegiatan FGD dihadiri Baberlitbang, Dinperindagkop dan UMKM, Dindikpora, Disarpus, Dewan Kesenian, ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara, camat dan kepala desa di Klampok, pelaku usaha keramik Klampok dan budayawan Banjarnegara.
Yelly Harmoko, Kabid Kebudayaan Disparbud Banjarnegara menyampaikan, salah satu tujuan FGD untuk menyerap informasi terkait keberadaan keramik Klampok dan Batik Gumelem Susukan.
”Kami menginisiasi dan fokus melakukan pendaftaran Keramik Klampok sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) karena khawatir, keramik kita diakui oleh pihak lain,” ungkapnya.
Karena, lanjut Yelly, sudah banyak literatur atau catatan – catatan historis yang dapat menguatkan jika keramik Klampok merupakan bagian identitas Banjarnegara.
“Ya tentu harus diuji secara akademis. Ini yang sedang kami lakukan,” ujarnya usai melakukan FGD.
Langkah yang dilakukan Disparbud, sambung Yelli, memiliki tujuan jangka panjang yakni melestarikan keramik Klampok serta meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil produksi yang pada akhirnya mewujudkan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana dan Wakhid Jumali yakni Banjarnegara Maju dan Sejahtera.
”Jika identitas sudah kita dapatkan, maka dinas terkait harus ikut terlibat bagimana melestarikan keramik Klampok sebagai identitas Banjarnegara,” tandasnya.
Sementara itu Iman Ahmad Ihsanudin, selaku Direktur Quality Control dan Personalia Ruang Consultan Indonesia (RCI) selaku konsultan dalam kegiatan kajian keramik Klampok sebagai Warisan Budaya Takbenda menyebut, bahwa banyak literatur pendukung yang dapat diadopsi guna menguatkan jika keramik Klampok asli milik Banjarnegara.
Sebagai catatan, RCI yang berkantor di Wonosobo Jawa Tengah merupakan lembaga konsultan yang fokus memberikan pelayanan secara akademik demi terwujudnya good governance dari pusat hingga daerah.
“Kami menyampaikan terimakasih atas masukan dan usulan dari berbagai pihak terkait dengan keberadaan atau sejarah keramik Klampok. Informasi dan masukan dari peserta FGD akan kami jadikan bahan melengkapi untuk menyempurnakan kajian – kajian kami,” ujar Ihsanudin.
Sedangkan Ketua TACB Banjarnegara, Heni Purwono menyampaikan, jika pihaknya sedang mengkaji dan mengajukan penetapan cagar budaya untuk daerah Purwareja, Klampok dan Gumelem.
Ia juga menyampaikan sebuah referensi terkait keramik Klampok, ternyata sangat terkait dengan andil besar Soemitro Kolopaking, Bupati pertama Banjarnegara.
”Ditemukan di otobiografinya, beliau termasuk perintis keramik di Banjarnegara. Mungkin ini bisa menjadi tambahan narasi,” jelas Heni.
Dirinya juga menegaskan, Soemitro Kolopaking juga melakukan kajian dengan memeriksakan tanah liat ke Bandung dan meminta penjelasan lengkap tentang kemungkinan kemanfaatannya. Lalu didirikanlah pabrik kecil untuk membuat keramik.
”Bahkan, waktu itu Soemitro menemukan cara, agar keramik lebih indah dan mengkilap. Yakni dengan mencampur bubuk batu batere untuk menghaluskan permukaan tanah,” ungkap Heni yang merasa takjub terhadap Soemitro Kolopaking, dan berharap dapat menjadi tambahan informasi terkait tim pengkaji Keramik Klampok, Banjarnegara. (HS-06)