IKON Landmark Lapangan Pancasila di Bundaran Taman Simpanglima Semarang, yang diresmikan Walikota Semarang Hendrar Prihadi pada April lalu, kini terlihat lebih asri dan cantik. Kawasan Taman Simpanglima yang berada di pusat Kota Semarang ini menjadi salah satu jujugan favorit wisatawan saat traveling.
Ikon Lapangan Pancasila, Taman Simpanglima tersebut selama ini sebagai sebuah eksistensi pelancong agar mudah dikenali saat berwisata atau telah menyambangi Kota Semarang. Selain tentunya juga ada penanda tempat ikonik Kota Semarang lainnya seperti gedung heritage, Lawang Sewu dan Tugu Muda.
Pembangunan ikon atau landmark di tengah kota ini agak terlambat, karena sempat mengalami dua kali perubahan desain. Perubahan desain dari sebelumnya, yakni pada tulisan landmarknya yang dinilai berlenggak-lenggok, dan ada gambar wayang gunungan. Hal ini dianggap justru nantinya tidak akan mudah dikenali sehingga kurang simpel.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Ali mengatakan pembangunan ikon di Simpanglima sempat mengalami keterlambatan penyelesaian dikarenakan masalah Detail Engineering Design (DED)-nya. Padahal sebelumnya pembangunannya tinggal meresmikan saja. Namun karena ada perubahan desain, maka harus dilakukan pengerjaan lagi sesuai dengan harapan.
“Harapan Pak Wali, nanti tulisannya sederhana saja. Ada tulisan Lapangan Pancasila dan Simpanglimanya,” katanya, belum lama ini.
Ali menambahkan, meski perubahan desain diubah menjadi lebih sederhana, namun ikon landmark tersebut nampak estetik. Sehingga landmark ini mudah dikenali ketika wisatawan berada di Kawasan Simpanglima.
Dari gambar desain yang ada, kata Ali, landmark tersebut disediakan tempat duduk di bawahnya. Serta juga akan ditambah tanaman untuk penghijauan. “Taman dikonsep agar asri dan nyaman saat dikunjungi,” kata Ali.
Salah satu, wisatawan Winarto (41) mengatakan, Simpanglima Semarang dibuat makin indah dan nyaman untuk masyarakat. Hal ini terlihat dari pembangunan untuk ruang publik, seperti landmark taman ini yang cukup bagus.
“Jadi selain menjadi ikon kota yang asri saat berada di Semarang juga lebih mengetahui sejarahnya dulu. Sehingga betah berlama-lama duduk dan bersantai menghabiskan waktu berlibur di sini, “ujarnya.
Dirinya berharap, pembangunan landmark tidak hanya di pusat kota saja, tapi ditempat-tempat yang bernilai sejarah lainnya.
Seperti diketahui sejarah Lapangan Pancasila sendiri, merupakan pemindahan alun-alun kota yang belumnya berada di Kawasan Johar, yang sekarang menjadi Alun-alun Semarang. Sedangkan nama Lapangan Pancasila ini, dinamakan oleh Presiden pertama RI Soekarno saat berkunjung ke Kota Semarang.
Sementara itu, sebelumnya Sejarahwan Kota Semarang, Tri Subekso bertutur, penamaan Lapangan Pancasila tak lepas dari keberadaan kawasan saat itu. Selain ada Masjid Baiturrahman, semula pada kawasan tersebut juga berdiri Gelanggang Olah Raga (GOR) Semarang dan Wisma Pancasila.
Bangunan GOR dan Wisma Pancasila ini dibongkar dan kemudian dibangun pertokoan bertingkat serta hotel. Meskipun belum diketahui sejak kapan pembangunan dimulai, namun sejak dulu Simpang Lima sudah dinamai sebagai Lapangan Pancasila.
”Penamaan ruang publik ini tentu berhubungan dengan keberadaan Wisma Pancasila saat itu. Konfigurasi jalan, yang menjadi pertemuan lima jalan membuat khalayak umum khususnya di luar Semarang, justru lebih mengenal dengan penyebutan lapangan Simpang Lima,” kata pria yang juga Arkeolog Semarang ini. (HS)