in

Dari Gang Sunan Kuning ke Media Sosial: Perubahan Zaman yang Sangat Visioner

Gambar ilustrasi AI.

DULU di Kota Semarang, jika ada orang bilang mau ke Sunan Kuning, semua langsung paham kode: malam minggu, dompet tebal, pulang bau parfum murah.

Lokasi resmi, terang-terangan, ada pos polisi di dekatnya, pajak masuk kota tercatat rapi. Semua teratur, semua terkontrol.

Lalu tahun 2019 Pemkot Semarang menutup lokalisasi itu dengan alasan moral dan pembangunan kawasan. Hasilnya? Prostitusi nggak hilang, cuma pindah alamat dan naik kelas jadi “usaha kecil menengah berbasis aplikasi”.

Sekarang, coba buka grup-grup media sosial, banyak sekali unggahan yang menawarkan foto wanita seksi dan cantik, dengan keterangan “Open BO”, “Panda Lokal”, atau “Serasa Pacar Sendiri”. Kalau kamu melirik captionnya, di situ juga ada keterangan nomor telepon atau nomor WA. “500 full servis, include kamar.” Efisien sekali.

Yang lebih lucu, tak hanya di media sosial, bisnis ini sudah merambah tempat yang tadinya tempat hiburan untuk keluarga. Nama tempatnya pun kreatif: “xxx Spa Sehat”, “xxx Reflexy”, “xxx Karaeke Keluarga”, dan semacamnya.

Kata “keluarga” di situ ternyata cuma formalitas, kayak tulisan “dilarang merokok” di halte BRT yang semua orang tahu itu tak mungkin. Mungkin juga untuk mengelabuhi perizinan.

Dulu bawa anak istri ke tempat karaoke keluarga untuk nyanyi “Bintang Kecil”, sekarang masuk ruangan VIP langsung disambut LC (pemandu karaoke) yang bisa nyanyi lagu dangdut sambil pegang mic di tempat yang salah.

Pemkot Semarang sendiri sepertinya sedang main petak umpet level dewa. Tiap razia, tempat-tempat tak resmi yang biasa digunakan sebagai tempat prostitusi terselubung, tiba-tiba bersih dari jejak dan barang bukti. Tak ada aktivitas mencurigakan, tak ada minuman beralkohol, tak ada “showing” cewek-cewek seksi, meski besoknya balik lagi.

Kembali ke dunia maya, yang paling jenius adalah strategi pemasarannya. Mereka sudah go digital. Di FB misalnya, ada akun-akun “info loker” yang kalau dibuka isinya banyak unggahan foto wanita cantik dengan keterangan: “Cantik, montok, putih, tinggi, chat dulu 08xxxx.”

Komentar di bawahnya langsung ramai: “Harlok??” (harga dan lokasi maksudnya), “Berapa?”, atau “Bisa QRIS?”.

Satpol PP baca mungkin cuma geleng-geleng sambil mikir, “Ini lowongan kerja apa lowongan sih?”

Lucunya lagi, sekarang malah muncul jargon baru: “Dulu Sunan Kuning satu tempat, sekarang semua wilayah jadi kode penting.”

“Semarang Selatan, STW”, “Area Tembalang, Putih”, “Sembar, no 08xxx”, “Gunungpati, Serasa Pacar Sendiri”, “Semut, Panda Lokal”, atau semacamnya. Tentunya dengan tambahan pemanis foto wanita cantik yang entah itu unduhan dari mana.

Bener juga. Dulu cukup beberapa gang, sekarang seluruh kota jadi gang. Demokrasi sekali, kan? Semua wilayah kebagian rezeki.

Tapi di balik candaan ini, ada yang pahit. Perempuan-perempuan yang dulu punya “rumah” di Sunan Kuning, sekarang terpaksa kerja di tempat yang nggak aman, tanpa pemeriksaan kesehatan rutin, tanpa perlindungan hukum. Mungkin mereka ingin memangkas jalur distribusi, tanpa peran germo maksudnya.

Dan pada akhirnya, kota ini berhasil mengganti plang “Sunan Kuning” jadi ratusan plang kecil lain. Lebih rapi, lebih modern, lebih… Semarang banget.

Kota yang berhasil menutup lokalisasi, tapi membiarkan praktik yang sama menyebar ke gang-gang kecil, ke panti pijat, ke kamar karaoke berkedok keluarga, dan ke kamar kos.

Kalau nanti ada pejabat bilang, “Kami sedang berupaya menertibkan,” percaya saja separuh. Separuh lagi, kita mencoba menebak apakah di ponsel pejabat tersebut ada aplikasi MiCh*t atau tidak.(Tulisan Ini Disempurnakan oleh AI-HS)

Kader PKK Jateng Melaju ke Final Lomba Masak Serba Ikan Nasional, Nawal Yasin : Enak, Bisa untuk Cegah Stunting

Audit Bangunan Pondok Pesantren di Jateng, Kementerian PU: Baru Enam Persen Memenuhi Kaedah Struktur